top of page

Daftar Saham Teknologi BEI 2026: Bisnisnya Apa, Untungnya dari Mana?

3 hari yang lalu
8 menit membaca
Daftar Saham Teknologi
Daftar Saham Teknologi

Sebelum membahas lebih dalam soal Daftar Saham Teknologi, yang harus diketahui adalah Sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak hanya berisi perusahaan aplikasi atau e-commerce. Di dalamnya terdapat perusahaan data center, penyedia infrastruktur digital, distributor perangkat teknologi, perusahaan software dan IT services, platform digital, hingga bisnis pembayaran dan media. Karena model bisnisnya berbeda, cara membaca kinerja setiap emiten juga tidak bisa disamaratakan.


Dalam menganalisis saham teknologi di Indonesia, pendekatan berdasarkan model bisnis menjadi penting untuk memahami bagaimana masing-masing perusahaan menghasilkan pendapatan, menggunakan modal, mempertahankan margin, dan menghasilkan arus kas.

Daftar isi

Apa yang Dimaksud Saham Teknologi di BEI?

Bursa Efek Indonesia mengelompokkan perusahaan teknologi berdasarkan klasifikasi industri IDX-IC. Sektor teknologi (IDXTECHNO) mencakup perusahaan yang menjual produk dan jasa teknologi, termasuk jasa dan konsultan teknologi informasi, software development, produsen perangkat jaringan dan komputer, perangkat elektronik, semikonduktor, serta layanan internet non-koneksi. Dengan cakupan tersebut, sektor teknologi tidak dapat dipandang sebagai satu jenis bisnis yang seragam.


Pada 2026, terdapat 47 emiten yang masuk dalam sektor teknologi berdasarkan data yang dihimpun dari BEI. Model bisnisnya sangat beragam sehingga analisis berdasarkan ekonomi bisnis menjadi lebih relevan dibandingkan hanya menggunakan label sektoral.

Informasi mengenai klasifikasi sektor dan perusahaan tercatat dapat diverifikasi melaluiĀ website resmi Bursa Efek Indonesia.


Daftar Saham Teknologi BEI 2026

Hingga 12 Agustus 2026, terdapat 47 emiten yang masuk sektor teknologi di pasar modal Indonesia. Daftar ini mencakup perusahaan dengan model bisnis mulai dari platform digital dan e-commerce hingga data center, IT services, hardware, distribusi digital, dan pembayaran.


No.

Kode

Emiten

1

UVCR

Trimegah Karya Pratama Tbk.

2

BUKA

3

RUNS

Global Sukses Solusi Tbk.

4

WGSH

Wira Global Solusi Tbk.

5

WIRG

WIR ASIA Tbk.

6

GOTO

GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

7

AXIO

Tera Data Indonusa Tbk.

8

BELI

Global Digital Niaga Tbk.

9

NINE

Techno9 Indonesia Tbk.

10

ELIT

Data Sinergitama Jaya Tbk.

11

IRSX

Aviana Sinar Abadi Tbk.

12

CHIP

Pelita Teknologi Global Tbk.

13

TRON

Teknologi Karya Digital Nusa Tbk.

14

MENN

Menn Teknologi Indonesia Tbk.

15

AWAN

Era Digital Media Tbk.

16

JATI

Informasi Teknologi Indonesia Tbk.

17

CYBR

ITSEC Asia Tbk.

18

IOTF

Sumber Sinergi Makmur Tbk.

19

MSTI

Mastersystem Infotama Tbk.

20

TOSK

Topindo Solusi Komunika Tbk.

21

MPIX

Mitra Pedagang Indonesia Tbk.

22

AREA

Dunia Virtual Online Tbk.

23

ATIC

Anabatic Technologies Tbk.

24

EMTK

Elang Mahkota Teknologi Tbk.

25

KREN

Quantum Clovera Investama Tbk.

26

LMAS

Limas Indonesia Makmur Tbk.

27

MLPT

Multipolar Technology Tbk.

28

MTDL

Metrodata Electronics Tbk.

29

PTSN

Sat Nusapersada Tbk.

30

SKYB

Northcliff Citranusa Indonesia Tbk.

31

KIOS

Kioson Komersial Indonesia Tbk.

32

MCAS

M Cash Integrasi Tbk.

33

NFCX

NFC Indonesia Tbk.

34

DIVA

Distribusi Voucher Nusantara Tbk.

35

LUCK

Sentral Mitra Informatika Tbk.

36

ENVY

Envy Technologies Indonesia Tbk.

37

HDIT

Hensel Davest Indonesia Tbk.

38

TFAS

Telefast Indonesia Tbk.

39

DMMX

Digital Mediatama Maxima Tbk.

40

GLVA

Galva Technologies Tbk.

41

PGJO

Tourindo Guide Indonesia Tbk.

42

CASH

Cashlez Worldwide Indonesia Tbk.

43

TECH

Indosterling Technomedia Tbk.

44

WIFI

Solusi Sinergi Digital Tbk.

45

DCII

DCI Indonesia Tbk.

46

EDGE

Indointernet Tbk.

47

ZYRX

Zyrexindo Mandiri Buana Tbk.


Empat Model Bisnis Utama di Sektor Teknologi

Saham teknologi Indonesia pada 2026 mencakup emiten dengan model bisnis yang cukup beragam. Mengelompokkannya berdasarkan cara perusahaan menghasilkan pendapatan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sumber pendapatan, kebutuhan modal, dan metrik yang perlu diperhatikan.


Secara umum, emiten teknologi di BEI dapat dikelompokkan ke dalam empat model bisnis utama:

1. Data Center dan Infrastruktur Digital

Data center memiliki karakteristik bisnis yang lebih dekat dengan infrastruktur dibandingkan software murni. Pendapatan perusahaan berkaitan dengan kapasitas yang tersedia, tingkat utilisasi, kontrak pelanggan, ketersediaan listrik, dan ekspansi fasilitas. Emiten seperti DCII, EDGE, dan WIFI berada dalam kelompok yang berkaitan dengan data center dan infrastruktur digital.


Beberapa indikator penting yang dapat digunakan antara lain:

  • IT load/MW (megawatt), untuk melihat kapasitas yang tersedia;

  • Utilization, untuk melihat seberapa besar kapasitas yang telah dimonetisasi;

  • Revenue per MW, untuk melihat produktivitas kapasitas;

  • Capex per MW, untuk mengukur kebutuhan modal ekspansi;

  • Power availability, sebagai faktor penting dalam operasional data center;

  • Contract duration, untuk melihat visibility pendapatan;

  • Customer concentration, untuk mengukur ketergantungan terhadap pelanggan besar.


Pertumbuhan revenue pada bisnis ini perlu dilihat bersama dengan pertumbuhan kapasitas dan utilisasi. Kenaikan pendapatan dapat berasal dari penambahan kapasitas, peningkatan fill rate, perubahan harga, atau kombinasi ketiganya. Karena itu, investor perlu melihat sumber pertumbuhan revenue untuk menilai seberapa produktif kapasitas perusahaan.


2. IT Services dan Distribution

Kelompok IT services dan distribution mencakup perusahaan seperti MTDL, MLPT, MSTI, ATIC, dan GLVA. Model bisnisnya dapat mencakup distribusi hardware dan software, system integration, managed services, serta berbagai solusi teknologi untuk pelanggan korporasi.


Pada model bisnis ini, pertumbuhan pendapatan perlu dilihat bersama gross marginĀ dan operating margin. Revenue yang meningkat juga dapat membutuhkan modal kerja lebih besar apabila pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan inventory dan piutang.


Karena itu, ROIC danĀ free cash flow menjadi indikator penting untuk melihat apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan nilai ekonomi. Ketergantungan terhadap principal atau vendor besar juga perlu diperhatikan.


3. E-CommerceĀ dan Platform Digital

GOTO, BUKA, dan BELI merupakan contoh perusahaan dalam kelompok platform dan commerce. Berbeda dengan perusahaan yang menjual produk secara langsung, platform perlu dilihat melalui sejumlah metrik tambahan, misalnya Gross Merchandise Value (GMV)Ā yang perlu dibedakan dari revenue. GMV menunjukkan nilai transaksi bruto, sedangkan revenue menunjukkan bagian transaksi yang berhasil dimonetisasi perusahaan.


Metrik yang relevan mencakup:


  • GMV;

  • Take rate;

  • Contribution margin;

  • Customer acquisition cost (CAC);

  • Retention;

  • Lifetime value (LTV);

  • Free cash flow;

  • Cash burn.


Pertumbuhan GMV, misalnya, belum tentu menghasilkan pertumbuhan revenue dengan tingkat yang sama. Perubahan take rateĀ dan biaya variabel juga dapat memengaruhi contribution margin.


4. Digital, Payment, dan Media

Kelompok ini mencakup perusahaan seperti MCAS, NFCX, CASH, DMMX, dan EMTK. Sumber pendapatannya dapat berasal dari biaya transaksi, distribusi digital, pembayaran, layanan media, maupun advertising technology.


Metrik yang relevan antara lain total payment volumeĀ (TPV), take rate, pertumbuhan transaksi, margin, dan cash conversion. Karakter bisnis yang berbeda tersebut membuat perbandingan antar-emiten perlu dilakukan dengan peer yang memiliki sumber pendapatan dan struktur biaya yang serupa.


Bagaimana Kinerja Pendapatan Emiten Teknologi pada 2026?

Kinerja pendapatan memberikan gambaran awal mengenai skala bisnis masing-masing emiten teknologi. Per 2026, terdapat 35 emiten teknologi yang telah menyampaikan laporan keuangan untuk kuartal I.


Dari sisi pendapatan, BELI mencatatkan angka terbesar pada kuartal I 2026 sebesar Rp7,84 triliun, diikuti MTDL sebesar Rp6,71 triliun dan EMTK sebesar Rp5,81 triliun. GOTO, BUKA, ATIC, PTSN, MSTI, DCII, dan MCAS melengkapi sepuluh emiten dengan pendapatan terbesar pada periode yang sama.


Berikut 10 emiten dengan pendapatan usaha terbesar pada kuartal I 2026:

Kode

Pendapatan Q1 2026

BELI

Rp7,84 T

MTDL

Rp6,71 T

EMTK

Rp5,81 T

GOTO

Rp5,34 T

BUKA

Rp2,37 T

ATIC

Rp2,03 T

PTSN

Rp1,24 T

MSTI

Rp1,10 T

DCII

Rp858,1 M

MCAS

Rp845,42 M


Perbedaan skala pendapatan tersebut menunjukkan bahwa sektor teknologi memiliki struktur bisnis yang cukup beragam. BELI dan MTDL, misalnya, memiliki karakter pendapatan yang berbeda dengan DCII yang bergerak pada layanan data center.


Karena itu, revenue sebaiknya tidak dilihat secara terpisah. Untuk memahami kinerja suatu emiten secara lebih menyeluruh, pertumbuhan pendapatan perlu dibaca bersama margin, kebutuhan modal kerja, belanja modal, arus kas, serta indikator operasional yang sesuai dengan model bisnisnya.

Metrik Fundamental untuk Menganalisis Saham Teknologi

Investor yang ingin memahami saham teknologi Indonesia 2026 sebaiknya tidak memulai dari pertanyaan ā€œharga sahamnya berapa?ā€, melainkan dari pertanyaan ā€œbagaimana perusahaan menghasilkan uang?ā€. Indikator fundamental perlu disesuaikan dengan model bisnis masing-masing perusahaan. Berikut framework yang dapat digunakan.


1. Analisis pertumbuhan revenue

Pertumbuhan pendapatan perlu diurai menjadi volume, harga, akuisisi pelanggan, ekspansi kapasitas, atau perubahan product mix. Revenue yang tumbuh karena peningkatan volume memiliki implikasi berbeda dengan revenue yang tumbuh karena kenaikan harga.


2. Periksa margin

Gross margin dan operating marginĀ membantu menunjukkan apakah perusahaan memiliki ruang untuk menghasilkan operating leverage. Untuk perusahaan distribusi, misalnya, revenue dapat tumbuh cepat tetapi margin tetap rendah.


3. Perhatikan arus kas

Free cash flowĀ (FCF) penting karena laba akuntansi tidak selalu sama dengan kas yang benar-benar tersedia. Dalam bisnis data center, capex besar dapat membuat EBITDA meningkat sementara FCF masih tertekan. Sebaliknya, perusahaan asset-lightĀ dapat memiliki konversi kas yang berbeda.


4. Gunakan metrik sesuai model bisnis

Untuk platform, gunakan GMV, take rate, contribution margin, CAC, retention, dan LTV. Untuk data center, gunakan MW, utilization, revenue/MW, capex/MW, kontrak, dan power availability. Untuk distributor, perhatikan inventory turnover, piutang, cash conversion, serta ketergantungan terhadap vendor.


5. Periksa neraca

Kas, utang,Ā lease liabilities, dan kebutuhan modal kerja dapat mengubah interpretasi sebuah perusahaan dengan pertumbuhan revenue tinggi.


6. Evaluasi valuasi saham

Valuasi saham teknologi harus disesuaikan dengan karakter bisnis. Kerangka yang dapat digunakan antara lain:

Model bisnis

Multiple yang dapat diuji

Metrik pendamping

Data center

EV/EBITDA, EV/Revenue

MW, utilization, capex/MW, FCF

IT services

P/E, EV/EBITDA

ROIC, recurring revenue, working capital

Platform

EV/Revenue, EV/GMV, P/E untuk bisnis matang

Take rate, contribution margin, FCF

Hardware

P/E, EV/EBITDA, P/B

Inventory turnover, ROIC, margin

Payment/digital

P/E, EV/Revenue

TPV, take rate, transaction growth


Penggunaan multiple harus mempertimbangkan pertumbuhan, margin, kebutuhan modal, kualitas arus kas, serta posisi perusahaan dibandingkan peer yang memiliki model bisnis serupa.


Mengapa Model Bisnis Lebih Penting daripada Label ā€œTeknologiā€?

Kesamaan sektor tidak berarti kesamaan economics. Data center membutuhkan investasi fasilitas dan listrik. Distributor membutuhkan modal kerja untuk inventory dan piutang. Platform digital perlu membangun volume transaksi dan monetisasi. Sementara perusahaan payment dapat lebih sensitif terhadap volume transaksi dan take rate. Karena itu, cara menganalisis saham teknologi perlu dimulai dari mekanisme penciptaan pendapatan dan biaya. Growth, profitability, cash flow, balance sheet, unit economics, recurring revenue, valuation, dan governance juga dapat digunakan sebagai filter utama.


Risiko yang Perlu Diperhatikan

Sektor teknologi memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhitungkan dalam analisis fundamental.


1. Risiko valuasi

Ekspektasi pertumbuhan dapat sudah tercermin dalam harga saham sehingga pertumbuhan bisnis dan return saham tidak selalu bergerak dengan cara yang sama.


2. Risiko capex

Pada perusahaan data centerĀ dan infrastruktur, ekspansi membutuhkan modal besar. EBITDA yang tumbuh tidak selalu berarti FCF ikut meningkat.


3. Risiko persaingan

Sebagian layanan teknologi memiliki switching costĀ yang relatif rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap harga dan margin.


4. Risiko regulasi

Data, pembayaran digital, fintech, e-commerce, dan platform dapat terpengaruh oleh perubahan kebijakan dan regulasi.


5. Customer concentration

Ketergantungan terhadap sejumlah pelanggan besar dapat meningkatkan risiko apabila salah satu pelanggan mengurangi penggunaan layanan atau berpindah ke penyedia lain.


6. Vendor concentration

Distributor dan system integrator dapat memiliki ketergantungan terhadap principal atau vendor tertentu.


7. Currency exposure

Perangkat keras, software, atau kontrak tertentu dapat memiliki eksposur terhadap mata uang asing.


8. Execution risk

Ekspansi kapasitas, implementasi proyek, akuisisi pelanggan, dan pengembangan produk membutuhkan eksekusi yang konsisten.


Selain faktor tersebut, perkembangan teknologi yang cepat dapat menimbulkan risiko technological obsolescence. Struktur transaksi, akuisisi, konsolidasi, dan perubahan metode pencatatan juga perlu diperhatikan ketika membaca laporan keuangan emiten teknologi.


Bagaimana Menyusun Screening Saham Teknologi?

Screening saham teknologi dapat dimulai dengan tujuh pertanyaan sederhana:

  1. Apakah revenue atau GMV tumbuh?

  2. Dari mana pertumbuhan tersebut berasal?

  3. Apakah gross marginĀ dan EBITDA margin membaik?

  4. Apakah ROIC meningkat?

  5. Apakah perusahaan menghasilkan atau menuju free cash flowĀ positif?

  6. Berapa besar recurring revenue?

  7. Apakah valuasinya masuk akal jika dibandingkan dengan peer yang memiliki model bisnis serupa?


Untuk platform, tambahkan CAC, retention, take rate, danĀ contribution margin.

Untuk data center, tambahkan MW, utilization, capex/MW, kontrak, dan power availability.

Untuk distributor, tambahkan inventory, piutang, cash conversion, dan vendor concentration.


Peer Comparison: Jangan Bandingkan Semua Emiten Sekaligus

Salah satu kesalahan dalam analisis sektor adalah membandingkan perusahaan hanya karena semuanya masuk kategori teknologi. Framework yang lebih relevan adalah membandingkan perusahaan berdasarkan economics bisnisnya.

Contohnya:

ā—Ā Ā Ā Ā Ā  DCII dan EDGE untuk data center/connectivity;

ā—Ā Ā Ā Ā Ā  MTDL, MLPT, MSTI, dan ATIC untuk IT services;

ā—Ā Ā Ā Ā Ā  GOTO, BUKA, dan BELI untuk platform/commerce;

ā—Ā Ā Ā Ā Ā  PTSN, AXIO, dan ZYRX untuk hardware.

Pengelompokan tersebut bukan ranking kualitas perusahaan, melainkan cara untuk membuat perbandingan fundamental lebih apple-to-apple.


Kesimpulan

Pada akhirnya, saham teknologi Indonesia 2026 tidak dapat dipahami hanya melalui label ā€œteknologiā€. Sektor ini mencakup bisnis dengan economics yang sangat berbeda, mulai dari data center dan infrastruktur, IT services, distribusi hardware, e-commerce, platform digital, hingga payment dan media.

Karena itu, daftar saham teknologi BEI sebaiknya digunakan sebagai titik awal screening, bukan sebagai kesimpulan investasi.


Investor kemudian dapat mengelompokkan emiten berdasarkan model bisnis, mengukur pertumbuhan revenue, margin, ROIC, arus kas, neraca, unit economics, recurring revenue, dan valuasi.


Pendekatan tersebut membuat analisis menjadi lebih spesifik: bukan sekadar mencari perusahaan yang disebut ā€œteknologiā€, tetapi memahami bagaimana masing-masing bisnis menghasilkan uang, membutuhkan modal, menghadapi risiko, dan mengubah pertumbuhan menjadi cash flow.

Disclaimer

Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Referensi

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page