Cara Memilih Instrumen Investasi Sesuai Tujuan dan Profil Risiko (Panduan 2026)

Cara memilih instrumen investasi adalah proses mencocokkan produk keuangan dengan tujuan, jangka waktu, kebutuhan pencairan dana, dan profil risiko investor sebelum dana ditempatkan. Pendekatan ini penting karena produk dengan potensi imbal hasil tinggi belum tentu sesuai bagi investor yang membutuhkan akses dana dalam waktu dekat.
Ringkasan Poin
Cara memilih instrumen investasi yang tepat dimulai dari tujuan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan profil risiko, bukan dari imbal hasil tertinggi.
IHSG turun 11,57% ke level 5.185,10 dalam satu hari pada 16 Oktober 2026 setelah MSCI mengusulkan reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market, lalu memantul ke 5.439,26 pada 23 Oktober 2026.
Setiap instrumen investasi punya sumber keuntungan dan risiko berbeda: saham berfluktuasi, obligasi punya risiko gagal bayar dan suku bunga, sedangkan deposito dibatasi syarat penjaminan LPS.
SBN ritel tidak seragam: ORI dan SR dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan SBR dan ST dirancang untuk dipegang hingga jatuh tempo.
Diversifikasi bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu aset atau satu penerbit, bukan menghilangkan seluruh risiko investasi.
Diterbitkan: 26 Oktober 2026 | Diperbarui: 26 Oktober 2026 | Ditulis oleh : Saski Aulia, S.M
Kenapa Cara Memilih Instrumen Investasi Penting di Tengah Gejolak Pasar 2026?
Cara memilih instrumen investasi menjadi penting pada 2026 karena volatilitas pasar saham Indonesia meningkat tajam dan banyak investor baru sedang mengalami penurunan nilai portofolio untuk pertama kalinya. Pada 16 Oktober 2026, IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,10, dipicu proposal MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market (Kompas, 17 Oktober 2026).
Penurunan IHSG pada 16 Oktober 2026 tercatat sebagai penurunan harian terdalam sejak krisis moneter 1998 (Cermati Invest Weekly Update, 19 Oktober 2026). Sepekan kemudian, IHSG memantul 4,90% dan ditutup di level 5.439,26 pada 23 Oktober 2026, meski investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp6,67 triliun selama periode 19 sampai 23 Oktober 2026 (Bisnis.com, 24 Oktober 2026).
Usulan MSCI tersebut masih berupa konsultasi, bukan keputusan final. MSCI membuka masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027 (Kabarbursa, Oktober 2026).
Di sisi lain, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 30,30 juta SID per 7 Agustus 2026, bertambah 9,9 juta investor sejak awal 2026 (Bisnis.com, 10 Agustus 2026). Artinya, jutaan investor baru masuk pada tahun yang penuh tekanan, sehingga pemahaman tentang karakteristik dan risiko tiap instrumen menjadi kebutuhan mendasar.
Apa Itu Instrumen Investasi dan Instrumen Keuangan?
Instrumen keuangan adalah kontrak atau produk yang menimbulkan hak dan kewajiban keuangan bagi pihak yang terlibat, sedangkan instrumen investasi adalah instrumen keuangan yang digunakan untuk mengembangkan nilai aset.
Bentuk instrumen keuangan dapat berupa kepemilikan atas perusahaan, hak menerima pembayaran dari penerbit surat utang, atau simpanan di bank.
Saham memberikan hak kepemilikan atas suatu perusahaan.
Obligasi memberikan hak kepada investor untuk menerima pembayaran sesuai ketentuan penerbitan. Reksa dana menghimpun dana masyarakat untuk dikelola dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Tidak semua instrumen keuangan memiliki mekanisme yang sama. Saham dan obligasi diperdagangkan di pasar modal, sedangkan tabungan dan deposito adalah produk simpanan perbankan dengan fungsi dan risiko yang berbeda.
Apa Saja Jenis Instrumen Investasi yang Perlu Dikenal?
Jenis instrumen investasi yang umum dikenal investor ritel di Indonesia meliputi saham, obligasi, reksa dana, ETF, tabungan dan deposito, Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan derivatif. Masing-masing instrumen investasi memiliki sumber keuntungan, risiko, dan ketentuan pencairan yang berbeda.
1. Saham
Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memberi potensi keuntungan dari dividen dan capital gain. Capital gain adalah keuntungan ketika saham dijual dengan harga lebih tinggi daripada harga beli.
Harga saham dapat berfluktuasi akibat kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, dan sentimen pasar, sehingga investor saham berpotensi mengalami kerugian. Saham umumnya lebih relevan untuk tujuan jangka panjang bagi investor yang mampu menghadapi fluktuasi dan bersedia mempelajari fundamental perusahaan.
2. Obligasi dan Surat Utang
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan untuk memperoleh pendanaan, dengan potensi keuntungan dari kupon berkala dan perubahan harga di pasar sekunder.
Obligasi tetap memiliki risiko. Penerbit dapat gagal bayar, dan harga obligasi dapat berubah mengikuti suku bunga dan kondisi pasar. Sebelum membeli obligasi, periksa kualitas kredit penerbit, tenor, mekanisme pembayaran, dan kemungkinan menjual sebelum jatuh tempo.
3. Reksa Dana
Reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana masyarakat untuk diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Jenis reksa dana yang umum dikenal adalah:
Reksa dana pasar uang: berinvestasi pada instrumen pasar uang dan efek utang dengan jatuh tempo pendek, misalnya deposito dan obligasi dengan sisa jatuh tempo kurang dari satu tahun.
Reksa dana pendapatan tetap: menempatkan minimal 80% portofolio pada efek bersifat utang.
Reksa dana saham: menempatkan minimal 80% portofolio pada efek bersifat ekuitas.
Reksa dana campuran: menggabungkan beberapa kelas aset, seperti saham dan efek utang.
Reksa dana pasar uang umumnya berfluktuasi lebih rendah dibanding reksa dana saham, tetapi tidak bebas risiko dan tidak menjamin keuntungan.
Periksa kebijakan investasi, biaya, dan prospektus sebelum membeli reksa dana.
4. ETF (Exchange Traded Fund)
ETF adalah reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham. ETF memberi eksposur ke sekumpulan aset, misalnya indeks saham, dengan mekanisme jual beli melalui perusahaan sekuritas.
Nilai ETF mengikuti pergerakan aset yang menjadi acuannya, sehingga ETF berbasis indeks saham ikut turun ketika pasar saham turun. Perhatikan likuiditas perdagangan ETF dan selisih harga pasar terhadap nilai aktiva bersihnya sebelum bertransaksi.
5. Tabungan dan Deposito
Tabungan dan deposito adalah produk simpanan bank. Tabungan memberi akses dana fleksibel untuk transaksi sehari-hari, sedangkan deposito ditempatkan untuk jangka waktu tertentu dengan ketentuan pencairan tersendiri.
Simpanan bank dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) jika memenuhi kriteria 3T: tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan, dan tidak terkait tindakan yang merugikan bank (Bisnis.com, 29 Mei 2026).
Untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027, LPS menetapkan tingkat bunga penjaminan 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum, 6,25% untuk simpanan rupiah di BPR, dan 2% untuk simpanan valas di bank umum (Kontan, 30 September 2026).
6. Surat Berharga Negara (SBN) dan Sukuk Negara
SBN adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah untuk memperoleh pendanaan, mencakup surat utang negara dan sukuk negara. SBN ritel ditujukan bagi investor individu melalui seri dan masa penawaran tertentu.
Karakteristik SBN ritel berbeda menurut jenisnya. Sebagian seri dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan sebagian lainnya tidak dapat diperdagangkan dan memiliki mekanisme pencairan khusus. Perbandingan lengkapnya dibahas pada bagian perbedaan ORI, SR, SBR, dan ST di bawah.
7. Emas
Emas adalah aset fisik yang sering dipakai sebagai lindung nilai, tetapi harga emas tetap dapat turun. Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Patokan Ekspor emas periode 15 sampai 31 Oktober 2026 turun 3,15% dibanding periode pertama Oktober 2026, antara lain karena kenaikan imbal hasil obligasi global yang mendorong peralihan dana dari emas ke surat utang (Suara.com, 15 Oktober 2026).
Emas juga tidak selalu naik ketika pasar saham turun. Pada kondisi tekanan likuiditas, investor dapat menjual aset yang mudah dicairkan seperti emas untuk memperoleh uang tunai, sehingga harga emas ikut terkoreksi (Treasury.id, 2026).
8. Derivatif
Derivatif adalah kontrak keuangan yang nilainya bergantung pada aset acuan, seperti saham, indeks, obligasi, mata uang, atau suku bunga. Derivatif dapat dipakai untuk mengelola risiko harga atau strategi perdagangan tertentu.
Mekanisme kontrak, penggunaan margin, dan potensi kerugian derivatif lebih kompleks dibanding instrumen investasi dasar. Derivatif umumnya lebih sesuai bagi investor yang sudah memahami spesifikasi kontrak dan risikonya.
Apa Perbedaan Risiko dan Karakteristik Tiap Instrumen Investasi?
Perbedaan utama antar instrumen investasi terletak pada sumber keuntungan, jenis risiko, dan kemudahan pencairan dana. Tabel berikut adalah gambaran umum, bukan jaminan hasil investasi.
Tabel 1. Perbandingan Karakteristik dan Risiko Instrumen Investasi
Instrumen | Sumber Potensi Hasil | Risiko Utama | Yang Perlu Diperiksa |
Tabungan | Bunga sesuai ketentuan bank | Daya beli tergerus inflasi | Akses dana, biaya, syarat penjaminan LPS |
Deposito | Bunga sesuai ketentuan | Inflasi, penalti pencairan sebelum jatuh tempo | Tenor, penalti, bunga vs tingkat bunga penjaminan LPS |
Reksa dana pasar uang | Kenaikan nilai unit | Risiko kredit dan likuiditas aset portofolio | Isi portofolio dan biaya |
Obligasi | Kupon dan perubahan harga | Gagal bayar, suku bunga, likuiditas | Penerbit, tenor, peringkat kredit |
SBN ritel | Kupon atau imbal hasil sesuai seri | Perubahan harga (seri tradable), likuiditas | Seri, tenor, mekanisme pencairan |
Saham | Dividen dan kenaikan harga | Fluktuasi harga, penurunan kinerja perusahaan | Fundamental dan valuasi |
Reksa dana saham | Kenaikan nilai unit | Fluktuasi pasar saham | Strategi dan komposisi portofolio |
ETF | Pergerakan aset acuan | Fluktuasi aset acuan, likuiditas perdagangan | Aset acuan, volume transaksi, biaya |
Emas | Kenaikan harga | Fluktuasi harga, selisih harga jual dan beli | Bentuk emas, biaya penyimpanan |
Derivatif | Perubahan nilai kontrak | Risiko pasar dan leverage | Spesifikasi kontrak, margin |
Sumber: diolah dari Bursa Efek Indonesia, OJK, dan LPS. Data per Oktober 2026.
Tabel 1 menunjukkan bahwa membandingkan imbal hasil saja tidak cukup untuk menentukan instrumen investasi yang sesuai, karena potensi hasil yang berbeda membawa konsekuensi risiko yang berbeda.
Apa Perbedaan ORI, SR, SBR, dan ST?
Perbedaan utama ORI, SR, SBR, dan ST terletak pada tenor, skema kupon, prinsip pengelolaan, dan apakah seri tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
ORI dan SR cocok bagi investor yang menginginkan kupon tetap dan fleksibilitas jual beli di pasar sekunder, sedangkan SBR dan ST cocok bagi investor yang tidak berencana menjual sebelum jatuh tempo (Bareksa, 9 Januari 2026).
Tabel 2. Perbandingan Jenis SBN Ritel
Jenis | Prinsip | Tenor Umum | Skema Kupon/Imbalan | Bisa Diperdagangkan? |
ORI (Obligasi Negara Ritel) | Konvensional | 3 dan 6 tahun | Tetap (fixed rate) | Ya, di pasar sekunder |
SR (Sukuk Ritel) | Syariah | 3 dan 5 tahun | Tetap | Ya, di pasar sekunder |
SBR (Savings Bond Ritel) | Konvensional | 2 dan 4 tahun | Mengambang dengan batas bawah (floating with floor) | Tidak |
ST (Sukuk Tabungan) | Syariah | 2 dan 4 tahun | Mengambang dengan batas bawah (floating with floor) | Tidak |
Sumber: Bareksa (9 Januari 2026), Cermati Invest (2026), Bank Sumsel Babel. Ketentuan tiap seri mengikuti memorandum informasi resmi dari Kementerian Keuangan.
Seri SBN ritel berikutnya pada 2026 adalah Sukuk Negara Tabungan seri ST017, dengan jadwal penawaran tentatif 6 November sampai 2 Desember 2026 (Bisnis.com, 12 Januari 2026).
Karena ST tidak dapat diperdagangkan, investor perlu memastikan dana yang ditempatkan tidak dibutuhkan sebelum jatuh tempo, kecuali melalui mekanisme pencairan awal yang diatur dalam ketentuan seri tersebut.
Bagaimana Cara Memilih Instrumen Investasi Sesuai Kebutuhan?
Cara memilih instrumen investasi sesuai kebutuhan terdiri dari tujuh langkah: menentukan tujuan, menyesuaikan jangka waktu, mengenali profil risiko, memeriksa potensi untung dan rugi, mempertimbangkan kebutuhan pencairan, memeriksa biaya dan legalitas, serta melakukan diversifikasi.
1. Tentukan tujuan keuangan
Tujuan keuangan menentukan jenis instrumen investasi yang relevan. Dana untuk pengeluaran rutin dan kebutuhan tak terduga memerlukan akses yang mudah, sedangkan dana untuk kebutuhan bertahun-tahun ke depan dapat ditempatkan pada instrumen dengan potensi pertumbuhan selama risikonya sesuai.
Sebelum berinvestasi, pastikan kebutuhan pokok, kewajiban keuangan, dan dana darurat sudah terpenuhi.
2. Sesuaikan dengan jangka waktu
Jangka waktu penggunaan dana menentukan seberapa besar fluktuasi yang dapat ditoleransi. Untuk tujuan jangka pendek, kestabilan nilai dan kemudahan pencairan lebih penting, karena instrumen yang berfluktuasi besar berisiko merugikan jika dana harus dicairkan saat harga turun.
Jangka waktu panjang memberi ruang menghadapi fluktuasi, tetapi tidak otomatis membuat setiap instrumen berisiko tinggi menjadi sesuai.
3. Kenali profil risiko investasi
Profil risiko investasi menggambarkan kemampuan dan kesediaan investor menghadapi kemungkinan kerugian atau perubahan nilai aset.
Secara umum, profil risiko dikelompokkan menjadi empat kategori:
Sangat konservatif: mengutamakan perlindungan nilai pokok dan akses dana.
Konservatif: cenderung memilih instrumen dengan fluktuasi relatif rendah.
Moderat: bersedia menghadapi fluktuasi tertentu untuk potensi hasil lebih tinggi.
Agresif: siap menghadapi fluktuasi besar demi potensi pertumbuhan jangka panjang.
Profil risiko bukan penilaian permanen, karena kondisi keuangan, pengalaman, tanggungan, dan tujuan dapat berubah.
Bedakan kemampuan menanggung risiko dari kemauan mengambil risiko: investor bisa merasa nyaman dengan fluktuasi, tetapi tetap tidak mampu menanggung kerugian besar jika dana akan segera dipakai.
4. Periksa potensi keuntungan dan kemungkinan kerugian
Setiap instrumen investasi perlu dinilai dari cara keuntungan diperoleh, faktor yang memengaruhi nilainya, biaya, dan skenario kerugiannya.
Kenaikan harga saham tidak dapat dipastikan, kupon obligasi tidak menghilangkan risiko gagal bayar, dan nilai reksa dana dapat turun mengikuti aset portofolionya.
Baca prospektus, ringkasan informasi produk, dan ketentuan transaksi sebelum memutuskan.
5. Pertimbangkan kebutuhan pencairan dana
Likuiditas adalah kemudahan suatu aset dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai secara signifikan.
Jika dana mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat, periksa apakah instrumen dapat dicairkan kapan saja, apakah ada masa tunggu, dan apakah penjualan sebelum jatuh tempo dapat menimbulkan kerugian.
6. Periksa biaya dan legalitas penyedia
Biaya transaksi, biaya pengelolaan, pajak, dan penalti memengaruhi hasil bersih yang diterima investor.
Pastikan juga penyedia atau penjual produk memiliki izin sesuai kegiatan usahanya, periksa regulator yang mengawasinya, dan baca hak, kewajiban, serta risiko dalam dokumen resmi.
OJK mengingatkan masyarakat untuk memeriksa legalitas dan kewajaran tawaran sebelum berinvestasi.
7. Lakukan diversifikasi
Diversifikasi adalah penyebaran dana ke beberapa aset dengan karakteristik risiko berbeda untuk mengurangi ketergantungan pada satu produk atau satu penerbit.
Diversifikasi tidak menghilangkan seluruh risiko, dan memiliki banyak produk yang berisi aset serupa belum tentu menghasilkan penyebaran risiko yang memadai.
Bagaimana Memilih Instrumen Investasi Saat Pasar Saham Bergejolak?
Memilih instrumen investasi saat pasar saham bergejolak sebaiknya dimulai dengan mengevaluasi ulang tujuan dan jangka waktu setiap pos dana, bukan dengan menjual seluruh aset atau membeli sebanyak mungkin saham yang sudah turun.
Gejolak pasar, seperti penurunan IHSG 11,57% pada 16 Oktober 2026, adalah momen untuk menguji apakah alokasi aset masih sesuai profil risiko.
Analis yang dikutip Tirto pada 19 Oktober 2026 menyarankan investor ritel mengutamakan pengendalian risiko, tidak menjual karena panik, dan tidak terburu-buru membeli saham yang harganya telah turun tajam selama tekanan jual masih berlangsung (Tirto.id, 19 Oktober 2026).
Beberapa langkah evaluasi yang dapat dilakukan investor:
Pisahkan dana berdasarkan waktu kebutuhan. Dana yang akan dipakai dalam waktu dekat tidak seharusnya bergantung pada instrumen yang berfluktuasi tinggi.
Periksa ulang profil risiko. Reaksi emosional saat portofolio turun adalah informasi berharga tentang toleransi risiko yang sebenarnya.
Bedakan penurunan harga akibat sentimen dan akibat fundamental. Kinerja keuangan yang baik tidak membuat harga saham kebal terhadap aksi jual pasar secara luas (Kompas, 17 Oktober 2026).
Jangan berasumsi satu aset selalu menjadi tempat aman. Emas, obligasi, dan reksa dana juga memiliki risiko masing-masing, seperti dibahas pada Tabel 1.
Pantau informasi resmi. Status usulan MSCI masih konsultasi hingga 30 April 2027, sehingga keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada rumor.
Instrumen Investasi Apa yang Sesuai untuk Setiap Tujuan Keuangan?
Instrumen investasi yang sesuai untuk setiap tujuan keuangan ditentukan oleh faktor yang paling diprioritaskan dalam tujuan tersebut, seperti akses dana, tenor, atau potensi pertumbuhan.
Tabel berikut adalah ilustrasi, bukan rekomendasi yang berlaku untuk semua orang.
Tabel 3. Ilustrasi Pemilihan Instrumen Berdasarkan Kebutuhan
Kebutuhan | Faktor yang Diprioritaskan | Instrumen yang Dapat Dipelajari |
Dana darurat dan kebutuhan dekat | Akses dana dan kestabilan nilai | Tabungan, reksa dana pasar uang |
Tujuan dengan jangka waktu tertentu | Tenor, ketentuan pencairan, risiko | Deposito, SBN ritel, reksa dana pendapatan tetap |
Pendapatan rutin tanpa rencana menjual | Kepastian kupon dan tenor | SBR atau ST sesuai seri yang ditawarkan |
Kupon tetap dengan opsi jual sebelum jatuh tempo | Kupon dan likuiditas pasar sekunder | ORI, SR, obligasi |
Tujuan jangka panjang | Potensi pertumbuhan dan toleransi fluktuasi | Saham, reksa dana saham, ETF |
Eksposur ke banyak aset sekaligus | Komposisi portofolio dan pengelolaan | Reksa dana sesuai jenisnya, ETF |
Sumber: diolah dari Bursa Efek Indonesia, OJK, dan Bareksa. Data per Oktober 2026.
Dua investor dengan tujuan sama dapat membutuhkan instrumen berbeda karena kondisi keuangan, tanggungan, pengalaman, dan toleransi risikonya tidak sama.
Kesalahan Apa yang Perlu Dihindari Saat Memilih Instrumen Investasi?
Kesalahan paling umum saat memilih instrumen investasi adalah mengejar imbal hasil tanpa memahami risikonya. Kesalahan lain yang perlu dihindari:
Mengejar janji keuntungan tinggi dan pasti. OJK mengingatkan masyarakat untuk menilai kewajaran tawaran dan memeriksa legalitas.
Memakai dana yang akan segera dibutuhkan. Instrumen berfluktuasi atau bertenor dapat menyulitkan saat kebutuhan mendesak muncul.
Membeli produk yang tidak dipahami. Ketahui cara kerja, sumber keuntungan, biaya, dan skenario kerugian sebelum bertransaksi.
Mengikuti pilihan orang lain. Instrumen yang cocok bagi orang lain belum tentu sesuai kondisi keuangan pribadi.
Mengabaikan pemantauan. Evaluasi kesesuaian instrumen ketika tujuan, kondisi keuangan, atau karakteristik produk berubah.
Kesimpulan untuk Investor
Cara memilih instrumen investasi yang tepat adalah menilai hubungan antara tujuan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, kemampuan menghadapi kerugian, dan karakteristik produk.
Pilihan terbaik bukan selalu instrumen dengan potensi keuntungan tertinggi, melainkan instrumen yang paling sesuai dengan kondisi keuangan setelah risikonya dipahami.
Langkah praktis yang dapat dilakukan investor mulai hari ini:
Pastikan dana darurat sudah tersedia di instrumen yang mudah dicairkan sebelum menambah porsi aset berisiko.
Kelompokkan dana berdasarkan tujuan dan waktu kebutuhan, lalu cocokkan setiap kelompok dengan instrumen yang sesuai.
Isi atau perbarui kuesioner profil risiko, terutama jika reaksi Anda terhadap koreksi IHSG Oktober 2026 berbeda dari perkiraan.
Untuk SBN ritel, pahami perbedaan seri tradable dan non-tradable sebelum masa penawaran ST017 dibuka pada 6 November 2026.
Gunakan riset dan informasi pasar dari sumber berizin sebagai bahan pertimbangan, bukan rumor media sosial.
KAF Sekuritas Indonesia adalah perusahaan sekuritas di Indonesia yang menyediakan layanan investasi dan perdagangan saham bagi investor ritel maupun institusi.
Investor dapat memanfaatkan riset dan informasi pasar modal dari perusahaan efek berizin sebagai salah satu bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
FAQ Seputar Cara Memilih Instrumen Investasi
1. Apa instrumen investasi yang cocok untuk pemula?
Instrumen investasi yang cocok untuk pemula adalah instrumen yang cara kerja dan risikonya sudah dipahami serta sesuai tujuan dan profil risiko masing-masing. Banyak pemula memulai dari instrumen dengan fluktuasi relatif rendah, seperti reksa dana pasar uang, sambil mempelajari instrumen lain secara bertahap.
2. Apakah saham cocok untuk dana darurat? Saham tidak cocok untuk dana darurat karena harga saham dapat turun tajam tepat ketika dana dibutuhkan. Dana darurat lebih sesuai ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan dan nilainya relatif stabil.
3. Apakah deposito pasti dijamin LPS? Deposito tidak otomatis dijamin LPS, karena simpanan harus memenuhi kriteria 3T: tercatat di pembukuan bank, bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan, dan tidak terkait tindakan yang merugikan bank. Untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027, tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum adalah 3,75%.
4. Apa bedanya ORI dan SBR? ORI memiliki kupon tetap dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan SBR memiliki kupon mengambang dengan batas bawah dan tidak dapat diperdagangkan. SBR lebih sesuai bagi investor yang berencana memegang hingga jatuh tempo.
5. Apakah saat IHSG turun sebaiknya memindahkan semua dana ke instrumen yang lebih aman? Memindahkan seluruh dana saat IHSG turun belum tentu tepat, karena keputusan alokasi sebaiknya didasarkan pada tujuan, jangka waktu, dan profil risiko, bukan reaksi terhadap satu periode penurunan. Investor perlu mengevaluasi apakah dana di saham memang dialokasikan untuk jangka panjang dan sesuai toleransi risikonya.
Ditinjau
Tasrul Tanar, CSA Senior Analyst KAF Sekuritas Indonesia
Tasrul Tanar, CSA adalah Senior Analyst KAF Sekuritas Indonesia dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia riset dan pasar modal Indonesia. Memegang sertifikasi Certified Securities Analyst (CSA) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE), ia berfokus pada riset saham, analisis fundamental dan teknikal, analisis emiten, IHSG, strategi investasi, dan perkembangan pasar modal Indonesia.
Melalui riset berbasis data dan pengalaman panjang di industri pasar modal, Tasrul Tanar menghadirkan analisis saham Indonesia, prospek saham, berita pasar saham, dan strategi investasi untuk membantu investor memahami peluang dan risiko di pasar modal secara lebih terukur.
Seputar KAF Sekuritas Indonesia
KAF Sekuritas Indonesia adalah perusahaan sekuritas di Indonesia yang menyediakan layanan investasi dan perdagangan saham bagi investor ritel maupun institusi. Didukung pengalaman di industri pasar modal, KAF Sekuritas Indonesia menghadirkan akses online trading saham, data pasar, riset saham, analisis emiten, sesi konsultasi langsung dengan senior analyst, dan informasi pasar modal Indonesia untuk membantu investor mengambil keputusan investasi secara lebih percaya diri.
Referensi
Kompas.id - Gamang Investor Ritel di Tengah Rontoknya IHSG (17 Oktober 2026). https://www.kompas.id/artikel/gamang-investor-ritel-di-tengah-gejolak-ihsg
Cermati Invest - Cermati Invest Weekly Update 19 Oktober 2026. https://invest.cermati.com/artikel/amp/cermati-invest-weekly-update-19-oktober-2026
Bisnis.com - Rekap Kinerja Pasar Sepekan: IHSG Naik 4,9%, BMRI Pimpin Top Leaders (24 Oktober 2026). https://market.bisnis.com/read/20261024/7/2015386/rekap-kinerja-pasar-sepekan-ihsg-naik-49-bmri-pimpin-top-leaders
Kabarbursa - BEI Minta Klarifikasi Terkait Ancaman MSCI Turunkan Status Pasar RI (Oktober 2026). https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/bei-minta-klarifikasi-terkait-ancaman-msci-turunkan-status-pasar-ri
Bisnis.com - Jumlah Investor Pasar Modal Bertambah 9,9 Juta sepanjang 2026 (10 Agustus 2026). https://market.bisnis.com/read/20260810/7/1994993/jumlah-investor-pasar-modal-bertambah-99-juta-sepanjang-2026
Kontan - LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan 3,75% hingga Januari 2027 (30 September 2026). https://keuangan.kontan.co.id/news/lps-pertahankan-tingkat-bunga-penjaminan-375-hingga-januari-2027
Bisnis.com - Tok! LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan usai BI Rate Naik (29 Mei 2026). https://finansial.bisnis.com/read/20260529/90/1977204/tok-lps-pertahankan-tingkat-bunga-penjaminan-usai-bi-rate-naik
Bisnis.com - Catat! Ini Jadwal Penerbitan Obligasi SBN Ritel 2026 (12 Januari 2026). https://market.bisnis.com/read/20260112/92/1943490/catat-ini-jadwal-penerbitan-obligasi-sbn-ritel-2026
Bareksa - Jadwal SBN 2026: Panduan Lengkap Investasi Surat Berharga Negara (9 Januari 2026). https://www.bareksa.com/berita/sbn/2026-01-09/jadwal-sbn-2026-panduan-lengkap-investasi-surat-berharga-negara
Cermati Invest - Catat Tanggalnya! Ini Jadwal SBN yang Siap Dirilis Tahun 2026. https://invest.cermati.com/artikel/jadwal-sbn-yang-siap-diliris
Bank Sumsel Babel - Produk SBN Ritel. https://banksumselbabel.com/en/product/cat/13/treasury/46/sbn-ritel
Suara.com - Harga Acuan Emas Ambles, Investor Mulai Beralih ke Obligasi (15 Oktober 2026). https://www.suara.com/bisnis/2026/10/15/114654/harga-acuan-emas-ambles-investor-mulai-beralih-ke-obligasi
Treasury.id - Pengaruh Turunnya IHSG terhadap Harga Emas. https://www.treasury.id/pengaruh-turunnya-ihsg-terhadap-harga-emas-benarkah-emas-selalu-naik-saat-saham-rontok
Tirto.id - Yang Harus Dilakukan Investor Ritel saat IHSG Ambrol Imbas MSCI (19 Oktober 2026). https://tirto.id/yang-harus-dilakukan-investor-ritel-saat-ihsg-ambrol-imbas-msci-hDXW
Bursa Efek Indonesia - Mulai investasi dengan PAHAM yuk! https://www.idx.id/id/investor/paham/
Bursa Efek Indonesia - Reksa Dana. https://www.idx.id/id/produk/reksa-dana/
Bursa Efek Indonesia - Surat Utang (Obligasi). https://www.idx.id/id/produk/surat-utang-obligasi/
Bursa Efek Indonesia - Derivatif. https://www.idx.id/id/produk/derivatif/
Otoritas Jasa Keuangan - Tips Investasi Secara Aman. https://ojk.go.id/waspada-investasi/id/Pages/Tips-Investasi-Secara-Aman.aspx
Otoritas Jasa Keuangan - Waspada Investasi. https://www.ojk.go.id/waspada-investasi/id/FAQ.aspx
Investor.gov - Asset Allocation and Diversification. https://www.investor.gov/introduction-investing/getting-started/asset-allocation




Komentar