Arah Kebijakan China 2026 dan Implikasinya terhadap Strategi Investasi Saham di Indonesia
- Nesya Rahman
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Memasuki rencana lima tahun ke depan (2026ā2030), China mengarahkan pembangunan ke fase yang lebih berorientasi kualitas, yaitu memperkuat sistem industri modern yang lebih produktif, mendorong manufaktur bernilai tambah yang semakin cerdas dan ramah lingkungan, serta menjadikan sainsāteknologi sebagai pengungkit utama pertumbuhan. Transformasi ini juga dipandang membuka ruang kerja sama internasional, terutama pada rantai industri yang tengah berkembang seperti tenaga surya, baterai, dan kendaraan listrik.
Pada 2026 sebagai tahun awal periode tersebut, kebijakan ekonomi China diperkirakan masih berfokus pada stabilisasi pertumbuhan untuk mengurangi tekanan deflasi. Target pertumbuhan sekitar 5% diproyeksikan menjadi acuan dengan dukungan stimulus fiskal, peluang pelonggaran moneter, serta kebijakan yang mendorong konsumsi seperti insentif trade-in dan pembiayaan pemerintah di awal tahun. Namun, peralihan menuju ekonomi yang digerakkan konsumsi akan berjalan bertahap karena masih adanya tantangan struktural seperti lemahnya permintaan rumah tangga, penyesuaian sektor properti, dan kelebihan kapasitas di beberapa industri.

Outlook Ekonomi China 2026ā2030
Bagi Indonesia, dampak paling cepat biasanya muncul lewat perdagangan dan komoditas, mengingat keterkaitan ekspor dengan China sangat besar. Data WITS/World Bank menunjukkan China merupakan mitra utama dengan partner share sekitar 25,09%. Dari sisi komposisi, arus ekspor Indonesia ke China banyak ditopang oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel yang berarti perubahan siklus industri dan investasi China dapat tercermin cepat pada permintaan input industri dan pergerakan harga komoditas.
Di pasar modal Indonesia, sektor yang paling terkait adalah barang baku (basic materials) dan sebagian sektor energi yang sensitif terhadap permintaan Asia. Selain itu, peningkatan aktivitas produksi dan perdagangan biasanya turut mendorong sektor Industrials serta logistik dan transportasi, seiring meningkatnya volume pengiriman dan aktivitas pelabuhan.
Sektor lain yang terikat selama 2026ā2030 adalah transisi energi dan penguatan jaringan listrik. China mendorong investasi pada jaringan listrik agar mampu menyerap energi baru dengan target sekitar 30% listrik berasal dari energi terbarukan pada 2030. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan material kelistrikan seperti kabel dan konduktor serta membuka peluang bagi emiten Indonesia di sektor energi bersih dan utilitas. Meski demikian, dampaknya sangat bergantung pada realisasi proyek dan harga komoditas global.
Walaupun peluangnya besar, risiko volatilitas tetap ada. Tekanan harga dan ketidakseimbangan permintaan dapat membuat stimulus berlanjut lebih lama, sementara percepatan investasi berisiko menimbulkan kelebihan kapasitas. Oleh karena itu, pendekatan yang paling realistis adalah menjadikan rencana lima tahun China sebagai peta sektor, dengan memantau indikator industri, arah stimulus, dan kebijakan energi, lalu memilih emiten di Bursa Efek Indonesia yang terkait sektor material dan mineral, logistik dan industri, serta elektrifikasi dan energi bersih.
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar