7 Langkah Screening Saham Fundamental Ketika Market Sedang Koreksi

Screening Saham Fundamental biasanya dipakai Ketika pasar saham memasuki fase koreksi, Sehingga penurunan harga sering membuat investor bertanya: apakah saham tersebut sedang murah, atau justru mencerminkan fundamental bisnis yang memburuk?
Jawabannya tidak cukup dilihat dari harga. Perusahaan yang masih memiliki earning power, arus kas, neraca, dan profitabilitas yang sehat perlu dibedakan dari perusahaan yang harga sahamnya turun karena masalah bisnis.
Karena itu, cara screening saham fundamental perlu dimulai dari kualitas perusahaan, bukan dari saham yang mengalami penurunan harga paling dalam. Tujuannya adalah menemukan perusahaan yang kualitas bisnisnya masih bertahan, kemampuan finansialnya cukup kuat untuk melewati tekanan, dan valuasinya mulai masuk akal.
Daftar Isi:
Mengapa Saham Turun Belum Tentu Murah?
Harga saham dapat turun karena perubahan ekspektasi pasar, valuasi, kondisi industri, maupun penurunan kinerja perusahaan. Penurunan harga sendiri tidak otomatis berarti saham menjadi undervalued.
Sebaliknya, saham dengan PER rendah juga belum tentu murah. Jika laba sedang berada di puncak siklus, utang meningkat, ROIC rendah, atau arus kas operasi melemah, multiple yang terlihat murah dapat menjadi value trap.
Di sinilah cara screening saham fundamental menjadi penting. Screening tidak cukup menggunakan satu rasio, tetapi perlu melihat hubungan antara kualitas bisnis, profitabilitas, pertumbuhan, neraca, cash flow, risiko, dan valuasi.
7 Lapisan Screening Saham Fundamental
1. Pahami Bisnis Utamanya
Langkah pertama adalah memahami bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba.
Tanyakan terlebih dahulu:
● Apakah revenue berasal dari aktivitas utama perusahaan?
● Apakah model bisnis memiliki keunggulan yang dapat dipertahankan?
● Apakah pertumbuhan berasal dari operasional atau faktor satu kali?
● Apakah perusahaan membutuhkan modal tambahan yang besar untuk tumbuh?
Gunakan horizon sekitar lima tahun untuk melihat revenue, EBIT, net income, dan EPS. Revenue CAGR yang positif lebih bermakna jika disertai konsistensi dan tidak semata-mata berasal dari akuisisi atau keuntungan non-operasional.
2. Periksa Profitabilitas dengan ROE dan ROIC
ROE menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba terhadap modal pemegang saham. Namun, ROE yang tinggi perlu dibaca bersama leverage karena utang dan perubahan ekuitas dapat membuat angka ROE terlihat tinggi.
Sementara itu, ROIC membantu melihat return yang dihasilkan dari modal yang digunakan dalam bisnis. Jangan hanya melihat level ROIC dalam satu tahun. Perhatikan konsistensinya dan bandingkan dengan cost of capital serta perusahaan sejenis.
Dengan demikian, cara memilih saham fundamental bagus tidak berhenti pada perusahaan dengan ROE tinggi, tetapi juga mempertanyakan dari mana return tersebut berasal dan seberapa efisien modal digunakan.
3. Cek Kualitas Pertumbuhan dan Margin
Pertumbuhan revenue yang tinggi belum tentu berkualitas.
Periksa:
● Gross margin
● Operating margin
● Net margin
● Pertumbuhan EPS
● Kebutuhan reinvestment
Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak modal tambahan yang diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan tersebut?
Growth sebaiknya dibaca bersama reinvestment dan return on capital. Pertumbuhan yang tinggi tetapi membutuhkan modal sangat besar atau menghasilkan return modal yang rendah belum tentu menunjukkan peningkatan kualitas bisnis.
4. Uji Kekuatan Neraca
Dalam pasar turun, balance sheet menjadi salah satu pertahanan utama perusahaan.
Beberapa metrik yang dapat diperiksa adalah:
● Debt to Equity
● Net Debt
● Net Debt/EBITDA
● Interest Coverage
Dalam konteks interest coverage ratio saham, semakin penting untuk melihat apakah laba operasional cukup untuk menutup beban bunga, terutama ketika kondisi bisnis sedang melemah.
Jangan berhenti pada total utang. Periksa juga posisi kas, utang jangka pendek, jadwal jatuh tempo, bunga tetap atau mengambang, serta exposure terhadap utang valuta asing.
Dua perusahaan dengan jumlah utang yang sama dapat memiliki risiko berbeda jika kemampuan menghasilkan EBITDA dan posisi kasnya berbeda.
5. Pastikan Laba Benar-Benar Menghasilkan Kas
Laba bersih tidak selalu sama dengan kas yang tersedia. Operating Cash Flow (OCF) menunjukkan kas dari aktivitas operasi, sementara Free Cash Flow secara sederhana dapat dihitung sebagai Operating Cash Flow dikurangi capital expenditure.
Bandingkan OCF dengan net income. Jika laba tumbuh tetapi OCF terus melemah, periksa piutang, persediaan, dan perubahan modal kerja. Hal ini penting karena free cash flow saham dapat memberikan gambaran mengenai fleksibilitas keuangan perusahaan untuk membayar utang, dividen, melakukan buyback, akuisisi, maupun investasi.
Menurut Securities and Exchange Commission (SEC), laporan arus kas membantu menunjukkan apakah perusahaan benar-benar menghasilkan kas, sementara neraca dan laporan laba rugi memberikan perspektif berbeda mengenai posisi dan kinerja keuangan perusahaan.
6. Analisis Valuasi Setelah Kualitas Bisnis Lolos
Valuasi sebaiknya datang setelah kualitas bisnis diperiksa. Beberapa multiple yang dapat digunakan antara lain:
● P/E
● EV/EBITDA
● P/BV
● FCF Yield
● Normalized Earnings Yield
Namun, multiple tidak sebaiknya dibaca secara terisolasi. Bandingkan valuasi saat ini dengan histori perusahaan, peer group, growth, profitability, leverage, capital intensity, dan cost of capital.
Misalnya, PER 8x tidak otomatis berarti murah. Perusahaan dengan PER rendah tetapi ROIC rendah, utang tinggi, dan earnings yang sedang berada di puncak siklus dapat terlihat murah padahal menyimpan risiko value trap.
Karena itu, cara membedakan saham murah dan undervalued adalah dengan melihat apakah harga rendah tersebut didukung oleh earning power dan kualitas bisnis yang masih bertahan.
7. Identifikasi Risiko yang Dapat Membatalkan Thesis
Tahap terakhir adalah mencari alasan mengapa analisis dapat salah.
Perhatikan:
● Risiko industri
● Penurunan margin
● Refinancing risk
● Perubahan harga komoditas
● Exposure valuta asing
● Dilusi saham
● Ketergantungan pada satu sumber pendapatan
Screening yang baik bukan hanya mencari alasan untuk membeli, tetapi juga mencari bukti yang dapat membantah thesis.
Cara Memilih Saham Fundamental Bagus Saat Pasar Sedang Koreksi
Cara memilih saham fundamental bagus perlu mengikuti urutan yang konsisten, yaitu kualitas bisnis, daya tahan keuangan, lalu valuasi.
Tahap 1 - Buang Perusahaan yang Cenderung Rapuh
Mulai dengan filter seperti:
● Revenue relatif stabil atau tumbuh
● EPS relatif stabil atau membaik
● ROIC memadai
● Operating Cash Flow positif
● FCF positif atau membaik
● Net Debt/EBITDA terkendali
● Interest coverage memadai
● Tidak terdapat deteriorasi neraca yang ekstrem
● Share count tidak mengalami dilusi besar tanpa alasan yang jelas
Tujuannya bukan mencari perusahaan sempurna, tetapi mengurangi perusahaan yang memiliki risiko fundamental paling besar.
Tahap 2 - Cari Quality
Setelah perusahaan yang rapuh tersaring, fokus pada lima aspek berikut:
Profitability: ROIC, ROE, operating margin, dan net margin.
Stability: konsistensi earnings dan FCF.
Balance Sheet: leverage, interest coverage, serta posisi cash dan debt.
Growth: revenue, EPS, FCF, dan efisiensi reinvestment.
Earnings Quality: hubungan antara laba, operating cash flow, piutang, dan persediaan.
Pendekatan ini juga membantu ketika melakukan screening saham BEI, karena data fundamental perusahaan tercatat dapat digunakan sebagai titik awal untuk menyaring kandidat sebelum dilakukan analisis lebih mendalam.
Tahap 3 - Baru Cari Valuasi Menarik
Pada tahap ini, cara memilih saham fundamental bagus kembali pada perbandingan harga dengan kualitas bisnis, bukan sekadar mencari saham dengan penurunan harga terbesar. Bandingkan P/E, EV/EBITDA, P/B, FCF Yield, dan normalized earnings yield terhadap:
● Historical valuation
● Peer group
● Pertumbuhan
● Profitabilitas
● Leverage
● Cost of capital
Dengan urutan tersebut, saham yang turun tidak langsung dianggap sebagai peluang.
Indikator Fundamental Saham yang Perlu Diperiksa
Tidak ada satu rasio yang dapat menentukan kualitas perusahaan. Beberapa indikator perlu dibaca secara bersama.
Area | Metrik | Apa yang Dilihat |
Pertumbuhan | Revenue & EPS | Arah dan konsistensi pertumbuhan |
Profitabilitas | ROE & ROIC | Efisiensi penggunaan modal |
Margin | Gross, operating & net margin | Kualitas profitabilitas |
Cash Flow | OCF & FCF | Kemampuan menghasilkan kas |
Leverage | Net Debt/EBITDA | Beban utang relatif terhadap kemampuan menghasilkan EBITDA |
Solvency | Interest Coverage | Kemampuan membayar beban bunga |
Valuasi | P/E, EV/EBITDA, P/BV | Hubungan harga dengan fundamental |
Valuasi | FCF Yield | Hubungan harga dengan kemampuan menghasilkan kas |
Working Capital | Receivables & inventory | Potensi masalah kualitas earnings |
Indikator fundamental saham yang bagus juga perlu disesuaikan dengan karakter industrinya. Bank, misalnya, memiliki struktur neraca dan metrik yang berbeda dari perusahaan consumer, properti, komoditas, atau telekomunikasi. Karena itu, threshold screening tidak seharusnya diperlakukan sebagai aturan universal.
Red Flags Saat Screening Saham
Beberapa tanda yang layak diperiksa lebih dalam antara lain:
Laba naik tetapi operating cash flow terus turun.
Piutang tumbuh jauh lebih cepat daripada revenue.
Inventory melonjak tanpa alasan operasional yang jelas.
Debt meningkat sementara EBIT stagnan.
Interest coverage turun tajam.
Other income menjadi sumber laba yang besar.
Keuntungan besar berasal dari penjualan aset.
Share count terus terdilusi.
Dividen dibayar ketika FCF tidak memadai.
Akuisisi berulang tetapi ROIC tidak membaik.
Red flags tersebut tidak otomatis berarti perusahaan buruk. Namun, semuanya merupakan alasan untuk membuka laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan lebih dalam.
OJK sendiri menyediakan checklist pengungkapan laporan keuangan bagi emiten dan perusahaan publik, sehingga laporan tahunan dan catatan atas laporan keuangan menjadi sumber penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Stress Test: Apakah Perusahaan Mampu Bertahan?
Salah satu cara memperdalam screening saham saat bear market adalah melakukan stress test sederhana.
Misalnya, buat skenario:
● Revenue turun 20%
● Operating margin turun 300 basis points
● Interest expense naik 20%
● Capex tetap
Setelah itu, hitung kembali:
● EBIT
● Net income
● FCF
● Interest coverage
● Net Debt/EBITDA
Pertanyaan utamanya bukan apakah perusahaan masih mencetak laba sempurna. Pertanyaannya adalah: apakah perusahaan masih mampu bertahan tanpa menerbitkan saham baru atau menambah utang secara agresif? Stress test membantu mengubah analisis dari sekadar melihat kondisi perusahaan saat ini menjadi pengujian terhadap daya tahannya ketika asumsi bisnis memburuk.
Piotroski F-Score sebagai Filter Tambahan
Piotroski F-Score dapat digunakan sebagai secondary filter. Framework ini menggunakan sembilan sinyal laporan keuangan yang mencakup profitability, leverage/liquidity, dan operating efficiency.
F-Score dapat membantu membaca apakah kondisi fundamental perusahaan cenderung membaik atau memburuk. Namun, skor tersebut sebaiknya tidak menggantikan pemahaman terhadap bisnis, laporan keuangan, dan valuasi.
Penelitian Piotroski menggunakan sembilan sinyal fundamental yang dikelompokkan ke dalam tiga area tersebut sebagai cara untuk menilai kondisi finansial perusahaan secara lebih sistematis.
Gunakan Q-V-S: Quality, Valuation, Survival
Agar proses lebih mudah diingat, framework screening dapat dirangkum menjadi tiga pertanyaan:
Q - Quality
Apakah bisnis menghasilkan return, margin, earnings, dan cash flow yang sehat?
V - Valuation
Apakah harga pasar masuk akal dibandingkan kualitas dan earning power perusahaan?
S - Survival
Apakah neraca, likuiditas, dan kemampuan membayar utang cukup kuat jika kondisi memburuk?
Framework Q-V-S membantu menghindari dua kesalahan umum, yaitu membeli perusahaan berkualitas tanpa memperhatikan harga, atau membeli saham murah tanpa menguji kualitas dan daya tahan bisnis.
Contoh Filter Awal untuk Saham BEI
Sebagai starting point, filter awal dapat menggunakan:
Metric | Filter Awal |
Revenue CAGR 5Y | > 5% |
EPS CAGR 5Y | > 5% |
ROIC | Relatif tinggi terhadap cost of capital |
ROE | > 10–15% |
Operating Margin | Stabil / meningkat |
Operating Cash Flow | Positif |
FCF | Positif / membaik |
Net Debt/EBITDA | < 2–3x |
Interest Coverage | > 4–5x |
Debt Trend | Stabil / turun |
Share Count | Stabil |
P/E | Bandingkan dengan historical + peer |
EV/EBITDA | Bandingkan dengan historical + peer |
FCF Yield | Menarik relatif terhadap risiko |
Threshold tersebut merupakan starting point, bukan aturan universal. Bank, properti, komoditas, utilitas, dan teknologi dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda.
BEI sendiri menyediakan Stock Screener dengan sejumlah filter seperti revenue, NPM, PER, PBV, ROA, ROE, DER, perubahan harga, dan market capitalization. Data keuangan pada screener menggunakan laporan keuangan terakhir yang disampaikan perusahaan tercatat.
Dengan demikian, screener dapat digunakan untuk mempersempit universe saham, tetapi hasil screening tetap perlu dilanjutkan dengan membaca laporan keuangan dan memahami bisnis perusahaan.
Kesimpulan: Fokus pada Quality, Survival, lalu Valuation
Dalam praktik, cara screening saham fundamental dapat digunakan sebagai proses berulang, bukan keputusan satu kali. Fokusnya bukan menemukan saham yang paling banyak turun, melainkan memisahkan penurunan harga dari penurunan earning power.
Mulai dari memahami bisnis, menguji profitabilitas, memeriksa margin, neraca, dan cash flow, kemudian menilai valuasi. Setelah itu, lakukan red-flag check dan stress test untuk melihat apakah perusahaan memiliki ruang bertahan ketika kondisi memburuk. Dengan pendekatan tersebut, cara memilih saham fundamental bagus menjadi lebih disiplin: cari quality, uji survival, lalu cari valuation.
Pada akhirnya, tujuan screening bukan sekadar menemukan saham yang terlihat murah, tetapi memahami apakah harga pasar sudah mencerminkan risiko dan kualitas bisnis yang sebenarnya.
Disclaimer
Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi
SEC - Beginners' Guide to Financial Statements: https://www.sec.gov/about/reports-publications/beginners-guide-financial-statements
SEC - Statement of Cash Flows: https://www.sec.gov/newsroom/speeches-statements/munter-statement-cash-flows-120423
FINRA - Evaluating Stocks: https://www.finra.org/investors/investing/investment-products/stocks/evaluating-stocks
Aswath Damodaran - Financial Measures & Ratios: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/definitions.html
Damodaran - Market Regressions, January 2026: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/MReg26.html
Piotroski - Value Investing Paper, University of Chicago Booth: https://www.chicagobooth.edu/~/media/FE874EE65F624AAEBD0166B1974FD74D
BIS - Financial vulnerabilities driving firms to the exit: https://www.bis.org/publications/financial-vulnerabilities-driving-firms-exit
OJK - Checklist Pengungkapan Laporan Keuangan: https://ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Pages/checklist-pengungkapan-laporan-keuangan.aspx



Komentar