top of page

Masela dan Babak Baru LNG Indonesia: Dari Sumber Gas ke Jaringan FSRU

  • 4 Agu
  • 4 menit membaca
ilustrasi blok masela
Rencana Pengembangan Proyek LNG Abadi di Blok Masela, Lepas Pantai Arafura, Maluku. Sumber Gambar: KemenPAN-RB

Masela Menambah Pasokan LNG Indonesia


Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi di Blok Masela merupakan salah satu pengembangan gas terbesar di Indonesia. Berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku, proyek ini dioperasikan INPEX dengan Pertamina dan PETRONAS sebagai mitra. Kapasitasnya dirancang mencapai sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa 150 MMSCFD, dan kondensat hingga 35.000 barel per hari.


Sebagai perbandingan, kapasitas LNG Masela setara sekitar 12% dari kapasitas terpasang QatarEnergy LNG sebesar 77 juta ton per tahun melalui 14 unit produksi LNG di Ras Laffan. Skala tersebut menjadikan Masela sumber pasokan yang signifikan, tetapi kapasitas produksi besar tidak otomatis menjamin seluruh gas dapat terserap.


Secara geografis, Masela berada jauh dari banyak pusat permintaan di Jawa, Sumatra, dan Bali. Karena itu, pengembangannya tidak hanya membutuhkan fasilitas produksi, tetapi juga pembeli, kapal pengangkut LNG, terminal penerima, fasilitas regasifikasi, serta jaringan distribusi yang menghubungkan pasokan dengan konsumen.


Dari Lapangan Abadi Menuju Konsumen


Gas dari Lapangan Abadi akan diproduksi melalui sistem bawah laut, ditangani oleh fasilitas lepas pantai, kemudian dialirkan melalui pipa menuju kilang LNG di darat. Di fasilitas tersebut, gas akan diolah dan didinginkan hingga menjadi LNG. Bentuk cair memperkecil volumenya sehingga lebih efisien diangkut menggunakan LNG carrier.


Setelah tiba di tujuan, LNG harus disimpan dan diubah kembali menjadi gas melalui proses regasifikasi. Gas kemudian disalurkan melalui pipa menuju pembangkit listrik, kawasan industri, atau pelanggan lainnya. Dalam rantai ini, Masela berada di sisi produksi, sedangkan Floating Storage and Regasification Unit atau FSRU menjadi fasilitas penerimaan, penyimpanan, regasifikasi, dan penyaluran.


Arah pemasarannya mulai terlihat melalui kesepakatan prinsip INPEX dengan bp, Perusahaan Gas Negara (PGN), PLN Energi Primer Indonesia (EPI), dan Shell Eastern Trading terkait pengambilan LNG. Kesepakatan dengan Pupuk Indonesia berbeda karena mencakup pasokan gas pipa, bukan LNG. Seluruh kesepakatan awal tersebut masih dalam proses menuju kontrak komersial jangka panjang.


Pemerintah juga telah menetapkan sedikitnya 60% produksi gas Masela untuk kebutuhan domestik, termasuk industri pupuk, kelistrikan, dan hilirisasi, sedangkan ekspor dibatasi maksimal 40%. Kebijakan tersebut memperkuat kebutuhan akan infrastruktur penerima dan distribusi di dalam negeri.


FSRU Menghubungkan Pasokan dengan Pasar


Indonesia telah mengoperasikan beberapa FSRU dengan kapasitas dan fungsi berbeda. Nusantara Regas Satu di Teluk Jakarta mulai beroperasi pada 2012 dan memiliki kapasitas regasifikasi 500 MMSCFD. Gasnya disalurkan melalui Onshore Receiving Facility Muara Karang menuju pembangkit Muara Karang, Tanjung Priok, dan Muara Tawar, serta jaringan gas Jawa Barat.


FSRU Lampung telah dioperasikan PGN LNG sejak Juli 2014, sekitar 21 kilometer lepas pantai Labuhan Maringgai. Fasilitas ini memiliki kapasitas 1,5–2 juta ton LNG per tahun dan kemampuan penyaluran hingga 250 MMSCFD melalui jaringan PGN.


Jawa Satu FSRU merupakan bagian dari proyek pembangkit listrik terintegrasi. Dengan kapasitas penyimpanan 170.000 meter kubik dan regasifikasi 300 MMSCFD, fasilitas tersebut memasok gas ke PLTGU Jawa 1 berkapasitas 1.760 MW. Sementara itu, Karunia Dewata di Benoa memiliki kapasitas penyimpanan 26.000 meter kubik dan suplai maksimal 50 MMSCFD untuk PLTDG Pesanggaran.


Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kapasitas FSRU perlu disesuaikan dengan skala pasar. Sebagian fasilitas melayani jaringan regional, sedangkan fasilitas lain dibangun khusus untuk satu kompleks pembangkit.


Investasi Besar, Eksposur Bursa Terbatas


FSRU membutuhkan investasi besar. Acuan industri pada 2025 menempatkan harga FSRU baru pada kisaran US$ 300–400 juta, sedangkan konversi LNG carrier menjadi FSRU umumnya membutuhkan sekitar US$ 200 juta. Angka tersebut umumnya hanya mencerminkan biaya unit kapal, sementara total biaya terminal bisa lebih tinggi karena mencakup sistem tambat, dermaga, pipa bawah laut, serta fasilitas penerima di darat.


Di Bursa Efek Indonesia, eksposur terhadap FSRU baru terlihat setidaknya pada PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) dan PT GTS Internasional Tbk. (GTSI). Melalui PGN LNG, PGAS mengoperasikan FSRU Lampung dan memiliki 40% saham PT Nusantara Regas.


Sementara itu, GTSI melalui PT Permata Khatulistiwa Regas memiliki 25% kepentingan pada PT Jawa Satu Regas, entitas yang memiliki dan mengoperasikan FSRU Jawa Satu. PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) juga memperoleh eksposur tidak langsung sebagai induk GTSI.


Jaringan Penerima Perlu Diperluas


PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memperkirakan kebutuhan LNG-nya meningkat dari sekitar 6,2 juta ton pada 2026 menjadi lebih dari 10 juta ton pada 2030. Untuk mendukungnya, perusahaan merencanakan sekitar 13 FSRU dan hampir 50 unit regasifikasi darat di 56 lokasi di Indonesia.


Infrastruktur tersebut dibutuhkan karena tidak semua pembangkit dan kawasan industri tersambung dengan jaringan pipa utama. Namun, setiap wilayah tidak harus menggunakan FSRU besar. Daerah dengan permintaan lebih kecil dapat dilayani melalui small-scale LNG carrier, isotank, atau fasilitas regasifikasi darat. Dalam skema hub-and-spoke, terminal utama menerima LNG dalam volume besar sebelum mendistribusikannya dalam skala lebih kecil.


Masela dan FSRU Membentuk Satu Ekosistem


Tambahan produksi Masela dapat menjadi sumber pasokan LNG jangka panjang bagi Indonesia, baik untuk memenuhi kebutuhan pembangkit dan industri maupun untuk membuka peluang ekspor serta penerimaan devisa. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kesiapan FSRU, fasilitas regasifikasi, kapal pengangkut, dan jaringan pipa yang menghubungkan sumber gas dengan konsumen.


Dampaknya juga meluas ke luar sektor hulu migas. Proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari 12.000 tenaga kerja pada puncak masa konstruksi, dengan sebagian tenaga kerja diprioritaskan berasal dari Maluku dan Kepulauan Tanimbar. Pengembangannya dapat mendorong industri pendukung, jasa logistik, UMKM, pembangunan infrastruktur, dan transfer teknologi di wilayah sekitar proyek.


Jika seluruh rantai LNG berkembang secara terintegrasi, Masela dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus menjadi katalis bagi pertumbuhan industri gas Indonesia dari hulu hingga hilir. Masela berpotensi menjadi game changer bagi industri LNG nasional dengan skala produksi dan dampak ekonominya.


Menurut Sobat KAF, sektor mana yang akan merasakan dampak terbesarnya: kelistrikan, industri, pelayaran, atau infrastruktur gas?


Yuk, diskusi di kolom komentar!


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page