Daftar Saham Teknologi BEI 2026: Bisnisnya Apa, Untungnya dari Mana?

Sebelum membahas lebih dalam soal Daftar Saham Teknologi, yang harus diketahui adalah Sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak hanya berisi perusahaan aplikasi atau e-commerce. Di dalamnya terdapat perusahaan data center, penyedia infrastruktur digital, distributor perangkat teknologi, perusahaan software dan IT services, platform digital, hingga bisnis pembayaran dan media. Karena model bisnisnya berbeda, cara membaca kinerja setiap emiten juga tidak bisa disamaratakan.
Dalam menganalisis saham teknologi di Indonesia, pendekatan berdasarkan model bisnis menjadi penting untuk memahami bagaimana masing-masing perusahaan menghasilkan pendapatan, menggunakan modal, mempertahankan margin, dan menghasilkan arus kas.
Daftar isi
Apa yang Dimaksud Saham Teknologi di BEI?
Bursa Efek Indonesia mengelompokkan perusahaan teknologi berdasarkan klasifikasi industri IDX-IC. Sektor teknologi (IDXTECHNO) mencakup perusahaan yang menjual produk dan jasa teknologi, termasuk jasa dan konsultan teknologi informasi, software development, produsen perangkat jaringan dan komputer, perangkat elektronik, semikonduktor, serta layanan internet non-koneksi. Dengan cakupan tersebut, sektor teknologi tidak dapat dipandang sebagai satu jenis bisnis yang seragam.
Pada 2026, terdapat 47 emiten yang masuk dalam sektor teknologi berdasarkan data yang dihimpun dari BEI. Model bisnisnya sangat beragam sehingga analisis berdasarkan ekonomi bisnis menjadi lebih relevan dibandingkan hanya menggunakan label sektoral.
Informasi mengenai klasifikasi sektor dan perusahaan tercatat dapat diverifikasi melaluiĀ website resmi Bursa Efek Indonesia.
Daftar Saham Teknologi BEI 2026
Hingga 12 Agustus 2026, terdapat 47 emiten yang masuk sektor teknologi di pasar modal Indonesia. Daftar ini mencakup perusahaan dengan model bisnis mulai dari platform digital dan e-commerce hingga data center, IT services, hardware, distribusi digital, dan pembayaran.
No. | Kode | Emiten |
1 | UVCR | Trimegah Karya Pratama Tbk. |
2 | BUKA | Bukalapak.com Tbk. |
3 | RUNS | Global Sukses Solusi Tbk. |
4 | WGSH | Wira Global Solusi Tbk. |
5 | WIRG | WIR ASIA Tbk. |
6 | GOTO | GoTo Gojek Tokopedia Tbk. |
7 | AXIO | Tera Data Indonusa Tbk. |
8 | BELI | Global Digital Niaga Tbk. |
9 | NINE | Techno9 Indonesia Tbk. |
10 | ELIT | Data Sinergitama Jaya Tbk. |
11 | IRSX | Aviana Sinar Abadi Tbk. |
12 | CHIP | Pelita Teknologi Global Tbk. |
13 | TRON | Teknologi Karya Digital Nusa Tbk. |
14 | MENN | Menn Teknologi Indonesia Tbk. |
15 | AWAN | Era Digital Media Tbk. |
16 | JATI | Informasi Teknologi Indonesia Tbk. |
17 | CYBR | ITSEC Asia Tbk. |
18 | IOTF | Sumber Sinergi Makmur Tbk. |
19 | MSTI | Mastersystem Infotama Tbk. |
20 | TOSK | Topindo Solusi Komunika Tbk. |
21 | MPIX | Mitra Pedagang Indonesia Tbk. |
22 | AREA | Dunia Virtual Online Tbk. |
23 | ATIC | Anabatic Technologies Tbk. |
24 | EMTK | Elang Mahkota Teknologi Tbk. |
25 | KREN | Quantum Clovera Investama Tbk. |
26 | LMAS | Limas Indonesia Makmur Tbk. |
27 | MLPT | Multipolar Technology Tbk. |
28 | MTDL | Metrodata Electronics Tbk. |
29 | PTSN | Sat Nusapersada Tbk. |
30 | SKYB | Northcliff Citranusa Indonesia Tbk. |
31 | KIOS | Kioson Komersial Indonesia Tbk. |
32 | MCAS | M Cash Integrasi Tbk. |
33 | NFCX | NFC Indonesia Tbk. |
34 | DIVA | Distribusi Voucher Nusantara Tbk. |
35 | LUCK | Sentral Mitra Informatika Tbk. |
36 | ENVY | Envy Technologies Indonesia Tbk. |
37 | HDIT | Hensel Davest Indonesia Tbk. |
38 | TFAS | Telefast Indonesia Tbk. |
39 | DMMX | Digital Mediatama Maxima Tbk. |
40 | GLVA | Galva Technologies Tbk. |
41 | PGJO | Tourindo Guide Indonesia Tbk. |
42 | CASH | Cashlez Worldwide Indonesia Tbk. |
43 | TECH | Indosterling Technomedia Tbk. |
44 | WIFI | Solusi Sinergi Digital Tbk. |
45 | DCII | DCI Indonesia Tbk. |
46 | EDGE | Indointernet Tbk. |
47 | ZYRX | Zyrexindo Mandiri Buana Tbk. |
Empat Model Bisnis Utama di Sektor Teknologi
Saham teknologi Indonesia pada 2026 mencakup emiten dengan model bisnis yang cukup beragam. Mengelompokkannya berdasarkan cara perusahaan menghasilkan pendapatan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sumber pendapatan, kebutuhan modal, dan metrik yang perlu diperhatikan.
Secara umum, emiten teknologi di BEI dapat dikelompokkan ke dalam empat model bisnis utama:
1. Data Center dan Infrastruktur Digital
Data center memiliki karakteristik bisnis yang lebih dekat dengan infrastruktur dibandingkan software murni. Pendapatan perusahaan berkaitan dengan kapasitas yang tersedia, tingkat utilisasi, kontrak pelanggan, ketersediaan listrik, dan ekspansi fasilitas. Emiten seperti DCII, EDGE, dan WIFI berada dalam kelompok yang berkaitan dengan data center dan infrastruktur digital.
Beberapa indikator penting yang dapat digunakan antara lain:
IT load/MW (megawatt), untuk melihat kapasitas yang tersedia;
Utilization, untuk melihat seberapa besar kapasitas yang telah dimonetisasi;
Revenue per MW, untuk melihat produktivitas kapasitas;
Capex per MW, untuk mengukur kebutuhan modal ekspansi;
Power availability, sebagai faktor penting dalam operasional data center;
Contract duration, untuk melihat visibility pendapatan;
Customer concentration, untuk mengukur ketergantungan terhadap pelanggan besar.
Pertumbuhan revenue pada bisnis ini perlu dilihat bersama dengan pertumbuhan kapasitas dan utilisasi. Kenaikan pendapatan dapat berasal dari penambahan kapasitas, peningkatan fill rate, perubahan harga, atau kombinasi ketiganya. Karena itu, investor perlu melihat sumber pertumbuhan revenue untuk menilai seberapa produktif kapasitas perusahaan.
2. IT Services dan Distribution
Kelompok IT services dan distribution mencakup perusahaan seperti MTDL, MLPT, MSTI, ATIC, dan GLVA. Model bisnisnya dapat mencakup distribusi hardware dan software, system integration, managed services, serta berbagai solusi teknologi untuk pelanggan korporasi.
Pada model bisnis ini, pertumbuhan pendapatan perlu dilihat bersama gross marginĀ dan operating margin. Revenue yang meningkat juga dapat membutuhkan modal kerja lebih besar apabila pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan inventory dan piutang.
Karena itu, ROIC danĀ free cash flow menjadi indikator penting untuk melihat apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan nilai ekonomi. Ketergantungan terhadap principal atau vendor besar juga perlu diperhatikan.
3. E-CommerceĀ dan Platform Digital
GOTO, BUKA, dan BELI merupakan contoh perusahaan dalam kelompok platform dan commerce. Berbeda dengan perusahaan yang menjual produk secara langsung, platform perlu dilihat melalui sejumlah metrik tambahan, misalnya Gross Merchandise Value (GMV)Ā yang perlu dibedakan dari revenue. GMV menunjukkan nilai transaksi bruto, sedangkan revenue menunjukkan bagian transaksi yang berhasil dimonetisasi perusahaan.
Metrik yang relevan mencakup:
GMV;
Take rate;
Contribution margin;
Customer acquisition cost (CAC);
Retention;
Lifetime value (LTV);
Free cash flow;
Cash burn.
Pertumbuhan GMV, misalnya, belum tentu menghasilkan pertumbuhan revenue dengan tingkat yang sama. Perubahan take rateĀ dan biaya variabel juga dapat memengaruhi contribution margin.
4. Digital, Payment, dan Media
Kelompok ini mencakup perusahaan seperti MCAS, NFCX, CASH, DMMX, dan EMTK. Sumber pendapatannya dapat berasal dari biaya transaksi, distribusi digital, pembayaran, layanan media, maupun advertising technology.
Metrik yang relevan antara lain total payment volumeĀ (TPV), take rate, pertumbuhan transaksi, margin, dan cash conversion. Karakter bisnis yang berbeda tersebut membuat perbandingan antar-emiten perlu dilakukan dengan peer yang memiliki sumber pendapatan dan struktur biaya yang serupa.
Bagaimana Kinerja Pendapatan Emiten Teknologi pada 2026?
Kinerja pendapatan memberikan gambaran awal mengenai skala bisnis masing-masing emiten teknologi. Per 2026, terdapat 35 emiten teknologi yang telah menyampaikan laporan keuangan untuk kuartal I.
Dari sisi pendapatan, BELI mencatatkan angka terbesar pada kuartal I 2026 sebesar Rp7,84 triliun, diikuti MTDL sebesar Rp6,71 triliun dan EMTK sebesar Rp5,81 triliun. GOTO, BUKA, ATIC, PTSN, MSTI, DCII, dan MCAS melengkapi sepuluh emiten dengan pendapatan terbesar pada periode yang sama.
Berikut 10 emiten dengan pendapatan usaha terbesar pada kuartal I 2026:
Kode | Pendapatan Q1 2026 |
BELI | Rp7,84 T |
MTDL | Rp6,71 T |
EMTK | Rp5,81 T |
GOTO | Rp5,34 T |
BUKA | Rp2,37 T |
ATIC | Rp2,03 T |
PTSN | Rp1,24 T |
MSTI | Rp1,10 T |
DCII | Rp858,1 M |
MCAS | Rp845,42 M |
Perbedaan skala pendapatan tersebut menunjukkan bahwa sektor teknologi memiliki struktur bisnis yang cukup beragam. BELI dan MTDL, misalnya, memiliki karakter pendapatan yang berbeda dengan DCII yang bergerak pada layanan data center.
Karena itu, revenue sebaiknya tidak dilihat secara terpisah. Untuk memahami kinerja suatu emiten secara lebih menyeluruh, pertumbuhan pendapatan perlu dibaca bersama margin, kebutuhan modal kerja, belanja modal, arus kas, serta indikator operasional yang sesuai dengan model bisnisnya.
Metrik Fundamental untuk Menganalisis Saham Teknologi
Investor yang ingin memahami saham teknologi Indonesia 2026 sebaiknya tidak memulai dari pertanyaan āharga sahamnya berapa?ā, melainkan dari pertanyaan ābagaimana perusahaan menghasilkan uang?ā. Indikator fundamental perlu disesuaikan dengan model bisnis masing-masing perusahaan. Berikut framework yang dapat digunakan.
1. Analisis pertumbuhan revenue
Pertumbuhan pendapatan perlu diurai menjadi volume, harga, akuisisi pelanggan, ekspansi kapasitas, atau perubahan product mix. Revenue yang tumbuh karena peningkatan volume memiliki implikasi berbeda dengan revenue yang tumbuh karena kenaikan harga.
2. Periksa margin
Gross margin dan operating marginĀ membantu menunjukkan apakah perusahaan memiliki ruang untuk menghasilkan operating leverage. Untuk perusahaan distribusi, misalnya, revenue dapat tumbuh cepat tetapi margin tetap rendah.
3. Perhatikan arus kas
Free cash flowĀ (FCF) penting karena laba akuntansi tidak selalu sama dengan kas yang benar-benar tersedia. Dalam bisnis data center, capex besar dapat membuat EBITDA meningkat sementara FCF masih tertekan. Sebaliknya, perusahaan asset-lightĀ dapat memiliki konversi kas yang berbeda.
4. Gunakan metrik sesuai model bisnis
Untuk platform, gunakan GMV, take rate, contribution margin, CAC, retention, dan LTV. Untuk data center, gunakan MW, utilization, revenue/MW, capex/MW, kontrak, dan power availability. Untuk distributor, perhatikan inventory turnover, piutang, cash conversion, serta ketergantungan terhadap vendor.
5. Periksa neraca
Kas, utang,Ā lease liabilities, dan kebutuhan modal kerja dapat mengubah interpretasi sebuah perusahaan dengan pertumbuhan revenue tinggi.
6. Evaluasi valuasi saham
Valuasi saham teknologi harus disesuaikan dengan karakter bisnis. Kerangka yang dapat digunakan antara lain:
Model bisnis | Multiple yang dapat diuji | Metrik pendamping |
Data center | EV/EBITDA, EV/Revenue | MW, utilization, capex/MW, FCF |
IT services | P/E, EV/EBITDA | ROIC, recurring revenue, working capital |
Platform | EV/Revenue, EV/GMV, P/E untuk bisnis matang | Take rate, contribution margin, FCF |
Hardware | P/E, EV/EBITDA, P/B | Inventory turnover, ROIC, margin |
Payment/digital | P/E, EV/Revenue | TPV, take rate, transaction growth |
Penggunaan multiple harus mempertimbangkan pertumbuhan, margin, kebutuhan modal, kualitas arus kas, serta posisi perusahaan dibandingkan peer yang memiliki model bisnis serupa.
Mengapa Model Bisnis Lebih Penting daripada Label āTeknologiā?
Kesamaan sektor tidak berarti kesamaan economics. Data center membutuhkan investasi fasilitas dan listrik. Distributor membutuhkan modal kerja untuk inventory dan piutang. Platform digital perlu membangun volume transaksi dan monetisasi. Sementara perusahaan payment dapat lebih sensitif terhadap volume transaksi dan take rate. Karena itu, cara menganalisis saham teknologi perlu dimulai dari mekanisme penciptaan pendapatan dan biaya. Growth, profitability, cash flow, balance sheet, unit economics, recurring revenue, valuation, dan governance juga dapat digunakan sebagai filter utama.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Sektor teknologi memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhitungkan dalam analisis fundamental.
1. Risiko valuasi
Ekspektasi pertumbuhan dapat sudah tercermin dalam harga saham sehingga pertumbuhan bisnis dan return saham tidak selalu bergerak dengan cara yang sama.
2. Risiko capex
Pada perusahaan data centerĀ dan infrastruktur, ekspansi membutuhkan modal besar. EBITDA yang tumbuh tidak selalu berarti FCF ikut meningkat.
3. Risiko persaingan
Sebagian layanan teknologi memiliki switching costĀ yang relatif rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap harga dan margin.
4. Risiko regulasi
Data, pembayaran digital, fintech, e-commerce, dan platform dapat terpengaruh oleh perubahan kebijakan dan regulasi.
5. Customer concentration
Ketergantungan terhadap sejumlah pelanggan besar dapat meningkatkan risiko apabila salah satu pelanggan mengurangi penggunaan layanan atau berpindah ke penyedia lain.
6. Vendor concentration
Distributor dan system integrator dapat memiliki ketergantungan terhadap principal atau vendor tertentu.
7. Currency exposure
Perangkat keras, software, atau kontrak tertentu dapat memiliki eksposur terhadap mata uang asing.
8. Execution risk
Ekspansi kapasitas, implementasi proyek, akuisisi pelanggan, dan pengembangan produk membutuhkan eksekusi yang konsisten.
Selain faktor tersebut, perkembangan teknologi yang cepat dapat menimbulkan risiko technological obsolescence. Struktur transaksi, akuisisi, konsolidasi, dan perubahan metode pencatatan juga perlu diperhatikan ketika membaca laporan keuangan emiten teknologi.
Bagaimana Menyusun Screening Saham Teknologi?
Screening saham teknologi dapat dimulai dengan tujuh pertanyaan sederhana:
Apakah revenue atau GMV tumbuh?
Dari mana pertumbuhan tersebut berasal?
Apakah gross marginĀ dan EBITDA margin membaik?
Apakah ROIC meningkat?
Apakah perusahaan menghasilkan atau menuju free cash flowĀ positif?
Berapa besar recurring revenue?
Apakah valuasinya masuk akal jika dibandingkan dengan peer yang memiliki model bisnis serupa?
Untuk platform, tambahkan CAC, retention, take rate, danĀ contribution margin.
Untuk data center, tambahkan MW, utilization, capex/MW, kontrak, dan power availability.
Untuk distributor, tambahkan inventory, piutang, cash conversion, dan vendor concentration.
Peer Comparison: Jangan Bandingkan Semua Emiten Sekaligus
Salah satu kesalahan dalam analisis sektor adalah membandingkan perusahaan hanya karena semuanya masuk kategori teknologi. Framework yang lebih relevan adalah membandingkan perusahaan berdasarkan economics bisnisnya.
Contohnya:
āĀ Ā Ā Ā Ā DCII dan EDGE untuk data center/connectivity;
āĀ Ā Ā Ā Ā MTDL, MLPT, MSTI, dan ATIC untuk IT services;
āĀ Ā Ā Ā Ā GOTO, BUKA, dan BELI untuk platform/commerce;
āĀ Ā Ā Ā Ā PTSN, AXIO, dan ZYRX untuk hardware.
Pengelompokan tersebut bukan ranking kualitas perusahaan, melainkan cara untuk membuat perbandingan fundamental lebih apple-to-apple.
Kesimpulan
Pada akhirnya, saham teknologi Indonesia 2026 tidak dapat dipahami hanya melalui label āteknologiā. Sektor ini mencakup bisnis dengan economics yang sangat berbeda, mulai dari data center dan infrastruktur, IT services, distribusi hardware, e-commerce, platform digital, hingga payment dan media.
Karena itu, daftar saham teknologi BEI sebaiknya digunakan sebagai titik awal screening, bukan sebagai kesimpulan investasi.
Investor kemudian dapat mengelompokkan emiten berdasarkan model bisnis, mengukur pertumbuhan revenue, margin, ROIC, arus kas, neraca, unit economics, recurring revenue, dan valuasi.
Pendekatan tersebut membuat analisis menjadi lebih spesifik: bukan sekadar mencari perusahaan yang disebut āteknologiā, tetapi memahami bagaimana masing-masing bisnis menghasilkan uang, membutuhkan modal, menghadapi risiko, dan mengubah pertumbuhan menjadi cash flow.
Disclaimer
Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi
BEI - Produk Saham & IDX-ICĀ https://www.idx.id/id/produk/saham/
BEI - Profil Perusahaan Tercatat https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/profil-perusahaan-tercatat
BEI - Daftar Saham https://www.idx.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham
BEI - Informasi indeks sektoral https://www.idx.co.id/id/produk/indeks
Bisnis.com - 47 emiten teknologi 2026 Ā https://market.bisnis.com/read/20260813/7/1996050/daftar-lengkap-47-emiten-teknologi-di-bei-dari-dcii-beli-hingga-goto
Databoks/Katadata - Pendapatan 10 emiten teknologi terbesar Q1 2026 https://databoks.katadata.co.id/en/market/statistics/44b47b09124edeb/list-of-10-technology-sector-issuers-with-largest-business-revenue-on-idx-q1-2026
MediaSaham - 47 saham teknologi 2026 https://www.mediasaham.com/2026/09/daftar-saham-sektor-teknologi-di-bei.html


Komentar