top of page

Evolusi Unicorn Indonesia: Dari Bakar Uang Menuju Profitabilitas dan Kesiapan IPO

  • 12 Agu
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 1 hari yang lalu

unicorn company
Sumber Gambar: endeavor.org

Era Baru Ekosistem Startup Indonesia


Beberapa tahun lalu, startup Indonesia berlomba di satu arena utama: pertumbuhan. Jumlah pengguna, cakupan layanan, dan Gross Merchandise Value (GMV) menjadi ukuran kesuksesan selama investor global masih mau mengucurkan dana. Namun, lanskap tersebut kini berubah drastis. Pada 2025, pendanaan startup di Indonesia anjlok 38% menjadi sekitar US$ 213 juta—turun sekitar 85% dari puncaknya yang mencapai US$ 1,4 miliar pada 2023. Sepanjang tahun tersebut, tidak ada unicorn baru yang lahir dan praktis tidak ada penawaran umum perdana (IPO) berskala besar selain PT Super Bank Indonesia Tbk.


Menghadapi realitas baru ini, investor kini menuntut hal yang berbeda. Fokus mereka beralih dari sekadar cerita pertumbuhan menjadi tuntutan akan unit economics yang sehat, efisiensi operasional, dan arus kas yang bisa diandalkan. Bagi pasar modal, pertanyaannya pun menjadi lebih sederhana: siapa perusahaan berikutnya yang benar-benar siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Jawabannya tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki pengguna terbanyak, melainkan siapa yang memiliki fundamental bisnis paling kuat.


Terlepas dari tantangan tersebut, ekosistem startup Indonesia tetap menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Persebarannya mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari perjalanan dan akomodasi, keuangan, kesehatan, hingga layanan untuk bisnis. Saat ini, sebagian dari perusahaan-perusahaan tersebut masih beroperasi secara privat, sementara sebagian lainnya sudah berhasil masuk ke pasar modal.


Unicorn Privat di Indonesia


Traveloka adalah nama besar dengan ekosistem pemesanan tiket dan hotel yang luas yang didirikan pada 2012 dan indikasi valuasi ±US$ 3 miliar. Perusahaan ini sempat menjajaki IPO lewat skema SPAC pada 2021 senilai sekitar US$ 5 miliar, tetapi rencana itu batal dan belum ada rencana IPO baru yang dikonfirmasi.


Perusahaan eFishery pernah jadi bintang agrikultur digital, meraih status unicorn pada 2023 dengan valuasi sekitar US$ 1,3 miliar. Namun sejak akhir 2024, perusahaan ini justru jadi contoh buruk tata kelola: investigasi independen menemukan indikasi penggelembungan pendapatan hampir US$ 600 juta. Mantan CEO-nya divonis penjara atas manipulasi laporan keuangan dan pencucian uang.


Pelajarannya: valuasi besar tidak menjamin fundamental yang sehat. Tata kelola dan kredibilitas laporan keuangan sama pentingnya dengan pertumbuhan.


Sektor fintech tetap paling kompetitif. Xendit menjadi unicorn pada tahun 2021 dengan valuasi sekitar US$ 1 miliar. Akulaku dan Kredivo bersaing di kredit digital dan BNPL (Buy Now Pay Later), dengan Kredivo mencapai valuasi sekitar US$ 2,5 miliar. DANA menjadi pemain utama dompet elektronik dengan valuasi senilai sekitar US$ 1,2 miliar pada 2022.


Beragamnya sektor ini menunjukkan bahwa startup Indonesia sudah memasuki tahap yang lebih matang serta menjadi bagian dari cara masyarakat bertransaksi sehari-hari, bukan sekadar aplikasi.


Mantan Unicorn yang Telah Masuk Pasar Modal


Beberapa startup sudah membawa bisnisnya ke pasar publik. Kinerja mereka jadi contoh nyata: IPO bukan garis akhir, melainkan awal dari tekanan pasar dan tuntutan transparansi yang terus-menerus. Menilai kandidat berikutnya perlu lebih dari sekadar valuasi, perlu melihat kesiapan menghadapi volatilitas kuartalan seperti yang dialami Bukalapak.


Perusahaan

Bursa & Tahun IPO

Kinerja Terbaru (2025/2026)

Status Profitabilitas

GoTo Group

IDX (BEI), 2022

Semester I-2026: pendapatan bersih Rp10,99 triliun (+28,4% YoY); laba bersih Rp607,48 miliar.

Laba bersih 2 kuartal berturut-turut (Q1 & Q2 2026), pembalikan dari rugi.

Bukalapak

IDX (BEI), 2021

Semester I-2026: pendapatan neto Rp4 triliun (+29% YoY), namun rugi periode berjalan Rp820,74 miliar

akibat rugi nilai investasi Rp1,75 triliun.

Mencatatkan kerugian akibat kerugian nilai investasi, bukan operasional.

J&T Express

HKEX (Hong Kong), 2023

FY2025: pendapatan US$ 12,2 miliar (+18,5% YoY); laba bersih disesuaikan US$ 425 juta (>2x lipat).

Profitabel; pasar baru (Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin) capai laba penuh.


The Watchlist: Siapa Kandidat ā€œSoonicornā€ Berikutnya?


Jika era growth at all costs sudah usai, startup yang paling menarik diamati punya tiga ciri: posisi pasar kuat, pendapatan berulang atau arus kas stabil, dan jalur jelas menuju laba.


Masuk watchlist di bawah bukan jaminan IPO dalam waktu dekat. Keputusan itu bergantung kondisi pasar, kebutuhan pendanaan, dan kesiapan internal, apalagi di iklim pendanaan 2025 yang jauh lebih ketat.


  1. Halodoc: Ekosistem Kesehatan Digital


Halodoc merupakan perusahaan kesehatan digital privat yang didirikan pada 2016. Meskipun belum berencana melakukan IPO, perusahaan telah mengumpulkan total pendanaan hingga US$ 285 juta—termasuk Seri D sebesar US$ 100 juta pada 2023. Astra International bertindak sebagai investor kunci dengan kepemilikan 31,34% per awal 2025, didukung oleh investor global seperti Temasek, Novo Holdings, dan UOB Venture Management yang menjamin ketersediaan modal jangka panjang.


Guna mengatasi tantangan penyerapan pengguna pascapandemi, Halodoc berfokus membangun ekosistem terpadu yang menghubungkan layanan konsultasi dokter, pembelian obat, hingga fasilitas kesehatan lainnya. Ke depan, ekspansi ke segmen B2B melalui kemitraan dengan korporasi dan penyedia asuransi menjadi katalis utama pertumbuhan bisnis. Kendati demikian, kekuatan finansialnya belum bisa dievaluasi secara utuh karena metrik penting seperti revenue per user, biaya akuisisi pelanggan, dan margin layanan belum dipublikasikan secara resmi.


  1. Amartha: Fintech untuk Segmen Underbanked


Amartha merupakan perusahaan fintech yang didirikan pada 2010 untuk memfasilitasi pembiayaan mikro bagi segmen underbanked, khususnya perempuan pengusaha yang hingga Maret 2025 telah menjangkau lebih dari 3,3 juta pelaku usaha (99% perempuan). Dari sisi permodalan, Amartha diperkirakan mengumpulkan total pendanaan antara US$ 53 juta hingga US$ 519 juta, termasuk fasilitas utang terbaru sebesar US$ 55 juta pada Juni 2025 dari Swedfund, Finnfund, dan BIO yang merupakan bagian dari sindikasi US$ 199 juta besutan IFC—menandai pergeseran strategi ke arah pendanaan berbasis utang (debt financing).


Seiring ekspansi bisnis di segmen pasar berisiko tinggi ini, tantangan utama Amartha adalah menjaga kualitas portofolio kredit. Oleh karena itu, metrik fundamental seperti Non-Performing Loan (NPL), tingkat pembayaran kembali (repayment rate), biaya kredit, serta efisiensi operasional menjadi indikator kunci yang krusial untuk terus dipantau dalam mengukur keberlanjutan bisnisnya.


  1. Mekari: Recurring Revenue Model SaaS


Mekari, penyedia layanan Software as a Service (SaaS) yang didirikan pada 2015 (sebelumnya Sleekr), telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$ 71–83 juta, termasuk Seri E senilai US$ 50 juta pada 2022 yang dipimpin oleh Money Forward. Berkat ekosistem produk terpadu—seperti Talenta (HR), Jurnal (akuntansi), Klikpajak (pajak), dan Qontak (CRM)—Mekari berhasil melayani lebih dari 35.000 klien bisnis dan 800.000 pengguna aktif, dengan estimasi lonjakan Annual Recurring Revenue (ARR) dari US$ 43 juta pada 2022 menjadi sekitar US$ 97,5 juta pada 2024.


Guna mengoptimalkan Lifetime Value (LTV) pengguna tanpa membakar biaya akuisisi (CAC) baru, Mekari menerapkan strategi cross-selling antarpoduk. Langkah ini diperkuat melalui aksi ekspansi strategis berupa akuisisi terhadap Jojonomic pada 2024 dan Desty pada Agustus 2025 guna memperluas jangkauan ekosistem bisnis B2B-nya.


  1. Evermos: Social Commerce ke Kota Tier 2 dan 3


Platform social commerce yang didirikan pada November 2018 ini berfokus menghubungkan merek dengan konsumen di kota tier-2 dan tier-3 melalui jaringan reseller. Didukung total pendanaan sekitar US$ 78 juta—termasuk Seri C senilai US$ 39–40 juta pada Mei 2023 yang dipimpin oleh IFC—Evermos mencatatkan lonjakan GMV hingga 17 kali lipat sepanjang 2020–2022 dengan basis 160.000 reseller aktif per Januari 2023.


Kendati menunjukkan pertumbuhan GMV yang masif, tantangan utama Evermos terletak pada kemampuannya mengonversi nilai transaksi tersebut menjadi profitabilitas yang nyata. Oleh sebab itu, evaluasi kekuatan bisnisnya memerlukan pencermatan mendalam terhadap metrik efisiensi operasional, seperti take rate, biaya logistik, tingkat retensi reseller, serta efisiensi biaya akuisisi.


Katalis Makro: Penggerak Gelombang IPO Berikutnya


Perjalanan menuju IPO tak hanya soal kesiapan internal. Kondisi makroekonomi dan pasar modal ikut menentukan arah beberapa tahun ke depan.


Iklim Pendanaan Jauh Lebih Ketat


Pendanaan startup anjlok 38% menjadi US$ 213 juta pada 2025, sekitar 85% lebih rendah dari puncak 2023. Tak ada unicorn baru atau putaran di atas US$ 100 juta sepanjang tahun itu, dan median waktu closing pendanaan memanjang jadi 17 bulan.


Kandidat soonicorn kemungkinan lebih mengandalkan pendapatan internal (seperti Mekari, Evermos) atau utang dari lembaga pembangunan (seperti Amartha), bukan putaran ekuitas besar seperti pada 2021.


Profitabilitas Kembali Jadi Prioritas


Investor kini lebih hati-hati memberi valuasi tinggi hanya karena pertumbuhan pengguna. Fokusnya bergeser ke rangkaian: Revenue → Gross Margin → EBITDA → Arus Kas Operasional → Arus Kas Bebas.


Kasus PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. membuktikan pasar menghargai disiplin efisiensi biaya. Namun, EBITDA bukan satu-satunya ukuran sehat—kasus PT Bukalapak.com Tbk. menunjukkan pendapatan bisa tumbuh sementara rugi tetap terjadi akibat faktor non-operasional.


Pasar Modal Lokal versus Bursa Global


BEI menawarkan akses ke investor domestik dan basis ritel besar. Akan tetapi, perusahaan berskala regional bisa memilih bursa global untuk likuiditas lebih luas, seperti J&T Express yang memilih Hong Kong.


Strategi dual listing menjadi opsi meski butuh pertimbangan regulasi, biaya, dan struktur perusahaan yang tidak sederhana.


Fintech Tetap Strategis, Tata Kelola Jadi Syarat Mutlak


Dominasi fintech bukan kebetulan—populasi besar, penetrasi digital tinggi, dan layanan keuangan yang belum sepenuhnya terlayani perbankan tradisional.


Namun, peluang besar datang dengan risiko besar: regulasi, kualitas kredit, keamanan data, hingga persaingan. Kasus eFishery jadi pengingat bahwa tata kelola kini jadi syarat mutlak, bukan nilai tambah semata.


Kesimpulan: Dari Unicorn Menuju Perusahaan Tercatat yang Berkelanjutan


Startup Indonesia memasuki fase baru. Ukuran keberhasilan bergeser dari pertumbuhan pengguna dan valuasi besar menuju efisiensi, profitabilitas, dan tata kelola—dipercepat oleh guncangan kepercayaan pasca-kasus eFishery dan ketatnya pendanaan 2024–2025.


Perusahaan bertahan bukan hanya melalui ekspansi agresif, melainkan juga kemampuan menggabungkan skala bisnis dengan disiplin operasional.


Halodoc, Amartha, Mekari, dan Evermos layak diamati, tetapi status kandidat soonicorn ini tak boleh dinilai hanya dari valuasi. Investor perlu melihat pertumbuhan pendapatan, kesehatan unit economics, EBITDA dan arus kas, kualitas tata kelola, serta ketahanan model bisnis tanpa suntikan modal mudah.


Generasi startup Indonesia berikutnya yang hendak masuk ke pasar modal bukan sekadar yang paling canggih atau penggunanya paling banyak, melainkan yang mampu membuktikan bahwa bisnisnya bisa profitabel dan berkelanjutan.


Bagi investor, saatnya melihat lebih jauh dari label ā€œunicornā€. Pasalnya, pasar kini menilai seberapa kuat perusahaan menghasilkan nilai bagi pemegang saham, seperti terlihat jelas dari kontras kinerja GoTo, Bukalapak, dan J&T Express pada Semester I-2026.


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. Data dilansir dari berbagai sumber. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page