top of page

Saham Green Energy: Jangan Beli Sebelum Paham Ini!

  • 3 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

Bayangkan kamu sudah mantap mau berinvestasi di green energy karena yakin sektor ini akan terus tumbuh. Namun setelah beli sahamnya, ternyata harga stagnan, bahkan turun. Apa yang salah? Bisa jadi, kamu belum benar-benar memahami bisnis di baliknya.


Karena green energy bukan satu jenis bisnis yang sama. Ada banyak teknologi pembangkit di dalamnya, dan masing-masing punya karakter ekonomi yang sangat berbeda. Sebelum melihat nama emitennya, ada baiknya kita pahami dulu bisnisnya dari akar.


Tidak Semua Pembangkit Bekerja dengan Logika yang Sama


Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dikenal sebagai teknologi yang paling mudah dipahami dan biaya pembangunannya relatif paling murah. Konstruksinya cepat dan teknologinya sudah matang, tetapi ada satu batasan besar: PLTS hanya memproduksi listrik ketika ada matahari. Tanpa sistem penyimpanan, output-nya turun di malam hari atau saat mendung.


Pembangkit listrik tenaga air (PLTA/PLTM) bisa menghasilkan listrik secara relatif konsisten jika debit air stabil. Tantangannya ada pada kondisi musim, perizinan, konstruksi sipil, dan akses ke jaringan listrik. Geotermal (PLTP) unggul di stabilitas karena bisa beroperasi 24 jam tanpa bergantung cuaca, tapi biaya awalnya tinggi karena perlu eksplorasi dan pengeboran lapangan uap.


Angin (PLTB) bisa kompetitif secara biaya di lokasi tertentu, tapi potensinya di Indonesia tidak merata. Biomassa dan biogas lebih stabil karena berbasis bahan baku, tapi jika pasokan feedstock mahal atau tidak konsisten, margin proyeknya bisa langsung tertekan.


Biaya Pembangunan: Seberapa Jauh Selisihnya?


IRENA (International Renewable Energy Agency), sebuah organisasi antarpemerintah yang mendukung negara-negara dalam mempercepat transisi menuju energi terbarukan dan sistem energi berkelanjutan, pada 2024 merilis data yang menunjukkan perbedaan biaya yang cukup signifikan antarteknologi.


Secara global, total installed cost PLTS berada di kisaran US$ 691 per kW, atau sekitar Rp11 miliar per MW (kurs Rp16.000). On-shore wind berada di sekitar US$ 1.041 per kW, hydropower di US$ 2.267 per kW, bioenergy di US$ 3.242 per kW, dan geothermal menjadi yang paling mahal di awal dengan kisaran US$ 4.015 per kW. [1]


Namun capex yang rendah tidak otomatis berarti revenue yang lebih besar. Pendapatan pembangkit juga sangat ditentukan oleh seberapa banyak listrik yang bisa dihasilkan dan berapa tarif jualnya. Di sinilah geothermal, meski mahal di awal, sering berbalik unggul karena kapasitas produksinya jauh lebih stabil. [2]


PPA: Kontrak yang Menentukan Kepastian Pendapatan


Untuk sebagian besar proyek green energy di Indonesia, pendapatan berasal dari penjualan listrik ke PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA). Dokumen ini mengatur tarif, masa kontrak, kapasitas, dan mekanisme pembayaran. Bagi investor, ada atau tidaknya PPA yang kuat bisa menjadi salah satu penentu kualitas sebuah aset pembangkit.


Dalam Perpres No. 112 Tahun 2022, pemerintah menetapkan kerangka Harga Patokan Tertinggi (HPT) untuk pembelian listrik dari energi terbarukan. Tarif untuk PLTA berada di kisaran 6,74 sampai 11,23 sen US$ per kWh, PLTS di 6,95 sampai 11,47 sen, geotermal di 7,65 sampai 9,76 sen, dan biomassa di 9,29 sampai 11,55 sen per kWh. Ini bukan tarif final karena bergantung pada kapasitas, lokasi, dan negosiasi; tetapi cukup untuk memberi gambaran awal potensi pendapatan tiap teknologi. [3]


Mana yang Paling Menarik sebagai Investasi?


Jawabannya: tidak ada satu teknologi yang otomatis paling unggul. Solar menarik karena capex-nya paling rendah dan konstruksinya cepat. Geothermal dan hydro menarik karena produksinya stabil dan revenue jangka panjangnya lebih mudah diprediksi, terutama jika sudah ada PPA yang kuat. Wind menarik di lokasi tertentu. Biomassa dan biogas menarik jika rantai pasok bahan bakunya aman.


Dalam konteks saham, investor tidak sedang membeli teknologi secara abstrak. Investor membeli perusahaan yang mengelola aset-aset itu. Karenanya, yang perlu dilihat bukan hanya label ā€œgreen energyā€, tapi jenis pembangkit apa yang dimiliki, berapa kapasitas yang sudah beroperasi, apakah ada PPA jangka panjang, bagaimana struktur utangnya, dan apakah valuasinya masih masuk akal.


Emiten Green Energy di BEI: Siapa Saja Pemainnya?


Beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia bisa menjadi titik awal untuk memetakan sektor ini. BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk.) memiliki eksposur besar ke geotermal melalui Star Energy Geothermal, serta eksposur ke angin melalui PLTB Sidrap.


PLTB Sidrap

PGEO (PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.) adalah anak usaha Pertamina yang fokus pada panas bumi.


Di sisi hydro, ada KEEN (PT Kencana Energi Lestari Tbk.) dengan portofolio PLTA dan biomassa, ARKO (PT Arkora Hydro Tbk.) yang fokus pada run-of-river hydropower, serta HGII (PT Hero Global Investment Tbk.) yang bergerak di mikrohidro dengan kerja sama jangka panjang berbasis PPA bersama PLN.


Penyebutan nama-nama di atas bukan rekomendasi beli atau jual. Tujuannya hanya memberi gambaran bahwa green energy di pasar modal Indonesia memiliki berbagai karakter: ada yang berbasis geothermal, ada yang berbasis hydro, ada yang terdiversifikasi, dan ada yang masih dalam tahap pertumbuhan.


Label ā€œGreen Energyā€ Bukan Jaminan


Green energy memang sedang dalam tren pertumbuhan yang kuat, terutama seiring agenda transisi energi di Indonesia. Tapi investasi di sektor ini tetap perlu dibaca dengan data, bukan hanya narasi. Di balik setiap emiten green energy ada biaya pembangunan, tarif listrik, kontrak PPA, kapasitas produksi, dan risiko proyek yang sangat spesifik.


Kalau tertarik melihat sektor ini, mulai dari pertanyaan sederhana: jenis pembangkitnya apa, berapa biaya membangunnya, bagaimana listriknya dijual, dan seberapa stabil produksinya. Dari sana, keputusan investasi bisa diambil dengan lebih jernih.


Jadi, dari sekian banyak teknologi pembangkit tadi, mana yang menurut Sobat KAF paling menarik untuk dipelajari lebih jauh? Yuk, diskusi di kolom komentar!


Referensi



[2] IRENA — Renewable Power Generation Costs in 2024, Executive Summary https://www.irena.org/-/media/Files/IRENA/Agency/Publication/2025/Jul/IRENA_TEC_RPGC_in_2024_Summary_2025.pdf


[3] BPK RI — Perpres No. 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik https://peraturan.bpk.go.id/Details/225308/perpres-no-112-tahun-2022


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page