Apakah Fenomena “SeptemBear” Turut Menimpa IHSG?
- 8 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Dalam sepuluh tahun terakhir (2016-2025), IHSG di bulan September berkinerja minus sebanyak tujuh kali, alias hanya tiga kali ditutup positif. Probabilitas IHSG melemah di bulan September secara statistik kasar mencapai 70%.
Menariknya, September bukan satu-satunya bulan yang punya “reputasi” di kalangan investor. Ada juga istilah “Sell in May” yang menyebut Mei sebagai bulan rawan koreksi serta “Window Dressing” yang menjadikan Desember sebagai bulan favorit banyak orang.
Tiga fenomena tersebut sering disebut sebagai calendar anomaly, pola pasar yang berulang bukan karena fundamental ekonomi, tetapi karena kebiasaan pelaku pasar di waktu-waktu tertentu. Pertanyaannya, apakah ketiganya valid?
Kenapa September Bisa Punya Pola Pasar yang Buruk?
Bayangkan kebiasaan banyak orang setelah pulang dari liburan panjang, katakanlah habis mudik lebaran atau cuti akhir tahun. Begitu balik ke rutinitas, hal pertama yang biasanya dilakukan bukan langsung tancap gas kerja seperti biasa, melainkan “beres-beres” dulu, mengevaluasi ulang prioritas yang sempat tertunda.
Fenomena serupa terjadi di industri keuangan global, dalam skala yang jauh lebih besar. Sepanjang musim panas (Juni-Agustus), banyak fund manager sedang cuti, sehingga volume transaksi lebih sepi. Begitu September tiba dan mereka kembali aktif, terjadi portfolio rebalancing. Evaluasi dan penataan ulang portofolio secara serentak oleh banyak institusi besar dalam waktu berdekatan menciptakan tekanan jual signifikan ke pasar.
Data di IHSG Selama SeptemBear

Dari 10 tahun terakhir (2016-2025), tujuh tahun ditutup negatif dan hanya tiga tahun hijau (2017, 2021, 2025), dengan rata-rata return -0,88%. Penurunan terdalam terjadi di September 2020 (-7,03%), bertepatan dengan pengumuman mendadak pembatasan sosial ketat di Jakarta akibat lonjakan kasus Covid-19 yang memicu panic selling hingga perdagangan sempat dihentikan sementara.
Akan tetapi, tiga tahun anomali di atas justru menunjukkan sesuatu yang penting: pola ini bisa dikalahkan sentimen fundamental yang kuat. September 2017 hijau karena Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan secara mengejutkan. September 2021 hijau berkat commodity rally yang mendongkrak nilai ekspor RI ke rekor tertinggi. September 2025 kembali hijau ditopang kinerja laba emiten perbankan besar yang di atas ekspektasi pasar serta Rupiah yang stabil. Artinya, sentimen domestik yang kuat bisa menjaga penguatan pasar meski pola musiman condong ke pelemahan.
Kalau September Itu Akhir Kuartal III, Kenapa Tidak Mengikuti Pola Window Dressing?
Ini bagian yang menarik. Window Dressing sebenarnya bukan cuma fenomena Desember. Secara definisi, ini terjadi di setiap akhir kuartal (Maret, Juni, September, Desember) karena manajer investasi melaporkan kinerja portofolio setiap tiga bulan. Artinya, September yang juga penutupan kuartal III seharusnya ikut kebagian “efek beres-beres portofolio” yang positif.
Namun kenyataannya, September justru didominasi tekanan jual selama satu dekade terakhir. Ini menunjukkan bahwa tekanan rebalancing global dan sentimen negatif musiman di September jauh lebih dominan dibanding dorongan Window Dressing kuartal yang relatif lemah. Baru di Desemberlah, Window Dressing benar-benar terasa dampaknya ke IHSG. Karena di situ ada tekanan tambahan, yakni laporan kinerja tahunan (bukan hanya kuartalan), sehingga dorongan institusi untuk “mempercantik” portofolio jauh lebih besar.
Data membuktikan, dari 10 tahun terakhir, Desember mencatat 8 tahun hijau dengan rata-rata return +2,46%, jauh lebih konsisten dibanding September. Dua anomali (2022 dan 2024) justru menunjukkan bahwa Window Dressing tetap bisa “gagal” kalau tekanan jual di sektor-sektor besar terlalu kuat, atau outflow asing berlanjut akibat ketidakpastian global.
Lalu bagaimana dengan Sell in May? Data Mei sendiri (2016-2025) menunjukkan 7 dari 10 tahun negatif dengan rata-rata -0,67%. Cukup mirip levelnya dengan September Effect walau secara global fenomena ini lebih dikenal sebagai “Mei–Oktober lesu, November–April kuat”. Di IHSG, pola Mei negatifnya cukup konsisten, tapi belum tentu diikuti kelesuan di bulan-bulan setelahnya seperti klaim teori aslinya.

Kenapa Dampak dari Kalender Fiskal Global Bisa Nular ke Pasar Domestik?
Jawabannya ada pada keterhubungan arus modal global. Investor asing memegang porsi signifikan dalam kepemilikan saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketika institusi global melakukan rebalancing portofolio, keputusan mereka mengurangi eksposur ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia turut memicu aksi jual di bursa domestik. Selain itu, September kerap berdekatan dengan periode kebijakan suku bunga The Fed, yang keputusannya turut memengaruhi arah kebijakan Bank Indonesia dan pergerakan Rupiah.
Dari tiga fenomena kalender ini, SeptemBear Effect dan Sell in May sama-sama terbukti cukup konsisten secara data historis IHSG, sementara Window Dressing di Desember jadi yang paling reliable dari ketiganya. Namun, pola musiman ini tetap bisa dikalahkan sepenuhnya oleh sentimen fundamental yang lebih kuat, baik dari kebijakan moneter, harga komoditas, maupun kinerja emiten.
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. Data dilansir dari berbagai sumber. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar