top of page

Penyebab IHSG Turun 2026: 5 Faktor Utama & Data Terbaru Oktober

2 hari yang lalu
11 menit membaca
Penyebab IHSG Turun
Penyebab IHSG Turun

Penyebab IHSG turun 2026 dipembahasan ini terdiri dari kombinasi lima tekanan utama: arus keluar dana asing, pelemahan rupiah di tengah suku bunga global yang tinggi, ketidakpastian evaluasi indeks MSCI, perubahan regulasi Bursa Efek Indonesia (BEI), serta persepsi risiko fiskal. Data terbaru menunjukkan IHSG turun dari 8.748,13 di awal 2026 ke 5.976 pada sesi 1 perdagangan 12 Oktober 2026, atau melemah sekitar 31,7% sejak awal tahun, dengan net sell asing mencapai Rp82,55 triliun hingga awal Oktober.

Ringkasan Cepat (Key Takeaways) IHSG sudah terkoreksi sekitar 31,7% sejak awal 2026 dan sekitar 34,6% dari puncak tertinggi Januari 2026. Asing mencatat net sell Rp10,24 triliun di September 2026 dan Rp82,55 triliun secara year-to-date (per 2 Oktober 2026). Pada 12 Oktober 2026 sesi 1, IHSG turun 1,94% ke 5.976 dan menembus low 1 Oktober di 5.973. Aturan baru BEI (saham Rp1, short selling, perluasan HSC, ARB 35% mulai 2027) meningkatkan volatilitas pada kelompok saham tertentu. Indikator makro seperti cadangan devisa (US$146,3 miliar) masih terjaga, sehingga pelemahan IHSG tidak otomatis berarti ekonomi memburuk.

Daftar Isi

Kenapa IHSG Turun di 2026 Penting Dipahami Sekarang?

Pertanyaan kenapa IHSG turun menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari investor sepanjang 2026. Alasannya sederhana: skala koreksinya termasuk yang terdalam dalam satu dekade terakhir, sementara jumlah investor pasar modal justru tumbuh pesat.


Menurut data OJK, jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta per September 2026, bertambah sekitar 1,03 juta dalam sebulan. Artinya, jutaan investor baru merasakan koreksi besar untuk pertama kalinya. Memahami penyebabnya membantu investor membedakan mana tekanan sementara dan mana risiko yang perlu direspons.


Berikut perjalanan IHSG sepanjang 2026 berdasarkan data BEI yang dihimpun media:

Tanggal

Level IHSG

Keterangan

2 Januari 2026

8.748,13

Penutupan awal tahun

Januari 2026

9.134,70

Puncak tertinggi 2026

8 Juni 2026

area 5.300-an

Titik terendah 2026 sejauh ini

30 September 2026

6.071,14

Turun 6,96% secara bulanan

2 Oktober 2026

6.036,88

Turun 3,28% dalam sepekan

12 Oktober 2026 (sesi 1)

5.976

Turun 1,94% dalam satu sesi

Sumber: BEI via Katadata dan Bisnis.com; data 12 Oktober dari Market Review KAF Sekuritas. Persentase koreksi year-to-date dihitung dari data tersebut.


Update Terbaru: IHSG Sesi 1, 12 Oktober 2026

Pada sesi 1 perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 5.976, turun 118 poin atau 1,94%. Indeks sempat menyentuh 5.971 dan menembus low 1 Oktober di 5.973. Tekanan datang dari tiga sumber:

  1. Sektor energi turun 3,57% dan sektor infrastruktur turun 3,33%, hampir dua kali lipat penurunan IHSG.

  2. Saham grup Prajogo Pangestu kompak melemah 4-9%: CUAN (-9,09%), PTRO (-8,84%), BREN (-8,52%), TPIA (-7,16%), CDIA (-6,31%), dan BRPT (-4,63%).

  3. Asing net sell Rp166 miliar di sesi 1, dengan BUMI (-Rp44,4 miliar), BBCA (-Rp38,65 miliar), dan DEWA (-Rp23,93 miliar) sebagai saham yang paling banyak dilepas.


Selebihnya anda bisa membaca disini.


5 Penyebab IHSG Turun 2026

Untuk memahami penyebab IHSG turun 2026, investor perlu membedakan faktor yang punya bukti langsung dalam data perdagangan dengan faktor yang lebih banyak memengaruhi sentimen. Tabel berikut merangkum kelima faktor beserta tingkat kepastiannya.


No

Penyebab

Bukti Data Utama

Sifat Pengaruh

1

Arus keluar dana asing

Net sell Rp10,24 T (Sep), Rp82,55 T (YTD)

Langsung, terukur

2

Rupiah dan suku bunga global

BI-Rate ditahan 5,75%, imbal hasil US Treasury naik

Tidak langsung

3

Ketidakpastian indeks MSCI

GOTO dan CPIN keluar dari MSCI Global Standard

Langsung pada saham tertentu

4

Perubahan regulasi BEI

Saham Rp1, short selling, HSC, ARB 35%

Volatilitas saham tertentu

5

Persepsi risiko fiskal

Defisit, beban bunga utang

Sentimen jangka panjang

1. Arus Keluar Dana Asing Menekan Pasar Saham

Arus dana asing adalah faktor dengan bukti paling langsung. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor asing mencatat penjualan bersih Rp10,24 triliun sepanjang September 2026, berbalik dari pembelian bersih Rp1,19 triliun pada Agustus 2026. Secara year-to-date, BEI mencatat net sell asing Rp82,55 triliun hingga 2 Oktober 2026.


Net Sell Asing Artinya Apa?

Net sell asing adalah kondisi ketika nilai penjualan saham oleh investor asing lebih besar dari nilai pembeliannya dalam periode tertentu. Tekanan ini paling terasa pada saham berkapitalisasi besar dengan bobot signifikan di IHSG, seperti saham perbankan.


Namun, net sell asing tidak selalu berarti prospek perusahaan memburuk. Investor global bisa menjual karena kebutuhan likuiditas, penyesuaian portofolio, perbedaan imbal hasil antarnegara, atau perubahan bobot indeks acuan.


Cara Membaca Foreign Flow dengan Benar

Agar tidak salah membaca foreign flow, investor dapat memperhatikan tiga hal:

  1. Konsistensi: net sell satu hari belum tentu tren. Perhatikan pola mingguan dan bulanan.

  2. Saham yang dilepas: cek apakah tekanan terpusat pada beberapa saham (misalnya BUMI, BBCA, dan DEWA pada 12 Oktober) atau menyebar ke seluruh pasar.

  3. Fundamental emiten: bandingkan aksi jual asing dengan kinerja laporan keuangan terbaru perusahaan.


2. Tekanan Rupiah dan Kebijakan Moneter Amerika Serikat

Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, investor asing menghadapi risiko penurunan nilai investasi saat dikonversi ke mata uang asalnya. Di saat yang sama, imbal hasil aset berbasis dolar yang tinggi membuat aset pasar berkembang kurang menarik secara relatif.


Dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75% dengan fokus menjaga stabilitas rupiah. BI mencatat ketidakpastian global dan kenaikan imbal hasil US Treasury menahan preferensi investor global terhadap aset pasar berkembang.


Meski begitu, hubungan rupiah, suku bunga AS, dan IHSG tidak selalu langsung. Prospek laba emiten, harga komoditas, dan likuiditas domestik juga ikut menentukan arah indeks.


3. Ketidakpastian Indeks MSCI dan Evaluasi Saham Indonesia

Pengaruh MSCI ke IHSG cukup besar karena banyak dana institusi global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan portofolio. Saham yang keluar dari indeks berpotensi dijual oleh dana pasif yang mengikutinya.


Pada evaluasi Agustus 2026 yang berlaku 31 Agustus 2026, MSCI mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard karena isu likuiditas, serta memindahkan CPIN ke kategori Small Cap. Sembilan saham Indonesia lain juga keluar dari indeks Small Cap, yaitu ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI. Indonesia tetap berstatus emerging market.


Investor kini menanti evaluasi MSCI 11 November 2026 (efektif 1 Desember 2026), terutama soal apakah MSCI mencabut pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk saham Indonesia. Riset Stockbit Sekuritas menyebut, "yang perlu investor cermati adalah index review November 2026."


Saham HSC Artinya Apa?

Isu MSCI berkaitan erat dengan daftar saham HSC (High Shareholding Concentration), yaitu saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada sedikit pihak sehingga porsi saham yang benar-benar beredar di publik kecil. Pada 9 Oktober 2026, BEI memperluas cakupan pemantauan HSC dengan menurunkan ambang kapitalisasi pasar dari Rp10 triliun menjadi Rp5 triliun. Daftarnya kini memuat 63 emiten.


Menurut Aulia Noviana Utami Putri, P.H. Sekretaris Perusahaan BEI, tambahan data kepemilikan ini memberikan "gambaran lebih lengkap mengenai struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat" dan dapat menjadi "referensi yang lebih akurat bagi investor."


4. Perubahan Regulasi Bursa Meningkatkan Volatilitas

Akhir September hingga Oktober 2026 menjadi periode perubahan aturan bursa yang cukup padat. Aturan ini tidak otomatis menjadi penyebab langsung pelemahan IHSG, tetapi meningkatkan volatilitas pada kelompok saham tertentu.


Harga Saham Minimum Rp1 dan Nasib Saham Eks Gocap

Mulai 28 September 2026, BEI menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 melalui Keputusan Direksi BEI No. Kep-00136/BEI/09-2026. Di hari pertama berlaku, 26 saham eks gocap langsung turun pada sesi 1, dan 23 di antaranya menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), termasuk GOTO, BBKP, dan LPKR yang turun 14%.


Mirae Asset Sekuritas dalam riset hariannya mengingatkan, "Risiko harga dapat turun di bawah Rp50, sementara mulai 2027 fluktuasi harian berpotensi lebih besar."


Perlu diingat, saham Rp1 tidak otomatis murah. Harga nominal per lembar tidak mencerminkan valuasi. Investor tetap perlu melihat laba, arus kas, utang, dan likuiditas transaksi saham tersebut.


Batas ARB 35% Mulai 2027

Dalam aturan yang sama, BEI memperlebar batas ARB secara bertahap. Berikut perbandingannya:

Rentang Harga Saham

ARA / ARB hingga 31 Des 2026

ARA / ARB mulai 1 Jan 2027

Rp1-10

Rp1 / Rp1

Rp1 / Rp1

Rp11-200

35% / 15%

35% / 35%

>Rp200-5.000

25% / 15%

25% / 25%

>Rp5.000

20% / 15%

20% / 20%

Sumber: Katadata, mengacu pada Keputusan Direksi BEI No. Kep-00136/BEI/09-2026.


Artinya, mulai 2027 saham di rentang Rp11-200 bisa turun hingga 35% dalam sehari. Contohnya, saham seharga Rp100 bisa turun ke Rp65 dalam satu hari perdagangan, dibandingkan Rp85 di aturan saat ini. Investor yang aktif di saham lapis bawah perlu menyesuaikan manajemen risikonya.


Short Selling Saham Mulai Berlaku 1 Oktober 2026

BEI resmi membuka transaksi short selling pada 1 Oktober 2026. Short selling adalah transaksi menjual saham yang belum dimiliki dengan cara meminjam saham terlebih dahulu, lalu membelinya kembali di kemudian hari untuk dikembalikan. Pada tahap awal, hanya lima saham yang masuk Daftar Efek Short Selling (DESS):

  1. ASII (Astra International)

  2. BBCA (Bank Central Asia)

  3. BRPT (Barito Pacific)

  4. BUMI (Bumi Resources)

  5. INDF (Indofood Sukses Makmur)


Investor yang ingin melakukan short selling harus membuka rekening khusus di perusahaan sekuritas yang memiliki izin dan menandatangani perjanjian pinjam meminjam efek sesuai POJK No. 6 Tahun 2024.


Apakah short selling bikin IHSG turun? Senior Market Analyst salah satu perusahaan Sekuritas, menilai dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan masih terbatas karena jumlah saham dan anggota bursa yang terlibat masih sedikit. Menurutnya, "kontribusinya terhadap peningkatan likuiditas pasar secara keseluruhan belum tentu langsung signifikan pada tahap awal." Ia juga menyebut BRPT dan BUMI berpotensi lebih volatil dibanding ASII dan BBCA.


Menariknya, tiga dari lima saham DESS (BBCA, BUMI, dan BRPT) termasuk saham yang tertekan pada sesi 1, 12 Oktober 2026. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa short selling adalah penyebabnya.


5. Kondisi Fiskal dan Persepsi Risiko Ekonomi Domestik

Kondisi fiskal pemerintah juga dipantau pelaku pasar, mulai dari defisit anggaran, pembayaran bunga utang, hingga penerimaan negara. Faktor-faktor ini memengaruhi persepsi risiko ekonomi jangka panjang.


Meski demikian, defisit anggaran tidak selalu berdampak negatif terhadap pasar saham. Pengaruhnya bergantung pada sumber pembiayaan, kualitas belanja pemerintah, dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kondisi fiskal lebih tepat diposisikan sebagai variabel sentimen, bukan penyebab utama pelemahan indeks. Investor dapat memantau perkembangan kebijakan fiskal melalui situs resmi Kementerian Keuangan.


Apakah IHSG Turun Berarti Ekonomi Indonesia Memburuk?

Tidak selalu. IHSG mencerminkan harga saham perusahaan tercatat di BEI, sedangkan kondisi ekonomi juga dipengaruhi konsumsi rumah tangga, investasi, ketenagakerjaan, dan perdagangan.


Beberapa indikator ekonomi masih relatif terjaga di tengah koreksi pasar:

Indikator

Data Terbaru

Sumber

Cadangan devisa

US$146,3 miliar (akhir Sep 2026), setara 5,3 bulan impor

Bank Indonesia

Standar kecukupan internasional

Sekitar 3 bulan impor

IMF

Jumlah investor pasar modal

32,17 juta (Sep 2026)

OJK

BI-Rate

5,75% (RDG Sep 2026)

Bank Indonesia

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menyatakan ketahanan, daya tahan, dan likuiditas pasar domestik masih "manageable" di tengah volatilitas global.


Namun, indikator ini bukan berarti risiko sudah hilang. Pelemahan IHSG tetap perlu dianalisis bersama data ekonomi lain, bukan dijadikan satu-satunya ukuran kondisi perekonomian.


Apakah IHSG Akan Naik Lagi? Belajar dari Data Krisis Sebelumnya

Pertanyaan apakah IHSG akan naik lagi wajar muncul setelah koreksi sedalam ini. Data historis menunjukkan IHSG pernah pulih dari krisis besar, tetapi durasinya sangat bervariasi:

Periode Krisis

Puncak

Titik Terendah

Penurunan

Waktu Pemulihan

Krisis 1998

740,8 (Jul 1997)

256,8 (Sep 1998)

65,3%

Kembali ke puncak sebelum krisis pada Januari 2004 (sekitar 6 tahun)

Krisis Global 2008

2.444 (Mei 2008)

1.256 (Okt 2008)

sekitar 48,6%

Ditutup 2.534,35 di akhir 2009, sudah di atas puncak 2008

Pandemi Covid-19

6.299 (Des 2019)

4.538 (Mar 2020)

sekitar 28%

Kembali ke 6.241 pada Februari 2021 (sekitar 11 bulan dari titik terendah)

Koreksi 2026

9.134 (Jan 2026)

area 5.300-an (Jun 2026)

sekitar 41,5%

Belum pulih

Sumber: Katadata, data BEI. Persentase penurunan 2008, 2020, dan 2026 dihitung dari level yang dilaporkan.


Data masa lalu bukan jaminan untuk masa depan. Pemulihan yang meyakinkan biasanya membutuhkan dukungan beberapa indikator sekaligus.


IHSG Oversold Artinya Apa?

Oversold atau jenuh jual adalah kondisi ketika harga turun terlalu cepat dalam waktu singkat menurut indikator teknikal seperti RSI. Kondisi ini bisa memicu technical rebound, tetapi tidak memastikan pembalikan tren. Pasar masih bisa melemah jika tekanan fundamental dan sentimen berlanjut.


Indikator yang Perlu Dipantau

  1. Arus modal asing: apakah net sell mulai mereda atau berbalik menjadi net buy secara konsisten?

  2. Nilai tukar rupiah: apakah tekanan terhadap rupiah berkurang?

  3. Kebijakan moneter: bagaimana arah suku bunga global dan respons Bank Indonesia?

  4. Hasil evaluasi MSCI November 2026: apakah pembekuan FIF dan NOS dicabut?

  5. Level teknikal: setelah low 1 Oktober (5.973) tembus, area support berikutnya berada di 5.900-5.840, lalu 5.650-5.600 dan 5.350-5.318. IHSG juga masih tertahan di bawah trendline resisten sejak puncak September.


Strategi Investasi saat IHSG Turun

Memahami penyebab IHSG turun adalah langkah awal. Selanjutnya, strategi investasi saat IHSG turun sebaiknya berfokus pada pengelolaan risiko, bukan menebak titik terendah pasar.


Warren Buffett pernah mengatakan, "Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful." Kutipan ini sering dipakai saat pasar turun, tetapi kuncinya ada pada disiplin analisis, bukan sekadar berani membeli.


1. Evaluasi Portofolio dan Tujuan Investasi

Tinjau kembali alasan awal membeli setiap saham. Jika prospek bisnis emiten berubah secara material, tesis investasi perlu dievaluasi ulang. Sebaliknya, penurunan harga saja belum cukup untuk menyimpulkan fundamental perusahaan memburuk.


2. Pahami Support dan Resistance Sebelum Bertransaksi

Analisis teknikal membantu mengenali area tekanan jual dan minat beli. Bagi trader, area masuk, batas kerugian, dan target keuntungan perlu ditentukan sebelum transaksi. Bagi investor jangka panjang, analisis teknikal adalah pelengkap, bukan pengganti analisis fundamental.


3. Average Down atau Cut Loss saat IHSG Turun?

Keputusan average down atau cut loss sebaiknya didasarkan pada kondisi fundamental, bukan emosi:

Kondisi

Pertimbangan

Fundamental emiten tetap kuat, harga turun karena sentimen pasar

Average down bisa dipertimbangkan secara bertahap, dengan batas porsi yang jelas

Fundamental memburuk (laba turun, utang naik, tata kelola bermasalah)

Cut loss lebih rasional untuk melindungi modal

Saham berisiko tinggi (likuiditas rendah, masuk daftar HSC, rentang Rp11-200 yang terkena ARB 35% di 2027)

Batasi porsi dan pertimbangkan risiko likuiditas

Hindari menambah posisi hanya untuk menurunkan harga rata-rata tanpa mengevaluasi ulang alasan investasi. Pastikan juga dana darurat dan kebutuhan sehari-hari tidak dipakai untuk berinvestasi saham.


4. Bedakan Trading dan Investasi Jangka Panjang

Trading memanfaatkan pergerakan harga jangka pendek, sedangkan investasi jangka panjang berfokus pada prospek bisnis dan kemampuan menghasilkan laba. Strategi yang cocok untuk trader belum tentu tepat bagi investor dengan horizon beberapa tahun.


5. Selektif Memilih Saham Berdasarkan Fundamental

Saham yang turun paling dalam belum tentu paling menarik. Ada kalanya saham turun padahal fundamental bagus karena aksi jual asing atau rebalancing indeks. Di sinilah peluang bisa muncul, asalkan dianalisis lewat pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, arus kas, tingkat utang, kualitas manajemen, dan valuasi.


6. Pantau Data Ekonomi dan Keterbukaan Informasi

Gunakan sumber primer seperti laporan Bank Indonesia, publikasi OJK, keterbukaan informasi BEI, dan pengumuman resmi MSCI. Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada rumor atau potongan informasi di media sosial.


Kesimpulan untuk Investor

Penyebab IHSG turun 2026 bukan faktor tunggal. Net sell asing adalah tekanan yang paling terukur, sementara rupiah, suku bunga global, MSCI, regulasi bursa, dan fiskal memperkuat sentimen negatif. Berikut langkah nyata yang bisa Anda ambil:

  1. Cek eksposur portofolio terhadap saham yang paling banyak dilepas asing dan saham dalam daftar HSC.

  2. Tandai level support IHSG 5.900-5.840 sebagai area penting untuk dipantau dalam waktu dekat.

  3. Catat tanggal 11 November 2026 (evaluasi MSCI) di kalender investasi Anda.

  4. Siapkan manajemen risiko untuk 2027, terutama jika Anda memegang saham di rentang Rp11-200 yang batas ARB-nya melebar ke 35%.

  5. Pahami mekanisme short selling sebelum bertransaksi, terutama pada lima saham DESS yang berpotensi lebih volatil.

  6. Ambil keputusan bertahap, bukan sekaligus, dan sesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan Anda.


FAQ: Pertanyaan Seputar IHSG Turun 2026

  • 1. Kenapa IHSG turun terus di 2026? IHSG turun karena kombinasi net sell asing (Rp82,55 triliun YTD per 2 Oktober 2026), tekanan rupiah dan suku bunga global, ketidakpastian evaluasi MSCI, perubahan aturan bursa, dan persepsi risiko fiskal.

  • 2. Apakah IHSG akan naik lagi? Secara historis IHSG pernah pulih dari krisis 1998, 2008, dan 2020, tetapi waktunya berbeda-beda, dari sekitar 11 bulan hingga 6 tahun. Pemulihan perlu didukung perbaikan arus modal, rupiah, dan kinerja emiten.

  • 3. Net sell asing artinya apa? Net sell asing berarti nilai penjualan saham oleh investor asing lebih besar daripada pembeliannya dalam periode tertentu. Ini tidak selalu mencerminkan fundamental emiten yang memburuk.

  • 4. Apakah short selling membuat IHSG turun? Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan masih terbatas karena baru lima saham dan sedikit anggota bursa yang terlibat pada tahap awal.

  • 5. Apa yang sebaiknya dilakukan investor saat IHSG turun? Evaluasi portofolio, pahami level support, tentukan batas risiko, pilih saham berdasarkan fundamental, dan hindari keputusan yang hanya didorong kepanikan.

Disclaimer

Keputusan investasi dan trading sepenuhnya ada di tangan investor. Artikel ini bersifat edukasi dan informasi, bukan rekomendasi jual beli efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi dalam publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing investor. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Referensi

  1. Market Review dan Technical Daily KAF Sekuritas, 9 dan 12 Oktober 2026 (dokumen internal)

  2. Katadata: Asing Berbalik Net Sell Jumbo Rp10,24 Triliun, IHSG September Anjlok 6,96%

  3. Bisnis.com: IHSG Melemah 3,28% Sepekan, Net Sell Tembus Rp82 Triliun di 2026

  4. Katadata: Koreksi IHSG 2026: Asing Keluar, Siapa Penahannya?

  5. Bank Indonesia: BI-Rate Tetap 5,75%

  6. Bisnis.com: BI Rate Ditahan, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas

  7. Kabarbursa: MSCI Coret GOTO dan CPIN, November Justru Jadi Penentu

  8. Bisnis.com: Bursa Perluas Cakupan Saham HSC Mulai Rp5 Triliun

  9. Bisnis.com: Era Saham Rp1 Dimulai, 26 Saham Eks Gocap Berguguran Sesi I

  10. Katadata: BEI Ubah Aturan Auto Rejection, Batas ARB Makin Lebar Jadi 35% mulai 2027

  11. Bisnis.com: Short Selling Mulai Berlaku, Ini Daftar Saham dan Pengaruh ke IHSG

  12. Katadata: Cadangan Devisa RI Turun Tipis Jadi US$146,3 M pada September

  13. Katadata: Menilik Krisis IHSG 1998, 2008 hingga Covid-19, Berapa Lama Bursa RI Bisa Pulih?

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page