top of page

Aturan Baru BEI: September 2026 akan Jadi “Penny Stock Month”?

  • 12 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

September 2026 berpotensi menjadi periode penting bagi saham-saham berharga rendah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa tengah menyiapkan penurunan batas minimum harga saham di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dari Rp50 menjadi Rp1, dengan target implementasi pada 7 September 2026. Jika diterapkan, saham yang selama ini tertahan di level Rp50 akan memiliki rentang perdagangan yang lebih luas untuk menyesuaikan permintaan dan penawaran pasar.


Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah September akan menjadi “penny stock month” di pasar saham Indonesia? Istilah penny stock bukan klasifikasi resmi BEI, tetapi umumnya digunakan untuk menggambarkan saham dengan harga nominal sangat rendah. Dengan rentang harga baru, kelompok saham ini berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar, tetapi mekanisme tersebut juga membuka risiko yang sebelumnya tertahan oleh batas Rp50.


penny stock

Dari Rp50 ke Rp1, Apa yang Berubah?


Dalam focus group discussion BEI bersama Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) pada 19 Agustus 2026, BEI mengusulkan perubahan parameter perdagangan pada Jakarta Automated Trading System (JATS). Perubahan utamanya adalah penurunan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1, disertai penyesuaian mekanisme auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB).

Rentang Harga Saham

ARA

ARB

Rp1–Rp10

Rp1

Rp1

Rp11–Rp200

35%

15%

Rp201–Rp5.000

25%

15%

>Rp5.000

20%

15%

Khusus pada rentang Rp1–Rp10, batas pergerakan menggunakan nilai nominal Rp1, bukan persentase. Konsekuensinya, perubahan harga yang terlihat kecil dapat menghasilkan persentase yang besar. Kenaikan dari Rp2 menjadi Rp3, misalnya, hanya sebesar Rp1 secara nominal, tetapi setara dengan kenaikan 50%.


BEI menjadwalkan pre-live pada 5 September dan live pada 7 September 2026. Sementara itu, penyesuaian Peraturan Nomor I-X terkait Papan Pemantauan Khusus masih dalam proses persetujuan Dewan Komisaris BEI.


Mengapa BEI Membuka Harga hingga Rp1?


Perubahan ini terutama ditujukan untuk memperbaiki proses price discovery. Selama batas minimum masih Rp50, saham yang mencapai level tersebut tidak dapat turun lebih jauh di Pasar Reguler. Akibatnya, Rp50 belum tentu merupakan harga keseimbangan yang benar-benar mempertemukan minat beli dan jual.


BEI juga menyebut potensi peningkatan likuiditas saham yang saat ini berada di Papan Pemantauan Khusus dan berpeluang keluar setelah penyesuaian kriteria harga minimum. Selain itu, rentang harga yang lebih luas diharapkan memberikan ruang bagi mutual funds untuk melakukan rebalancing dan pengelolaan portofolio.


Langkah tersebut juga didukung hasil benchmarking BEI terhadap bursa global. Sejumlah bursa tidak menerapkan floor price dalam perdagangan saham, meskipun beberapa tetap memiliki ketentuan minimum harga dalam konteks pemenuhan persyaratan pencatatan perusahaan.


Aktivitas Transaksi BEI Bisa Bertambah


Dampak terhadap aktivitas perdagangan menjadi salah satu bagian penting dari kajian BEI. Dari saham yang pernah menyentuh harga Rp50 atau lebih rendah sepanjang 2026 hingga 11 Agustus, BEI mengidentifikasi 149 saham, dengan 109 saham di antaranya pernah atau masih berada di Papan Pemantauan Khusus.


Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa 19 saham yang keluar dari Papan Pemantauan Khusus selama 2026 mengalami kenaikan frekuensi transaksi sekitar 334%, sementara nilai transaksinya meningkat sekitar 230%. Dari pola tersebut, BEI memperkirakan perdagangan melalui mekanisme continuous auction dapat menghasilkan frekuensi dan nilai transaksi sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan call auction.


Secara keseluruhan, BEI mengestimasi potensi aktivitas pada saham yang harganya mendekati Rp50 mencapai sekitar 418 ribu transaksi dan Rp654 miliar RNTH. Angka tersebut menunjukkan adanya ruang bagi peningkatan aktivitas perdagangan setelah perubahan mekanisme diterapkan. Namun, kenaikan transaksi tidak berarti IHSG otomatis menguat karena pergerakan indeks tetap ditentukan oleh perubahan harga dan bobot kapitalisasi saham penyusunnya.


Saham Harga Rendah Akan Ramai Trader?


Bagi saham yang sebelumnya tertahan di Rp50, pembukaan harga hingga Rp1 menciptakan rentang transaksi yang sebelumnya tidak tersedia. Penjual dapat menawarkan saham pada harga yang lebih rendah, sementara pembeli memiliki lebih banyak pilihan harga untuk masuk. Kondisi tersebut berpotensi mengaktifkan kembali perdagangan pada saham yang sebelumnya minim transaksi.


Di saat yang sama, pergerakan Rp1 pada harga sangat rendah dapat menghasilkan perubahan persentase yang besar. Karakteristik tersebut berpotensi menarik perhatian trader yang mencari volatilitas tinggi. Karena itu, September dapat menjadi periode ketika saham berharga rendah lebih ramai diperhatikan, meskipun tidak berarti seluruh saham tersebut akan mengalami kenaikan.


Price Discovery Juga Membuka Risiko Penurunan


Ruang perdagangan yang lebih luas tidak hanya membuka peluang likuiditas, tetapi juga memperbesar ruang penyesuaian harga ke bawah. Saham dengan fundamental lemah atau minim permintaan dapat bergerak di bawah Rp50 hingga menemukan harga keseimbangan baru. Secara ekstrem, penurunan dari Rp50 menjadi Rp1 berarti kehilangan nilai hingga 98%.


Risiko menjadi semakin besar pada rentang Rp1–Rp10 karena perubahan Rp1 memiliki dampak persentase yang signifikan. Saham dengan likuiditas tipis dan free float terbatas juga perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan terhadap volatilitas tinggi dan aktivitas perdagangan spekulatif.


Karena itu, investor perlu membedakan harga nominal murah dengan valuasi murah. Saham seharga Rp5 belum tentu lebih murah secara fundamental dibandingkan saham seharga Rp5.000. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan kinerja bisnis, laba, arus kas, utang, jumlah saham beredar, dan prospek perusahaan.


September, “Penny Stock Month” atau Awal Mekanisme Baru?


Penurunan batas harga dari Rp50 menjadi Rp1 bukan sekadar membuka perdagangan saham dengan nominal lebih rendah. Kebijakan tersebut mengubah cara harga terbentuk pada saham yang selama ini tertahan di batas minimum sekaligus berpotensi meningkatkan aktivitas transaksi pada kelompok tersebut.


Karena itu, September memang dapat menjadi periode yang lebih ramai bagi saham-saham berharga rendah. Namun, perubahan ini bukan katalis yang otomatis membuat penny stocks naik. Di satu sisi, likuiditas dapat membaik; di sisi lain, risiko penurunan dan volatilitas juga menjadi lebih terbuka. Bagi investor, perubahan tersebut membuat kualitas fundamental dan pengelolaan risiko menjadi semakin penting.


Menurut Sobat KAF, apakah dibukanya perdagangan saham hingga Rp1 akan meningkatkan likuiditas pasar, atau justru membuat saham berharga rendah semakin spekulatif?


Yuk, diskusi di kolom komentar!


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. Data dilansir dari berbagai sumber. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page