Potensi Gelembung AI di Pasar Global dan Nasib Saham Teknologi Dalam Negeri
- 31 Jul
- 5 menit membaca
Di dunia pasar modal, familiar istilah semacam āFAANGā, āMagnificent Sevenā, hingga āMANGOSā yang menandai kelompok saham teknologi Amerika Serikat (AS) pada periode yang berbeda.
FAANG adalah julukan era 2013ā2017 untuk raksasa platform internet yang terdiri atas Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan Google. Mulai 2023, dominasi pasar bergeser ke Magnificent Seven (Apple, Microsoft, Amazon, Alphabet, Meta, Nvidia, Tesla) yang lebih ditopang oleh komputasi awan dan chipĀ AI.
Sementara sejak akhir 2025, performa Magnificent Seven mulai pecah arah, sehingga Wall Street sibuk mencari kelompok generasi berikutnya lewat istilah-istilah baru seperti MANGOS (Meta, Anthropic, Nvidia, Google, OpenAI, SpaceX) dan FAB 10 atau AI Big 10.
Seiring silih bergantinya julukan-julukan tersebut, dua hal mencolok menjadi sorotan belakangan ini: harga saham teknologi AS terus mencetak rekor serta pembangunan pusat dana raksasa bermunculan di berbagai penjuru dunia. Keduanya merupakan wajah dari fenomena yang sama, yaitu euforia terhadap kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).
Belanja modal data center global diproyeksikan menembus lebih dari US$ 1 triliun sepanjang 2026. Lima raksasa teknologi AS, yakni Microsoft, Alphabet, Meta, Amazon, dan Oracle, berencana membelanjakan sekitar US$ 725 miliar tahun ini untuk infrastruktur AI [1]. Sebagian menyebut ini revolusi teknologi paling nyata sejak internet lahir, sebagian lain bertanya-tanya: apakah ini justru āgelembung ekonomiā raksasa yang tinggal menunggu waktu untuk pecah?
Dan yang paling penting, seberapa jauh dampaknya bisa menyeret saham-saham teknologi di Indonesia?
Sejarah Euforia yang Berujung Pecahnya Gelembung

Sejarah pasar modal berulang kali menunjukkan pola yang hampir sama. Setiap kali muncul euforia besar terhadap sebuah teknologi atau aset baru, disertai keyakinan ākali ini berbedaā, harga cenderung melonjak jauh melampaui fundamentalnya sebelum akhirnya terkoreksi tajam begitu ekspektasi tidak terwujud secepat yang dijanjikan.
Pada abad ke-17, harga bohlam tulip di Belanda sempat menyamai harga rumah mewah sebelum ambruk drastis dalam hitungan pekan.
Era 1960ā1970-an di AS punya āNifty Fiftyā, sekelompok saham blue chip yang diyakini layak dibeli āberapa pun harganyaā, sebelum terkoreksi tajam pada resesi 1973ā1974.
Pada 2000, giliran saham internet yang ambruk: Nasdaq anjlok sekitar 78% dari puncak Maret 2000 ke titik terendah Oktober 2002, S&P 500 turun sekitar 50%, dan butuh tujuh tahun untuk pulih.
Delapan tahun berselang, harga properti AS ambruk pada 2008 setelah bertahun-tahun diyakini ātidak akan pernah turun secara nasionalā, memicu krisis kredit yang meruntuhkan sistem keuangan global.
Walau mustahil secara presisi mengetahui kapan sebuah gelembung akan pecah, setidaknya kita memahami bahwa euforia besar secara historis hampir selalu diikuti oleh koreksi, cepat atau lambat. Hal serupa dapat diwaspadai dari sisi pembiayaan utang di balik infrastruktur AI yang gila-gilaan.
Kekhawatiran Gelembung AI yang Perlu Jadi Perhatian
Konsentrasi pasar ekstrem. Magnificent Seven kini menguasai sekitar 35% dari kapitalisasi S&P 500, setara tingkat konsentrasi tujuh saham terbesar pada puncak gelembung Dot-Com tahun 2000, menurut analisis Oliver Wyman [2].
Valuasi di level ekstrem. Shiller P/E Ratio (CAPE) sempat menembus 40 pada 2025 (39,8 per Desember, dibanding rata-rata historis 17,7), level tertinggi yang sebelumnya hanya pernah terjadi tepat sebelum Dot-Com crash.
Pendanaan yang berputar dalam satu lingkaran (circular deals). Nvidia sempat berencana menanamkan modal hingga US$ 100 miliar ke OpenAI, sebagian dipakai OpenAI membeli infrastruktur dari Nvidia sendiri. OpenAI juga meneken kontrak US$ 300 miliar dengan Oracle yang kemudian membeli ratusan ribu chip Nvidia untuk memenuhinya. Dana yang berputar dalam lingkaran tertutup ini dikhawatirkan menciptakan kesan pertumbuhan pendapatan pesat, padahal belum tentu mencerminkan permintaan riil pengguna akhir [3].
Kesenjangan antara belanja modal data center dan monetisasi. Sepanjang 2025, layanan berbasis AI baru menghasilkan sekitar US$ 25 miliar pendapatan global, dibandingkan belanja infrastruktur data center yang melampaui US$ 250 miliar, artinya baru sekitar 10% pendapatan yang dihasilkan dari seluruh total belanja modal. Goldman Sachs memperingatkan dibutuhkan laba tahunan lebih dari US$ 1 triliun pada 2026 agar investasi ini impas, jauh di atas konsensus estimasi sekitar US$ 450 miliar [4].
Suara skeptis datang dari dalam industri sendiri. Melansir dari berbagai sumber, CEO OpenAI Sam Altman sempat mengakui adanya gelembung dalam sektor AI. CEO JPMorgan Jamie Dimon memperingatkan potensi kerugian besar jika terjadi crash yang dipicu AI, sementara pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio melihat kemiripan pola dengan gelembung Dot-Com.
Kekhawatiran ini bukan sekadar teori di atas kertas. Sepanjang 2026, pasar sudah beberapa kali menunjukkan bagaimana cepatnya kepercayaan terhadap narasi AI bisa retak. Aksi jual tajam yang membuat anjlok kapitalisasi pasar hanya dalam hitungan hari menjadi bukti bahwa risiko koreksi tajam itu nyata, bukan sekadar kemungkinan teoritis.

Argumen Sanggahan: Euforia AI Mungkin Bukan Gelembung Ekonomi
Di sisi lain, sejumah pihak berpendapat bahwa sensasi teknologi AI saat ini belum, atau bahkan tidak, memenuhi kriteria sebuah gelembung ekonomi. Beberapa poin utamanya termasuk:
Profitabilitas yang nyata, bukan sekadar janji. Berbeda dari era Dot-Com yang banyak perusahaannya belum untung, Magnificent Seven kini mencatatkan margin bersih gabungan di atas 25% (rata-rata S&P 500 hanya 13%). Nvidia membukukan laba 12 bulan terakhir sekitar US$ 199 miliar dengan margin bersih sekitar 55%, diperdagangkan pada P/E sekitar 31-32 kali, jauh di bawah rasio 472 kali milik Cisco pada puncak Dot-Com 2000.
Dibiayai arus kas operasional, bukan spekulasi utang. Microsoft, Alphabet, Meta, dan Amazon sejauh ini membiayai sebagian besar belanja modal AI dari arus kas operasional sendiri, bukan penerbitan saham baru atau utang spekulatif seperti banyak startup era Dot-Com.
Permintaan riil di balik infrastrukturnya. Nvidia mengklaim mengantongi sekitar US$ 1 triliun permintaan chip AI terkonfirmasi hingga 2027, setara lebih dari lima kali pendapatan tahun fiskal 2026, dengan chip Blackwell disebut sudah habis terjual hingga pertengahan 2026 [5].
Pandangan institusi besar cenderung berhati-hati, bukan panik. Goldman Sachs menyatakan pasar ābelumā berada dalam kondisi gelembung AI, Morgan Stanley menyebut kekhawatirannya ākurang tepat sasaranā, dan JPMorgan menyimpulkan AI belum memenuhi kriteria klasik gelembung ekonomi [6][7].
Sentimen pasar bisa berbalik arah dalam hitungan hari sebelum kembali pulih. Volatilitas tinggi bukan berarti gelembung sudah pasti pecah, tetapi juga bukan jaminan risikonya hilang.
Dampak Potensi Gelembung AI terhadap Sektor Teknologi di Indonesia
Pemain utama emiten teknologi di Indonesia saat ini didominasi layanan aplikasi konsumen digital dan e-commerce, bukan produsen chip atau infrastruktur AI. Lantas, korelasi gelembung AI di pasar global dengan pasar saham lokal seharusnya tidak sekuat yang dibayangkan.
Dilihat dari sisi fundamental, GOTO baru saja mencatatkan sejarah dengan membukukan laba bersih kuartalan pertama sepanjang perjalanan perusahaan pada Kuartal I-2026, senilai Rp171 miliar, ditopang pendapatan yang melonjak 26% secara tahunan menjadi Rp5,34 triliun.
Saham internet Indonesia pada 2026 mengalami tren perbaikan profitabilitas menyeluruh, termasuk pemulihan EMTK/Vidio dan turnaround Bukalapak. Sepanjang 2025, indeks sektoral teknologi juga melesat 138,35%, kinerja terbaik di BEI.
Meski begitu, performa harga beberapa saham tetap rentan terhadap dinamika teknis seperti likuiditas dan komposisi free float, pengingat bahwa arah jangka pendeknya lebih dipengaruhi mekanisme pasar domestik ketimbang sentimen AI global.
Bagi investor di Indonesia, pendekatan yang disiplin dan pemahaman terhadap model bisnis jauh lebih penting dibanding mengikuti euforia maupun kepanikan sesaat.
Referensi
[1] AI Giants Add $350 Billion Debt as $725 Billion Spending Surges, https://finance.yahoo.com/technology/ai/articles/ai-giants-add-350-billion-195553515.html
[2] What happens if the AI bubble bursts?, https://www.oliverwyman.com/our-expertise/insights/2026/jan/impact-ai-bubble-burst-on-global-financial-markets.html
[3] A Guide to the Circular Deals Underpinning the AI Bloom, https://www.bloomberg.com/graphics/2026-ai-circular-deals/
[4] AI may generate only half the profit needed to justify the investment, Goldman analyst warns, https://finance.yahoo.com/news/tech-companies-may-only-half-115338788.html
[5] Nvidia sales opportunity for Blackwell, Rubin chips more than $1 trillion by 2027, https://www.channelnewsasia.com/business/nvidia-sales-opportunity-blackwell-rubin-chips-more-1-trillion-2027-5999816
[6] How are we evaluating the AI boom?, https://am.jpmorgan.com/us/en/asset-management/adv/insights/market-insights/market-updates/on-the-minds-of-investors/how-are-we-evaluating-the-ai-boom/
[7] AI infrastructure pullback offers buying opportunity, Morgan Stanley says, https://seekingalpha.com/news/4618637-ai-infrastructure-pullback-offers-buying-opportunity-morgan-stanley-says
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar