Menyesuaikan Strategi DCA di Tengah Koreksi Pasar
- 31 Mar
- 3 menit membaca
Diperbarui: 1 Apr
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menghadapi koreksi tajam selama kuartal pertama 2026. Per 31 Maret, IHSG anjlok lebih dari 20% dari all-time-high. Tekanan ini terutama disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal: eskalasi konflik geopolitik (Timur Tengah) yang picu sentimen risk-off global, kebijakan proteksionis serta ketidakpastian suku bunga AS, serta reformasi pasar modal Indonesia oleh regulator yang kini masih berjalan. Kinerja IHSG mencerminkan pelemahan global yang direspons oleh arus keluar modal asing.
Meski demikian, investor ritel jangka menengah hingga panjang (ā„3ā5 tahun) didorong untuk tetap tenang dan memanfaatkan strategi investasi disiplin, seperti Dollar Cost Averaging (DCA). Koreksi pasar sendiri sejatinya adalah fase rutin dari siklus pasar saham dan berfungsi sebagai ānetralisanā valuasi saham yang mungkin sudah terlalu tinggi.
Lantas, bagaimana cara menyesuaikan strategi DCA saat IHSG masih bergejolak dalam beberapa waktu mendatang? Kapan harus tetap rutin berinvestasi, menambah modal, atau justru menunda sementara?
Kondisi Pasar Saat Ini
Kekhawatiran global membawa investor ke aset-aset yang lebih aman seperti emas atau dolar sehingga mengurangi eksposur saham negara berkembang termasuk Indonesia. Pasar Indonesia sangat terhubung dengan arus modal globalāsaat risiko naik, modal asing cenderung ditarik. Proses reformasi pasar modal yang masih berlangsung juga memicu aksi jual saham oleh investor lokal. Tekanan tambahan datang dari penurunan outlook kredit dari lembaga pemeringkat serta suku bunga yang ditahan lebih lama.
Dampaknya, volatilitas IHSG tetap tinggi dengan potensi rebound jangka pendek bergantung pada stabilitas geopolitik dan dukungan kebijakan moneter. Oleh karena itu, investor sebaiknya fokus investasi jangka panjang dan memperkuat manajemen risiko dengan melakukan diversifikasi dan memilih saham-saham berfundamental kuat.
Opsi DCA: Risiko versus Keuntungan

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi bertahap dengan jumlah dana tetap setiap periode tanpa terlalu memperhatikan naik turunnya harga. Teknik ini mengurangi risiko market timing karena saat harga rendah, investor membeli lebih banyak unit dan sebaliknya saat harga tinggi, investor membeli lebih sedikit unit. Biaya rata-rata pembelian turun (averaging down) dan dampak fluktuasi pasar jangka pendek dapat dimitigasi.
DCA pada dasarnya adalah strategi pasif, tetapi investor sering kali menghadapi tantangan ketika pasar turun tajam. Dengan mempertimbangkan ukuran alokasi, pemilihan aset, laju penempatan dana, hingga tinjauan portofolio (kebutuhan rebalancing), terdapat tiga opsi umum yang bisa investor ambil.
Konsisten: Pertahankan disiplin investasi rutin untuk menghindari kesalahan timing. Investor terus membeli meski harga turun sehingga memperoleh unit lebih banyak dengan harga murah. Opsi ini sederhana dan relatif aman psikologis, tetapi potensi cuan tidak sebesar kalau memang bisa menambah porsi beli.
Agresif: Gunakan momentum koreksi harga dengan menambah modal, potensi imbal hasil lebih besar setelah rebound karena rata-rata harga beli jauh lebih rendah. Akan tetapi, cara ini membutuhkan cadangan dana lebih besar dan meningkatkan risiko volatilitas. Jika penurunan berlanjut, penyesuaian terlalu cepat bisa meningkatkan kerugian dalam jangka pendek.
Jeda Sementara: Tunda sebagian atau seluruh investasi saat pasar turun untuk mengurangi eksposur jangka pendek sekaligus menjaga likuiditas, dilatarbelakangi kekhawatiran pasar atau kebutuhan kas. Investor kehilangan peluang akumulasi saham pada harga murah dan ketika rebound, hasilnya jauh di bawah skenario agresif maupun konsisten karena membeli lebih sedikit unit.
Alur Keputusan Investor
Jika tujuan jangka panjang (ā„5 tahun) dan profil risiko konservatifāmoderat, opsi konsisten lanjut DCA rutin disarankan. Hasilnya portofolio stabil dengan risiko lebih terkendali.
Untuk profil risiko yang lebih agresif, investor dapat menambah modal DCA saat harga murah sehingga berpeluang mengunci imbal hasil yang lebih tinggi.
Namun, kalau secara psikologis tidak nyaman, investor disarankan menunda DCA dan menabung dana kas sementara walaupun risiko rebound terlewat.
Pro tip: Ketahui nominal yang nyaman untuk dialokasikan berdasarkan pendapatan, pengeluaran, dan kewajiban finansial masing-masing. Pilihan instrumen yang tepat juga berpengaruhābutuh riset individu dan pengelolaan informasi pasar yang mendalam.
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Strategi DCA mana yang Sobat KAF ambil selama IHSG mengalami koreksi?
Konsisten
Agresif
Jeda Sementara




Komentar