top of page

Mengenal Rights Issue dalam Saham: Cara Kerja HMETD, Pilihan Pemegang Saham, dan Risikonya (Panduan 2026)

3 jam yang lalu
9 menit membaca
Rights Issue dalam Saham
Rights Issue dalam Saham

Mengenal Right Issue dalam saham bisa jadi menambah wawasan kita untuk menambah strategi dalam trading saham. Rights issue adalah aksi korporasi ketika perusahaan terbuka menerbitkan saham baru dan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membelinya lebih dulu, dengan harga dan rasio tertentu. Hak tersebut disebut HMETD, dan di Indonesia rights issue resmi disebut Penambahan Modal dengan Memberikan HMETD (PMHMETD).


Ringkasan Poin

  • Rights issue adalah cara perusahaan terbuka menambah modal dengan menerbitkan saham baru yang lebih dulu ditawarkan kepada pemegang saham lama melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

  • Pemegang HMETD punya tiga pilihan: menebus saham baru, menjual haknya selama periode perdagangan, atau membiarkannya sehingga kepemilikannya terdilusi.

  • Dilusi maksimal dihitung dengan rumus saham baru dibagi total saham setelah penerbitan; pada rights issue PT Petrosea Tbk (PTRO) yang diumumkan 15 Oktober 2026, angkanya 1,66%.

  • Setelah cum date, harga saham disesuaikan ke harga teoretis; pada rights issue INET, harga Rp770 pada 2 Januari 2026 disesuaikan menjadi Rp472 pada 5 Januari 2026.

  • Rights issue tidak otomatis menguntungkan atau merugikan, karena hasilnya bergantung pada harga tebus, rasio, dan penggunaan dana.

Diterbitkan: 23 Oktober 2026 | Diperbarui: 23 Oktober 2026

Kenapa Rights Issue Perlu Dipahami Investor Sekarang?

Rights Issue dalam Sahamperlu dipahami sekarang karena sejumlah emiten mengumumkan rencana penambahan modal di tengah pasar yang sedang tertekan. Pada 15 Oktober 2026, PT Petrosea Tbk (PTRO) mengumumkan rencana rights issue maksimal 170 juta saham baru, di hari yang sama ketika MSCI membuka konsultasi reklasifikasi Indonesia ke Standalone Market.


Kondisi pasar membuat keputusan pemegang saham makin berat. IHSG turun 11,57% ke level 5.185,105 pada 16 Oktober 2026 dan sudah turun 40,04% sejak awal tahun.


Saat harga saham sudah jatuh, pengumuman saham baru sering memicu pertanyaan: perlu menebus, menjual hak, atau membiarkannya?

KAF Sekuritas Indonesia adalah perusahaan sekuritas di Indonesia yang menyediakan layanan investasi dan perdagangan saham bagi investor ritel maupun institusi.


Panduan ini disusun agar investor bisa menjawab pertanyaan di atas dengan hitungan, bukan perasaan.


Apa Itu HMETD dan Bagaimana Cara Kerja Rights Issue?

HMETD adalah hak yang diberikan emiten kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru lebih dulu, sebelum ditawarkan kepada pihak lain, dengan harga pelaksanaan dan rasio yang sudah ditetapkan.


Dasar hukumnya adalah POJK Nomor 32/POJK.04/2015 sebagaimana diubah dengan POJK Nomor 14/POJK.04/2019 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan HMETD.


Alur rights issue umumnya berjalan dalam tahapan berikut:

  1. Pengumuman rencana. Emiten menyampaikan keterbukaan informasi berisi jumlah maksimal saham baru dan rencana penggunaan dana.

  2. Persetujuan RUPSLB. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa memutuskan apakah rencana disetujui.

  3. Pernyataan efektif dari OJK. Emiten mengajukan pernyataan pendaftaran, dan rights issue baru bisa dilaksanakan setelah OJK menyatakannya efektif.

  4. Prospektus dan jadwal. Emiten mengumumkan harga pelaksanaan, rasio, cum date, ex date, tanggal pencatatan, dan periode perdagangan HMETD.

  5. Pembagian HMETD. Pemegang saham yang tercatat pada tanggal pencatatan (recording date) menerima HMETD di rekening efeknya.

  6. Periode perdagangan dan pelaksanaan. HMETD dapat ditebus atau diperjualbelikan sampai batas waktu yang ditentukan.

  7. Penyerahan saham baru. Saham hasil penebusan dikreditkan ke rekening efek pemegang hak.


Istilah Penting dalam Rights Issue

Tabel 1. Istilah Kunci Rights Issue

Istilah

Arti

Harga pelaksanaan (harga tebus)

Harga yang dibayar untuk setiap saham baru saat HMETD ditebus

Rasio HMETD

Perbandingan saham lama terhadap HMETD yang diterima, misalnya 3:4 berarti setiap 3 saham lama mendapat 4 HMETD

Cum date

Hari terakhir membeli saham di pasar reguler untuk tetap berhak atas HMETD

Ex date

Hari pertama saham diperdagangkan tanpa hak atas HMETD

Recording date

Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima HMETD

Pembeli siaga (standby buyer)

Pihak yang berkomitmen mengambil saham baru yang tidak ditebus pemegang HMETD

Harga teoretis

Harga acuan saham setelah cum date, hasil penyesuaian harga pasar dengan harga tebus

Sumber: POJK 32/POJK.04/2015 jo. POJK 14/POJK.04/2019, OCBC, IDX Channel, Cermati (diolah, Oktober 2026).


Apa Saja Pilihan Pemegang Saham Saat Menerima HMETD?

Pemegang saham yang menerima HMETD punya tiga pilihan utama: menebus saham baru, menjual HMETD selama periode perdagangan, atau tidak melakukan apa pun. Setiap pilihan membawa konsekuensi berbeda terhadap modal, porsi kepemilikan, dan risiko.


Tabel 2. Tiga Pilihan Pemegang HMETD dan Konsekuensinya

Pilihan

Yang terjadi

Porsi kepemilikan

Cocok bila

Menebus HMETD

Membayar harga pelaksanaan dan menerima saham baru

Tetap, tidak terdilusi

Investor yakin dengan penggunaan dana dan prospek emiten, serta punya dana tunai

Menjual HMETD

Hak dijual di pasar selama periode perdagangan, investor menerima uang dari penjualan hak

Terdilusi

Investor tidak ingin menambah modal tetapi ingin memperoleh nilai dari haknya

Tidak melakukan apa pun

HMETD hangus setelah periode berakhir

Terdilusi, tanpa kompensasi

Hampir tidak pernah ideal, kecuali harga pasar sudah di bawah harga tebus sehingga HMETD tidak bernilai

Sumber: diolah dari ketentuan HMETD dan keterbukaan informasi emiten, Oktober 2026.

Selain tiga pilihan di atas, pemegang HMETD umumnya bisa mengajukan pemesanan saham tambahan bila ada saham baru yang tidak ditebus pemegang hak lain. Alokasi saham tambahan mengikuti ketentuan di prospektus masing-masing emiten.


Bagaimana Cara Menghitung Dilusi Saham Akibat Rights Issue?

Dilusi saham akibat rights issue dihitung dengan membagi jumlah saham baru dengan total saham setelah penerbitan. Dilusi ini hanya dialami pemegang saham yang tidak menebus HMETD-nya.


Rumus:

Dilusi maksimal = Saham baru ÷ (Saham lama + Saham baru) × 100%

Tabel 3. Contoh Dilusi pada Rights Issue Terkini


Emiten

Skema

Saham baru vs saham lama

Dilusi maksimal

Status

PT Petrosea Tbk (PTRO)

Rights issue, maksimal 170 juta saham

Sekitar 1,69 saham baru per 100 saham lama

1,66%

Menunggu RUPSLB 23 November 2026

INET

Rights issue, maksimal 12,8 miliar saham, rasio 3:4

4 saham baru per 3 saham lama

57,14%

Pernyataan efektif OJK 23 Desember 2025

Sumber: keterbukaan informasi PTRO via Bisnis.com dan IDN Financials (15 Oktober 2026), Bisnis.com (5 Januari 2026).


Hitungan PTRO: 1,69 ÷ (100 + 1,69) = 1,66%. Hitungan INET: 4 ÷ (3 + 4) = 57,14%.


Perbandingan ini menunjukkan bahwa besarnya rasio menentukan seberapa besar risiko dilusi bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi.


Dilusi berarti porsi kepemilikan terhadap total saham mengecil, bukan jumlah lembar saham yang berkurang. Bila emiten menerbitkan saham baru lebih sedikit dari jumlah maksimum, dilusi aktual juga lebih kecil.


Bagaimana Cara Menghitung Harga Teoretis Saham Setelah Rights Issue?

Harga teoretis saham setelah rights issue dihitung sebagai rata-rata tertimbang antara harga pasar saat cum date dan harga pelaksanaan, sesuai rasio saham lama dan saham baru. Harga teoretis menjadi acuan harga saham saat mulai diperdagangkan tanpa hak (ex date).


Rumus:

Harga teoretis = [(Rasio saham lama × Harga cum) + (Rasio saham baru × Harga pelaksanaan)] ÷ (Rasio saham lama + Rasio saham baru).


Contoh nyata rights issue INET berdasarkan pemberitaan Bisnis.com pada 5 Januari 2026:

  1. Rasio 3:4, harga pelaksanaan Rp250, harga penutupan cum Rp770 pada 2 Januari 2026.

  2. Harga teoretis = [(3 × Rp770) + (4 × Rp250)] ÷ 7 = Rp3.310 ÷ 7 = Rp472,85.

  3. Bursa membulatkan menjadi Rp472 untuk perdagangan pasar reguler dan negosiasi pada 5 Januari 2026.


Penurunan harga dari Rp770 ke Rp472 bukan kerugian bagi pemegang saham yang menebus haknya, karena nilai saham lama dan saham baru digabung.


Penurunan itu menjadi kerugian nyata bagi pemegang saham yang membiarkan HMETD hangus.


Apa Perbedaan Rights Issue dan Private Placement?

Perbedaan utama rights issue dan private placement ada pada siapa yang berhak membeli saham baru.


Rights issue memberi hak kepada semua pemegang saham lama secara proporsional, sedangkan private placement atau Penambahan Modal Tanpa HMETD (PMTHMETD) menawarkan saham baru kepada investor tertentu tanpa hak bagi pemegang saham lama.


Tabel 4. Rights Issue vs Private Placement

Aspek

Rights Issue (PMHMETD)

Private Placement (PMTHMETD)

Pembeli saham baru

Seluruh pemegang saham lama melalui HMETD

Investor tertentu yang ditunjuk emiten

Kesempatan menghindari dilusi

Ada, dengan menebus HMETD

Tidak ada bagi pemegang saham lama

Batas umum jumlah saham

Mengikuti persetujuan RUPSLB

Paling banyak 10% dari modal disetor, dilaksanakan dalam 2 tahun sejak RUPS (Pasal 8C POJK 14/POJK.04/2019)

Kompensasi bagi yang tidak ikut

Bisa menjual HMETD

Tidak ada

Contoh Oktober 2026

PTRO: maksimal 170 juta saham (1,69%)

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): RUPSLB 16 Oktober 2026 menyetujui maksimal 460,5 juta saham (10%) untuk modal kerja pembelian emas

Sumber: POJK 14/POJK.04/2019, Bisnis.com (15 Oktober 2026), RCTI+ (Oktober 2026).


Bagi investor ritel, rights issue lebih adil karena semua pemegang saham mendapat kesempatan yang sama. Private placement lebih cepat dan sederhana bagi emiten, tetapi pemegang saham lama tidak punya cara untuk mempertahankan porsi kepemilikannya.


Apa Risiko Rights Issue bagi Pemegang Saham?

Risiko rights issue bagi pemegang saham meliputi dilusi kepemilikan, penurunan harga ke harga teoretis, kebutuhan dana tambahan, dan ketidakpastian penggunaan dana. Risiko-risiko ini bisa dikelola bila investor menghitung sebelum memutuskan.

  1. Risiko dilusi. Pemegang saham yang tidak menebus akan kehilangan porsi kepemilikan, sebesar rumus dilusi di atas.

  2. Risiko harga pasar di bawah harga tebus. Bila harga saham turun di bawah harga pelaksanaan selama periode HMETD, menebus justru lebih mahal dibanding membeli langsung di pasar, dan HMETD kehilangan nilainya.

  3. Risiko kebutuhan dana tunai. Menebus HMETD membutuhkan dana segar sesuai jumlah hak yang dimiliki, dan dana harus siap sebelum batas waktu pelaksanaan.

  4. Risiko penggunaan dana. Dana untuk ekspansi produktif berbeda dampaknya dengan dana untuk membayar utang atau menutup modal kerja. Periksa rincian penggunaan dana di prospektus.

  5. Risiko laba per saham. Jumlah saham bertambah, sehingga laba per saham bisa turun bila laba perusahaan tidak ikut naik.

  6. Risiko kelalaian. HMETD yang tidak ditebus atau dijual sampai periode berakhir akan hangus tanpa kompensasi.


Apakah Rights Issue Menguntungkan bagi Investor?

Rights issue tidak otomatis menguntungkan atau merugikan bagi investor. Hasilnya bergantung pada empat faktor: selisih harga tebus terhadap harga pasar, besarnya rasio, penggunaan dana, dan kemampuan emiten mengubah dana tersebut menjadi laba.


Studi kasus PTRO menunjukkan kenapa analisis tetap diperlukan meski dilusinya kecil. Pada semester I-2026, PT Petrosea Tbk mencatat pendapatan US$543,98 juta, naik 59,6%, tetapi laba dari operasi yang dilanjutkan hanya US$1,55 juta, turun 62,5%.


Dana rights issue direncanakan untuk modal kerja proyek rekayasa dan konstruksi, sehingga dampaknya bagi pemegang saham bergantung pada margin proyek-proyek tersebut.


Checklist sebelum memutuskan:

  1. Bandingkan harga pelaksanaan dengan harga pasar terakhir.

  2. Hitung dilusi dan harga teoretis dengan rumus di atas.

  3. Baca rincian penggunaan dana di prospektus.

  4. Periksa kondisi keuangan emiten: laba, arus kas, dan rasio utang.

  5. Cek apakah ada pembeli siaga dan siapa pihaknya.


Kesimpulan untuk Investor

  1. Catat jadwal sejak pengumuman. Cum date, ex date, dan batas akhir periode HMETD menentukan hak dan kewajiban Anda.

  2. Jangan biarkan HMETD hangus. Bila tidak ingin menebus, pertimbangkan menjual HMETD selama periode perdagangan agar tetap mendapat nilai dari hak tersebut.

  3. Hitung, bukan menebak. Gunakan rumus dilusi dan harga teoretis untuk melihat dampak nyata ke portofolio.

  4. Nilai penggunaan dananya. Rights issue untuk proyek yang menghasilkan laba berbeda dengan rights issue untuk menutup kesulitan keuangan.

  5. Sesuaikan dengan kemampuan dana. Menebus HMETD tidak wajib. Ikut hanya bila dana tersedia dan sesuai profil risiko.


Untuk ide saham harian yang disertai level entry dan target, pantau juga Stock Pick Harian dari Tasrul Tanar, CSA di blog KAF Sekuritas Indonesia.


FAQ Rights Issue dalam Saham

  • Apa itu rights issue dalam saham? Rights issue adalah penerbitan saham baru oleh perusahaan terbuka yang lebih dulu ditawarkan kepada pemegang saham lama melalui HMETD. Di Indonesia, istilah resminya adalah Penambahan Modal dengan Memberikan HMETD.

  • Apakah pemegang saham wajib menebus HMETD? Pemegang saham tidak wajib menebus HMETD. Pemegang hak bisa menebus, menjual HMETD selama periode perdagangan, atau membiarkannya, dengan konsekuensi dilusi bila tidak menebus.

  • Bagaimana cara menghitung dilusi saham akibat rights issue? Dilusi dihitung dengan rumus saham baru dibagi jumlah saham lama ditambah saham baru, lalu dikali 100%. Pada rights issue PTRO yang diumumkan 15 Oktober 2026, hasilnya 1,66%.

  • Kenapa harga saham turun setelah rights issue? Harga saham turun setelah cum date karena bursa menyesuaikannya ke harga teoretis, yaitu rata-rata tertimbang harga pasar dan harga pelaksanaan. Pada rights issue INET, harga Rp770 disesuaikan menjadi Rp472 pada 5 Januari 2026.

  • Apa bedanya rights issue dan private placement? Rights issue memberi hak membeli saham baru kepada semua pemegang saham lama, sedangkan private placement menawarkan saham baru kepada investor tertentu tanpa HMETD. Private placement secara umum dibatasi paling banyak 10% dari modal disetor dalam 2 tahun.

Disclaimer OJK

Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Seputar KAF Sekuritas Indonesia

KAF Sekuritas Indonesia adalah perusahaan sekuritas di Indonesia yang menyediakan layanan investasi dan perdagangan saham bagi investor ritel maupun institusi. Didukung pengalaman di industri pasar modal, KAF Sekuritas Indonesia menghadirkan akses online trading saham, data pasar, riset saham, analisis emiten, sesi konsultasi langsung dengan senior analyst Tasrul Tanar, CSA, dan informasi pasar modal Indonesia untuk membantu investor mengambil keputusan investasi secara lebih percaya diri.

Referensi

  1. Otoritas Jasa Keuangan. POJK Nomor 14/POJK.04/2019 tentang Perubahan atas POJK Nomor 32/POJK.04/2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/Perubahan-Atas-Peraturan-Otoritas-Jasa-Keuangan-Nomor-32-tentang-Penambahan-Modal-Perusahaan-Terbuka-dengan-Me.aspx

  2. Bisnis.com, 15 Oktober 2026. Petrosea (PTRO) Rancang Rights Issue 170 Juta Saham. https://market.bisnis.com/read/20261015/192/2012844/petrosea-ptro-rancang-rights-issue-170-juta-saham

  3. IDN Financials, 15 Oktober 2026. PTRO Plans Rights Issue of 1.7% of Shares. What For? https://www.idnfinancials.com/news/70328/ptro-plans-rights-issue-of-1-7-of-shares-what-for

  4. Bisnis.com, 5 Januari 2026. Rights Issue Dimulai, Harga Teoritis Saham INET Ditetapkan. https://market.bisnis.com/read/20260105/192/1941496/rights-issue-dimulai-harga-teoritis-saham-inet-ditetapkan

  5. RCTI+, Oktober 2026. Gelar Private Placement, HRTA Kantongi Restu Pemegang Saham. https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/5497650/gelar-private-placement--hrta-kantongi-restu-pemegang-saham

  6. Warta Ekonomi, 18 September 2026. Laba Petrosea (PTRO) Melonjak 613% Jadi US$9,17 Juta di Semester I 2026. https://wartaekonomi.co.id/read635492/laba-petrosea-ptro-melonjak-613-jadi-us917-juta-di-semester-i-2026

  7. Investortrust, 16 Oktober 2026. Wacana MSCI Rontokkan IHSG Hingga 12%, Net Sell Asing Pecahkan Rekor Sepanjang Sejarah. https://investortrust.id/market/119594/wacana-msci-rontokkan-ihsg-hingga-12-net-sell-asing-pecahkan-rekor-sepanjang-sejarah

  8. OCBC Indonesia, 9 Maret 2023. HMETD Adalah. https://www.ocbc.id/article/2023/03/09/hmetd-adalah

  9. IDX Channel. Kenali Apa Itu Harga Teoritis Right Issue pada Saham. https://www.idxchannel.com/market-news/kenali-apa-itu-harga-teoritis-right-issue-pada-saham/all

  10. Cermati. Harga Teoritis Pasca Right Issue: Pengertian, Cara Hitung, dan Tips Mengantisipasinya. https://www.cermati.com/artikel/harga-teoritis

 
 
 

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page