Daftar Saham Grup Sinarmas 2026: Peta Lengkap Emiten dan Kepemilikan yang Wajib Investor Tahu

Daftar saham grup Sinarmas 2026, atau sering juga disebut daftar saham Sinarmas grup, adalah kumpulan emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berada di bawah kendali atau afiliasi konglomerasi Sinarmas, kelompok usaha yang kini dipimpin generasi kedua keluarga Widjaja, termasuk Franky Oesman Widjaja.
Sepanjang 2026, sebagian besar emiten dalam daftar saham grup Sinarmas ini justru menjadi sorotan bukan karena ekspansi bisnis, melainkan karena masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) BEI dan sempat didepak dari indeks global MSCI serta FTSE. Artikel ini merangkum peta lengkap emiten grup tersebut sekaligus konteks risiko terkini yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan investasi.
Key Takeaways
Setidaknya ada 11-13 emiten yang secara historis maupun aktif terafiliasi dengan grup Sinarmas di BEI, tersebar di sektor energi, pertambangan, agribisnis, properti, pulp dan kertas, jasa keuangan, serta telekomunikasi.
Empat emiten inti grup ini, yaitu DSSA, GEMS, SMAR, dan MORA (kini Ekamas Mora Republik), tercatat dalam daftar HSC BEI per 15 Juli 2026 dengan tingkat konsentrasi kepemilikan di atas 95 persen.
DSSA sempat anjlok hingga hampir 80 persen sepanjang 2026 setelah didepak dari indeks MSCI (Mei 2026) dan FTSE (Juni 2026), sebelum menunjukkan tanda pemulihan pada Juli-Agustus 2026.
Tidak semua emiten dalam daftar saham Sinarmas grup 2026 bernasib sama. GEMS dan SMAR relatif lebih stabil, sementara sektor pulp-kertas (INKP, TKIM) dan properti (BSDE) bergerak dengan pola yang berbeda.
Investor perlu membedakan antara emiten yang benar-benar dikendalikan grup, entitas yang baru bergabung (MORA), afiliasi historis yang kini sudah berpindah kendali (LIFE), dan kepemilikan pribadi Franky Widjaja di luar struktur grup (misalnya di BUMI).
Daftar Isi
Kenapa Daftar Saham Grup Sinarmas 2026 Penting Diketahui Sekarang
Selama bertahun-tahun, narasi seputar saham grup Sinarmas identik dengan cerita sukses. DSSA sempat menjadi salah satu saham dengan performa fenomenal, sampai menembus jajaran 10 besar kapitalisasi pasar terbesar di BEI pada 2024. Namun sejak awal 2026, arah cerita berubah drastis.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara rutin memperbarui daftar saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC), yaitu emiten dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir pihak sehingga menyisakan porsi saham beredar untuk publik (free float) yang sangat kecil.
Per pembaruan BEI 15 Juli 2026, tercatat enam dari 51 emiten berstatus HSC berasal dari grup Sinarmas dan afiliasinya, yaitu SMAR (99,58 persen), GEMS (99,24 persen), LIFE (99,21 persen), MORA (95,65 persen), DSSA (95,76 persen), dan satu afiliasi lain. Status ini bukan pelanggaran hukum pasar modal, tapi sinyal transparansi yang berdampak nyata: likuiditas rendah, dana pasif institusi asing menghindar, dan harga saham jadi jauh lebih volatil dibanding saham dengan free float sehat.
Dampaknya paling terasa di DSSA. Saham ini didepak dari MSCI Global Standard Index pada rebalancing Mei 2026 dan dari kategori Large Cap FTSE Global Equity Index Series pada tinjauan kuartalan yang efektif 22 Juni 2026, murni karena alasan likuiditas terkait HSC, bukan masalah operasional perusahaan.
Artikel terbaru CNBC Indonesia bertanggal 19 Agustus 2026 kembali menegaskan bahwa DSSA, SMAR, GEMS, dan MORA adalah empat saham HSC yang terhubung dengan Sinarmas grup, menandakan isu ini masih relevan hingga saat artikel ini ditulis. Karena itu, memahami daftar saham grup Sinarmas 2026 hari ini tidak cukup hanya dengan tahu "siapa pemiliknya", tapi juga harus memahami konteks risiko struktural yang sedang terjadi.
Peta Lengkap Emiten Sinarmas Grup di BEI
Berikut peta emiten yang secara resmi maupun historis terafiliasi dengan grup Sinarmas di BEI, disusun berdasarkan sektor usaha, sekaligus jadi rujukan lengkap daftar saham Sinarmas grup 2026.
Ticker | Nama Perusahaan | Sektor | Harga Acuan (per tanggal data) | Status HSC per 15 Jul 2026 |
DSSA | Dian Swastatika Sentosa | Energi dan infrastruktur digital | Rp800 (15 Jul 2026), sempat direntang Rp940-1.005 (12 Agu 2026) | 95,76% |
GEMS | Golden Energy Mines | Pertambangan batu bara (anak usaha DSSA) | Rp6.450 (15 Jul 2026) | 99,24% |
SMAR | Sinarmas Agro Resources and Technology (SMART) | Perkebunan sawit dan CPO | Rp5.200 (15 Jul 2026) | 99,58% |
MORA | Ekamas Mora Republik (eks Mora Telematika Indonesia/Moratelindo) | Telekomunikasi dan infrastruktur digital | Rp6.525 (15 Jul 2026) | 95,65% |
BSDE | Bumi Serpong Damai | Properti, kota mandiri BSD City | Kisaran Rp880-955 (Apr-Agu 2026) | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
INKP | Indah Kiat Pulp & Paper | Pulp dan kertas | Rp11.100 (25 Feb 2026, sempat melonjak tajam) | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
TKIM | Pabrik Kertas Tjiwi Kimia | Pulp dan kertas | Rp8.375 (25 Feb 2026) | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
BSIM | Bank Sinarmas | Perbankan | Rp895 (6 Okt 2025, referensi lama, perlu verifikasi ulang) | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
SMMA | Sinarmas Multiartha | Jasa keuangan dan asuransi | [DATA AKTUAL: harga real-time tidak diverifikasi dalam riset ini, cek aplikasi trading] | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
DMAS | Puradelta Lestari | Kawasan industri Deltamas | [DATA AKTUAL: harga real-time tidak diverifikasi dalam riset ini] | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
DUTI | Duta Pertiwi | Properti (anak usaha BSDE) | Rp4.440 (6 Okt 2025, referensi lama) | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
EXCL (XLSMART) | XLSMART Telecom Sejahtera (eks XL Axiata, hasil merger dengan Smartfren) | Telekomunikasi | Dikendalikan bersama, bukan mayoritas tunggal | Tidak tercatat dalam sumber yang ditemukan |
LIFE | MSIG Life Insurance Indonesia | Asuransi jiwa | [DATA AKTUAL: harga real-time tidak diverifikasi] | 99,21% (afiliasi historis, lihat catatan di bawah) |
Catatan penting soal jumlah emiten: beberapa sumber menyebut grup Sinarmas memiliki 8 saham, sebagian menyebut 11, dan ada pula yang menyebut hingga 13 emiten. Perbedaan ini wajar karena tiap sumber memakai definisi "afiliasi" yang berbeda, ada yang menghitung berdasarkan kepemilikan langsung saja, ada yang memasukkan afiliasi historis atau kepemilikan bersama (co-controlled) seperti XLSMART.
Kenapa DSSA, GEMS, SMAR, dan MORA Masuk Radar BEI
High Shareholding Concentration bukan hal baru di pasar modal Indonesia, tapi baru menjadi sorotan besar sejak 2026 seiring reformasi transparansi kepemilikan saham yang didorong OJK. Dalam konteks daftar saham grup Sinarmas 2026, tiga peristiwa berikut jadi titik krusial yang membentuk narasi tahun ini:
Mei 2026, MSCI mendepak DSSA.Ā DSSA dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index bersama lima saham emiten Indonesia lain dalam rebalancing Mei 2026, murni karena kondisi likuiditas terkait status HSC, bukan masalah kinerja operasional.
Juni 2026, FTSE menyusul.Ā FTSE Russell mengumumkan hasil tinjauan kuartalan Juni 2026 yang mendepak DSSA dari kategori Large Cap FTSE Global Equity Index Series, efektif 22 Juni 2026. FTSE bahkan menerapkan kebijakan "harga nol" untuk saham HSC karena khawatir dana pasif tidak akan menemukan cukup pembeli jika harus keluar mendadak.
Juli-Agustus 2026, daftar HSC meluas.Ā Pembaruan BEI 15 Juli 2026 mengonfirmasi SMAR (99,58 persen) dan GEMS (99,24 persen) turut masuk daftar HSC, sementara MORA yang baru efektif merger dengan MyRepublic pada 22 April 2026 langsung tercatat HSC dengan konsentrasi 95,65 persen. Sebagai respons, manajemen DSSA mulai melepas hingga 9,63 miliar saham treasurinya (setara 5 persen dari total saham tercatat) sejak 10 Agustus 2026 untuk memperbesar free float, dengan menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai anggota bursa pelaksana.
Dampak ke harga DSSA sangat tajam: dari puncak sekitar Rp4.720 di akhir 2025, saham ini sempat jatuh ke titik terendah Rp410 pada Juni 2026, sebelum berangsur pulih ke kisaran Rp900-1.000 pada pertengahan Agustus 2026 seiring MSCI memastikan Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market pada pengumuman 12 Agustus 2026.
Meski demikian, analis tetap menandai rebound ini sebagai pemulihan dari kondisi oversold ekstrem, bukan pembalikan tren struktural yang sudah terkonfirmasi.
Kinerja Saham Grup Sinarmas Sepanjang 2026: Tidak Semua Bernasib Sama
Salah satu kesalahpahaman umum soal daftar saham Sinarmas grup 2026 adalah menganggap semua emitennya bergerak searah karena berada dalam satu grup usaha. Faktanya, data menunjukkan pola yang jauh lebih beragam:
DSSAĀ mencatat penurunan year-to-date paling tajam, mencapai sekitar 79,69 persen per 15 Juli 2026, murni imbas isu HSC dan pendepakan indeks global.
GEMSĀ melorot sekitar 20,86 persen year-to-date per periode yang sama, lebih moderat dibanding DSSA meski juga berstatus HSC.
SMARĀ justru menguat sekitar 9,47 persen year-to-date pada periode yang sama, ditopang proyeksi laba bersih yang diperkirakan tumbuh signifikan.
MORAĀ susut sekitar 45,28 persen year-to-date, dipengaruhi dinamika pasca-merger dengan MyRepublic yang masih dalam masa transisi struktur bisnis.
INKP dan TKIMĀ justru sempat reli tajam pada akhir Februari 2026, dengan INKP melonjak 7,77 persen dan TKIM 9,84 persen dalam satu hari perdagangan, didorong ekspektasi memasuki fase monetisasi setelah siklus belanja modal besar rampung.
Pola ini penting karena menunjukkan bahwa status "terafiliasi grup Sinarmas" saja tidak cukup untuk memprediksi arah harga suatu saham. Faktor sektor usaha, struktur kepemilikan spesifik, dan katalis masing-masing perusahaan tetap jadi penentu utama.
Mana yang Benar-Benar "Milik" Grup, Mana yang Sekadar Afiliasi
Bagian ini sering luput dari artikel-artikel sejenis, padahal penting untuk akurasi:
Dikendalikan penuh keluarga Widjaja:Ā DSSA (via PT Sinarmas Tunggal), SMAR (via PT Purimas Sasmita dan The Widjaja Family Master Trust), GEMS (anak usaha DSSA), dan MORA/Ekamas Mora Republik (via PT Innovate Mas Utama, dengan Franky Oesman Widjaja dan Farida Bau sebagai pemilik manfaat akhir baru pasca-merger).
Dikendalikan bersama pihak lain (co-controlled):Ā XLSMART (EXCL), di mana Sinarmas dan Axiata Group masing-masing memegang 34,8 persen saham secara setara.
Afiliasi historis, kendali sudah berpindah:Ā LIFE (MSIG Life Insurance Indonesia) memang punya nama dan sejarah terkait Sinarmas, tapi struktur pengendaliannya kini berada di bawah kelompok MSIG asal Jepang, sehingga kurang tepat jika seluruh kendalinya masih dianggap berada di tangan keluarga Widjaja.
Kepemilikan pribadi Franky Widjaja di luar struktur grup:Ā Franky Widjaja tercatat sebagai salah satu pemegang saham ritel di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui PT BCA Sekuritas, terpisah dari struktur korporasi grup Sinarmas. Kehadirannya di pencatatan perdana saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) pada April 2025 juga bersifat dukungan personal, bukan kepemilikan resmi yang terkonfirmasi lewat keterbukaan informasi.
Sedang dalam proses, belum resmi:Ā PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) tengah menjadi target akuisisi entitas terafiliasi Sinarmas lewat penawaran tender sukarela yang berjalan 28 Juli-26 Agustus 2026. Sampai proses ini rampung dan efektif, KETR belum bisa dimasukkan sebagai bagian resmi dari daftar saham grup Sinarmas 2026.
Sudah tidak berlaku:Ā PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) resmi delisting pada April 2025 setelah merger dengan XL Axiata membentuk XLSMART, sehingga tidak lagi bisa disebut sebagai bagian aktif dari daftar saham Sinarmas grup 2026.
Pelajaran untuk Investor
Jangan samakan "satu grup" dengan "satu risiko".Ā Data 2026 membuktikan performa emiten dalam satu grup usaha bisa sangat berbeda, dari DSSA yang anjlok tajam sampai SMAR yang justru menguat. Pelajari fundamental dan struktur kepemilikan tiap emiten secara terpisah sebelum memutuskan.
Periksa status HSC sebelum masuk.Ā Sebelum membeli saham grup konglomerasi manapun, termasuk yang ada dalam daftar saham grup Sinarmas 2026, cek dulu status HSC-nya di laman resmi BEI. Saham dengan free float sangat rendah cenderung lebih volatil dan lebih rentan terhadap aksi jual mendadak dari investor institusi.
Pahami perbedaan "dikendalikan" vs "sekadar terafiliasi".Ā Seperti dijelaskan di atas, tidak semua nama yang muncul dalam daftar afiliasi Sinarmas benar-benar berada di bawah kendali keluarga Widjaja saat ini. Verifikasi struktur kepemilikan lewat laporan bulanan registrasi pemegang efek KSEI sebelum mengambil kesimpulan.
Waspadai narasi "kekayaan taipan dari saham".Ā Narasi seputar besarnya kekayaan pemilik grup dari portofolio sahamnya bisa jadi menyesatkan jika tidak disandingkan dengan konteks kinerja terkini. DSSA yang sempat membuat pemiliknya "tajir" di 2025 justru menjadi salah satu saham paling tertekan di 2026.
Diversifikasi tetap kunci.Ā Terlalu berkonsentrasi pada satu grup usaha, seberapa pun besar dan meyakinkan reputasinya, tetap membawa risiko konsentrasi yang sama seperti yang terjadi pada struktur kepemilikan HSC itu sendiri.
Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang daftar saham sinarmas dan Anda bisa ikuti terus Mid-Week Outlook bersama Senior Analyst KAF Sekuritas Tasrul Tanar:
FAQ
Apa saja saham yang termasuk dalam daftar saham grup Sinarmas 2026? Emiten inti yang dikendalikan langsung keluarga Widjaja meliputi DSSA, GEMS, SMAR, dan MORA (kini Ekamas Mora Republik). Selain itu ada BSDE, INKP, TKIM, BSIM, SMMA, DMAS, dan DUTI yang secara historis terafiliasi grup, serta XLSMART yang dikendalikan bersama Axiata Group.
Kenapa saham DSSA anjlok tajam sepanjang 2026?
DSSA didepak dari indeks MSCI Global Standard (Mei 2026) dan FTSE Large Cap (Juni 2026) karena masuk kategori High Shareholding Concentration, bukan karena masalah kinerja operasional perusahaan. Kondisi ini membuat likuiditas saham memburuk dan memicu tekanan jual besar-besaran dari dana pasif institusi.
Apakah MORA benar-benar bagian dari daftar saham Sinarmas grup?
Ya. MORA (PT Mora Telematika Indonesia) resmi bergabung dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic), entitas anak PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dari grup Sinarmas, dan mengganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk sejak merger efektif pada 22 April 2026.
Apakah semua saham grup Sinarmas berisiko tinggi karena isu HSC?
Tidak. Hanya sebagian emiten, terutama DSSA, GEMS, SMAR, dan MORA, yang tercatat resmi dalam daftar HSC BEI per pembaruan 15 Juli 2026. Emiten lain seperti INKP, TKIM, dan BSDE tidak tercatat berstatus HSC berdasarkan sumber yang ditemukan dalam riset ini, meski tetap perlu diverifikasi ulang karena daftar HSC bersifat dinamis.
Apakah Franky Widjaja memiliki semua saham dalam daftar ini secara pribadi?
Tidak. Sebagian besar emiten dikendalikan melalui entitas korporasi keluarga Widjaja (seperti PT Sinarmas Tunggal dan PT Purimas Sasmita), bukan kepemilikan pribadi langsung Franky Widjaja. Ia juga tercatat sebagai investor ritel minoritas di luar struktur grup, misalnya di saham BUMI, yang tidak bisa disamakan dengan kepemilikan korporasi grup.
Di mana investor bisa mengecek status HSC suatu saham secara resmi? Investor dapat memeriksa pembaruan daftar High Shareholding Concentration langsung melalui pengumuman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperbarui secara berkala bekerja sama dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Disclaimer
Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi
EmitenNews, "Grup Sinarmas Dominasi HSC, Intip Performa Sahamnya", 15 Juli 2026, https://emitennews.com/news/grup-sinarmas-dominasi-hsc-intip-performa-sahamnya
CNBC Indonesia, "FTSE Buang Emiten HSC dari Index, Pemiliknya Salim hingga Sinar Mas", 19 Agustus 2026, https://www.cnbcindonesia.com/research/20260819110840-128-760553/ftse-buang-emiten-hsc-dari-index-pemiliknya-salim-hingga-sinar-mas
CNBC Indonesia, "FTSE Tendang DSSA hingga HILL, Berlaku 22 Juni 2026", 24-25 Mei 2026, https://www.cnbcindonesia.com/market/20260525042411-17-737645/ftse-tendang-dssa-hingga-hill-berlaku-22-juni-2026
EmitenNews, "Didepak MSCI, DSSA Lepas 9,63M Saham Treasuri untuk Kerek Free Float", sekitar 15-16 Agustus 2026, https://emitennews.com/news/didepak-msci-dssa-lepas-963m-saham-treasuri-untuk-kerek-free-float
Investing.com, "Dian Swastatika Sentosa Tbk Stock Price Today", data per 12 Agustus 2026, https://www.investing.com/equities/dian-swastatik
Bisnis.com, "Ada Franky Widjaja dan Farida Bau di Balik Merger MORA dan My Republic", 18 Desember 2025, https://market.bisnis.com/read/20251218/192/1937837/ada-franky-widjaja-dan-farida-bau-di-balik-merger-mora-dan-my-republic
Investing.com (id.investing.com melalui Warta Ekonomi/laman terkait), "Merger dengan Grup Sinarmas, MORA Umumkan Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru", 23 April 2026, https://id.investing.com/news/stock-market-news/merger-dengan-grup-sinarmas-mora-umumkan-susunan-direksi-dan-komisaris-terbaru-2952420
Kontan Insight, "Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?", 25 Juni 2026, https://insight.kontan.co.id/news/saham-dssa-mulai-bangkit-usai-keluar-dari-msci-dan-ftse-masih-layak-dibeli
Prugress, "Analisis Saham DSSA (Dian Swastatika Sentosa) Q1 2026", 1 Juli 2026, https://prugress.com/blog/analisis-saham-dssa-q1-2026/
IDXChannel, "Duo Saham Pulp-Kertas Sinarmas INKP dan TKIM Melesat, Simak Analisisnya", 25 Februari 2026, https://www.idxchannel.com/market-news/duo-saham-pulp-kertas-sinarmas-inkp-dan-tkim-melesat-simak-analisisnya
Investor.id, "Saham Murah Emiten Grup Sinar Mas", 30 Maret 2026, https://investor.id/market/433449/saham-murah-emiten-grup-sinar-mas
Katadata (Bursa Katadata), "Gurita Bisnis Grup Sinar Mas dari DSSA, INKP hingga SMMA, Bagaimana Prospeknya?", 29 Desember 2025, https://katadata.co.id/finansial/bursa/69521e86ec613/gurita-bisnis-grup-sinar-mas-dari-dssa-inkp-hingga-smma-bagaimana-prospeknya
Katadata (Bursa Katadata), "Grup Sinar Mas Caplok Saham KETR, DSSA Bakal Jadi Pemegang Manfaat Akhir", 10 Juni 2026, https://katadata.co.id/finansial/bursa/6a29297cee5d1/grup-sinar-mas-caplok-saham-ketr-dssa-bakal-jadi-pemegang-manfaat-akhir
IDXChannel, "11 Saham Milik Sinar Mas di Bursa Efek Indonesia, Intip Harga dan Market Cap-nya", 6 Oktober 2025, https://www.idxchannel.com/market-news/11-saham-milik-sinar-mas-di-bursa-efek-indonesia-intip-harga-dan-market-cap-nya
IDN Times, "Daftar 11 Saham Sinarmas dan Sektor Usahanya di Bursa Efek", 6 Oktober 2025 (dipublikasikan ulang Desember 2025), https://www.idntimes.com/business/finance/daftar-11-saham-sinarmas-dan-sektor-usahanya-di-bursa-efek-c1c2-01-tg1j7-t6vh28
Bisnis.com (market.bisnis.com), "BEI Tambah 37 Saham ke Daftar HSC, Emiten Sinar Mas dan Mayapada Masuk", 15 Juli 2026, https://market.bisnis.com/read/20260715/7/1988130/bei-tambah-37-saham-ke-daftar-hsc-emiten-sinar-mas-dan-mayapada-masuk
Sosok Bisnis.com, "Perusahaan Franky Widjaja Rogoh Rp7,6 Triliun Demi Ikut Kendalikan EXCL" (Hallo Bisnis), 17 April 2025, https://bisnis.hallo.id/bisnis/7314970558/perusahaan-franky-widjaja-rogoh-rp76-triliun-demi-ikut-kendalikan-excl
Bisnis.com (market.bisnis.com), "Sosok Franky Widjaja, Bos Sinar Mas Pemilik 1,64 Miliar Saham BUMI", 23 Mei 2023, https://market.bisnis.com/read/20230523/192/1658465/sosok-franky-widjaja-bos-sinar-mas-pemilik-164-miliar-saham-bumi
InvestasiKu, "8 Saham Milik Sinarmas dan Prospek Bisnisnya", diakses Agustus 2026, https://www.investasiku.id/eduvest/saham/saham-sinarmas-group
Wikipedia, "XLSmart", diakses Agustus 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/XLSmart



Komentar