top of page

Susi Air, Maskapai yang Lahir dari Masalah Logistik

2 jam yang lalu
4 menit membaca

Bayangkan sebuah bisnis ikan yang justru melahirkan maskapai penerbangan. Bermula dari persoalan sederhana, tetapi mahal: ikan yang terlalu lama berada di perjalanan akan kehilangan kesegaran dan nilai jual. Pada awal 2000-an, jalur darat dari Pangandaran ke Jakarta terlalu lambat untuk bisnis hasil lautnya. Susi Pudjiastuti tidak memilih untuk pasrah pada masalah tersebut. Ia membeli dua Cessna Caravan agar pengiriman menjadi jauh lebih singkat. Keputusan yang awalnya terlihat seperti solusi logistik itu kemudian menjadi awal perjalanan Susi Air. Pembelian pesawat tersebut tercatat pada Februari 2004, sebelum PT ASI Pudjiastuti Aviation mulai beroperasi pada akhir tahun yang sama [1].


Pesawat untuk Ikan, Pesawat untuk Indonesia


Pada mulanya, Susi memang tidak sedang merancang maskapai penumpang nasional. Pesawat dibeli untuk membantu bisnis ekspor hasil lautnya. Namun, gempa dan tsunami Aceh pada Desember 2004 membuka fungsi yang jauh lebih luas. Dua pesawat Susi Air ditempatkan di Medan dan digunakan untuk membawa organisasi bantuan ke wilayah terdampak. Dari sana, bisnisnya terus berkembang. Pada 2006, Susi Air mulai membangun layanan penerbangan berjadwal. Situs resminya menyebut perusahaan memiliki 48 pesawat, 20 basis operasi, sekitar 120 penerbangan per hari, lebih dari 500 rute domestik, dan 304 destinasi terjadwal [2].


Di sinilah sisi kewirausahaan Susi Air menjadi menarik. Susi tidak memulai dengan bertanya, "Industri apa yang sedang populer?" Ia melihat masalah yang nyata, lalu memanfaatkan aset yang sudah dimilikinya. Pesawat yang sebelumnya dipakai untuk menjaga kesegaran ikan ternyata juga cocok untuk penerbangan perintis, charter, pengiriman mendesak, evakuasi medis, survei udara, dan perjalanan khusus. Perluasan bisnis ini bukan langkah acak. Semua layanan tersebut bertumpu pada kekuatan yang sama: pesawat kecil, pilot dan teknisi yang terbiasa menghadapi medan sulit, serta jaringan basis yang dekat dengan daerah terpencil [3].


foto di halaman about susi air
Sumber Gambar: susiair.com

Pentingnya Susi Air


Manfaat Susi Air jauh melampaui tiket yang terjual. Bagi banyak daerah 3TP, pesawat kecil menjadi penghubung menuju layanan kesehatan, pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan pusat pemerintahan. Pada 2025, program angkutan udara perintis mencakup 266 rute penumpang dan 46 rute kargo, dengan PT ASI Pudjiastuti Aviation sebagai salah satu operatornya. Kementerian Perhubungan juga melihat program ini sebagai cara untuk membuka akses, menggerakkan ekonomi daerah, dan mengurangi perbedaan harga antarwilayah [4].


Kalau dilihat dari sisi kewirausahaan, kisah Susi Air memberi tiga pelajaran yang mudah dikenali. Pertama, keterbatasan bisa memunculkan inovasi. Landasan pendek, jumlah penumpang yang belum besar, dan kondisi geografis yang sulit memang tidak cocok untuk pesawat jet, tetapi justru membuka ruang bagi turboprop kecil. Kedua, satu aset dapat digunakan untuk menciptakan lebih dari satu sumber bisnis. Armada yang awalnya dibeli untuk kebutuhan pengiriman internal berkembang menjadi platform berbagai layanan. Ketiga, tujuan sosial dan keuntungan komersial tidak selalu harus berlawanan. Kontrak penerbangan perintis dan charter dapat membantu membiayai konektivitas di rute yang pasarnya belum cukup besar, meskipun ketergantungan pada tender tahunan tetap perlu diperhitungkan [4][5].


Berapa Kira-Kira Nilai Susi Air?


Estimasi nilai kegiatan usaha Susi Air dapat dihitung menggunakan EV/EBITDA. Metode ini cocok karena Susi Air menggabungkan penerbangan regional, perintis, dan charter sehingga nilainya lebih tepat dikaitkan dengan kemampuan kegiatan operasional untuk menghasilkan laba tanpa dipengaruhi oleh struktur utang perusahaan.


Melansir ZoomInfo, estimasi pendapatan tahunan Susi Air yakni sebesar US$58,4 juta. Pendapatan tersebut dikonversi menjadi EBITDA menggunakan tiga asumsi margin, kemudian dikalikan dengan kelipatan EV/EBITDA. Skenario konservatif menggunakan margin 10% dan kelipatan 4,5 kali, sehingga menghasilkan nilai sekitar US$ 26 juta. Skenario tengah menggunakan margin 15% dan kelipatan 5,5 kali, dengan hasil sekitar US$48 juta. Skenario optimistis menggunakan margin 20% dan kelipatan 6,5 kali, dengan hasil sekitar US$76 juta. Karena angka pendapatan berasal dari estimasi pihak ketiga, hasil ini bersifat indikatif [6].


Dengan kurs JISDOR Rp17.836 per dolar AS per 14 Agustus 2026, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp469 miliar sampai Rp1,35 triliun, dengan skenario tengah sekitar Rp859 miliar. Armada 48 pesawat, 20 basis operasi, izin, teknisi, pilot, dan jaringan rute digunakan sebagai pemeriksaan kewajaran. Armada tidak dihitung dengan satu harga pesawat karena jenis, usia, kondisi, kepemilikan, dan kewajiban sewa setiap pesawat berbeda [2][7].


skenario enterprise value susi air
Skenario enterprise value Susi Air sebelum penyesuaian utang, kewajiban sewa, dan kas. Angka bersifat indikatif.

Skenario di atas menunjukkan nilai kegiatan usaha sekitar Rp859 miliar. Rentang Rp469 miliar—Rp1,35 triliun memperlihatkan seberapa besar hasil dapat berubah ketika margin dan kelipatan valuasi berubah. Angka tersebut merupakan enterprise value atau nilai kegiatan usaha. Equity value baru dapat dihitung setelah utang dan kewajiban sewa dikurangkan, sedangkan kas berlebih dan aset non-operasional ditambahkan. Karena data tersebut tidak tersedia untuk publik, estimasi ini berhenti pada enterprise value.


Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Susi Air justru lebih sederhana: perhatikan masalah yang sering dianggap biasa. Susi Air lahir ketika persoalan kesegaran ikan diubah menjadi keputusan investasi, lalu berkembang ketika pesawat tersebut digunakan untuk menjawab kebutuhan konektivitas Indonesia. Karena itu, nilai Susi Air tidak hanya berada pada pesawat yang dimilikinya, tetapi juga pada kemampuannya mengubah jarak menjadi pasar dan keterisolasian menjadi akses.


Referensi


[1] FlightGlobal; "Fresh fish to market via Cessna Caravan"; 25 Februari 2004; https://www.flightglobal.com/strategy/fresh-fish-to-market-via-cessna-caravan/53201.article

[2] Susi Air; "About: Susi Air at a Glance"; diakses 18 Agustus 2026; https://susiair.com/about

[3] Susi Air; "Our Services"; diakses 18 Agustus 2026; https://susiair.com/

[4] PwC Indonesia, translating Investor Daily; "Transportation Ministry continues pioneer air transportation programme in 2025"; 17 Januai 2025; https://www.pwc.com/id/en/media-centre/infrastructure-news/january-2025/air-transportation-programme-in-2025.html

[5] Kontan; "Susi Air to buy 16 aircraft worth US$100 million"; 13 April 2012; https://english.kontan.co.id/news/susi-air-to-buy-16-aircraft-worth-us100-million

[6] ZoomInfo; 'Susi Air Overview'; diakses 11 September 2026; https://www.zoominfo.com/c/susi-air/346711735. Estimasi pendapatan US$58,4 juta berasal dari pihak ketiga dan belum diverifikasi terhadap laporan keuangan yang diaudit.

[7] Bank Indonesia; 'JISDOR'; 14 Agustus 2026; https://www.bi.go.id/en/statistik/informasi-kurs/jisdor/default.aspx. Kurs referensi: Rp17.836 per dolar AS.


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page