top of page

Cara Membaca Orderbook Saham untuk Pemula: Panduan Bid, Offer, Spread & Antrean

1 Okt
9 menit membaca
Cara membaca orderbook saham
Cara membaca orderbook saham

Daftar Isi Cara membaca orderbook saham


Apa Itu Orderbook Saham?

Ketika pertama kali membuka aplikasi trading saham, salah satu tampilan yang sering membuat pemula bingung adalah deretan angka pada sisi Bid dan Offer. Angka tersebut terus berubah mengikuti order beli dan jual yang masuk ke pasar.


Secara sederhana, orderbook saham adalah daftar antrean pesanan beli dan jual yang sedang menunggu untuk dipertemukan. Sisi Bid menunjukkan antrean pembeli, sedangkan sisi Offer atau Ask menunjukkan antrean penjual.

Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa investor memasukkan harga dan jumlah saham yang ingin ditransaksikan. Pesanan kemudian masuk ke sistem perdagangan dan menunggu order lawan yang sesuai. Ketika harga dan jumlah dapat dicocokkan, transaksi atau match terjadi.


Karena itu, memahami cara membaca orderbook saham untuk pemula bukan berarti mencari angka yang bisa memastikan harga akan naik atau turun. Tujuan utamanya adalah memahami kondisi antrean, mengetahui harga beli dan jual yang tersedia, serta melihat apakah aktivitas pada antrean tersebut benar-benar menghasilkan transaksi.


Draft materi ini juga menekankan bahwa jumlah lot yang terlihat hanyalah kondisi antrean pada saat tertentu. Antrean dapat bertambah, berkurang, berpindah, atau tidak seluruhnya menjadi transaksi.


Memahami Bid dan Offer Terlebih Dahulu

Sebelum masuk ke teknik analisis, pemula harus memahami dua istilah paling dasar: Bid dan Offer.


Bid adalah harga beli

Bid merupakan harga tertinggi yang sedang bersedia dibayar oleh pembeli.

Misalnya:

Bid

Lot

Rp1.000

500

Rp990

700

Rp980

1.000

Artinya terdapat antrean pembeli pada beberapa level harga tersebut.

Pembeli yang memasang bid Rp1.000 bersedia membeli pada harga tersebut. Pembeli pada Rp990 berada satu tingkat di bawahnya.


Offer adalah harga jual

Offer atau Ask merupakan harga terendah yang sedang ditawarkan oleh penjual.

Contohnya:

Offer

Lot

Rp1.010

300

Rp1.020

450

Rp1.030

800

Penjual pada Rp1.010 menawarkan sahamnya pada harga tersebut.

Secara umum, best bid adalah harga beli tertinggi yang sedang antre, sedangkan best offer adalah harga jual terendah yang sedang antre. Konsep ini juga dijelaskan dalam materi edukasi pasar modal dan berbagai materi edukasi perdagangan saham.


Cara Membaca Bid dan Offer Saham

Setelah memahami definisinya, langkah berikutnya adalah melihat hubungan antara harga dan jumlah lot pada setiap level.

Misalnya sebuah saham menunjukkan:

Level

Bid

Lot Bid

Offer

Lot Offer

1

Rp1.000

700

Rp1.010

300

2

Rp990

900

Rp1.020

500

3

Rp980

1.200

Rp1.030

800

Pada contoh tersebut:

  • Best Bid = Rp1.000

  • Best Offer = Rp1.010

  • Spread = Rp10

  • Bid Rp980 memiliki antrean terbesar di sisi pembelian

  • Offer Rp1.030 memiliki antrean terbesar di sisi penjualan


Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa bid yang lebih besar berarti harga pasti naik.


Begitu pula offer yang lebih besar tidak otomatis berarti harga pasti turun.

Inilah kesalahan yang cukup sering dilakukan pemula.


Data antrean merupakan snapshot dari order yang sedang menunggu. Order dapat masuk, berkurang, dipindahkan, atau dibatalkan. Karena itu, cara membaca bid offer saham yang lebih disiplin harus melihat perubahan antrean dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan angka terbesar.


Apa Itu Spread Saham?

Spread adalah selisih antara best offer dan best bid.

Misalnya:

  • Best Bid = Rp1.000

  • Best Offer = Rp1.010

Maka:

Spread = Rp1.010 − Rp1.000 = Rp10

Semakin besar jarak antara bid dan offer, semakin besar pula selisih harga yang harus diperhatikan ketika melakukan transaksi.


Namun, spread tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan likuiditas. Kedalaman antrean dan aktivitas transaksi juga perlu diperhatikan.

Contohnya, saham dengan spread relatif sempit belum tentu selalu mudah untuk transaksi dalam ukuran besar apabila jumlah antreannya tipis.


Dengan kata lain, ketika mempelajari cara membaca bid offer saham, jangan hanya bertanya:

“Berapa spread-nya?”

Tetapi juga:

“Seberapa banyak antrean pada level harga tersebut dan seberapa aktif transaksi yang benar-benar terjadi?”

Cara Membaca Antrean Saham

Salah satu kemampuan penting dalam membaca orderbook adalah memahami antrean.

Antrean menunjukkan order yang sedang menunggu untuk dieksekusi.

Contohnya:

Bid:

  • Rp1.000 — 500 lot

  • Rp990 — 700 lot

  • Rp980 — 1.500 lot

Offer:

  • Rp1.010 — 300 lot

  • Rp1.020 — 600 lot

  • Rp1.030 — 1.000 lot

Dari tampilan tersebut, Anda dapat melihat bahwa antrean bid terbesar berada di Rp980.

Tetapi angka tersebut belum membuktikan bahwa Rp980 pasti menjadi support.

Mengapa?

Karena antrean tersebut bisa:

  1. dieksekusi,

  2. dikurangi,

  3. dibatalkan,

  4. dipindahkan ke harga lain,

  5. atau tetap berada di sana sementara transaksi terjadi di level berbeda.

Karena itu, cara membaca antrean saham sebaiknya dilakukan secara dinamis.

Yang lebih penting bukan sekadar:

“Ada berapa lot?”

tetapi:

“Apa yang terjadi dengan lot tersebut setelah beberapa waktu?”

Bid Tebal Tidak Selalu Berarti Harga Akan Naik

Istilah bid tebal biasanya digunakan untuk menggambarkan antrean pembelian yang relatif besar pada satu atau beberapa level harga.

Misalnya:

Bid Rp1.000 = 10.000 lot

Sedangkan level lainnya hanya mempunyai 500–1.000 lot.

Secara visual, antrean Rp1.000 terlihat jauh lebih besar.


Tetapi jangan langsung menganggapnya sebagai support yang pasti.

Jika antrean tersebut kemudian berkurang karena transaksi, situasinya berbeda dengan antrean yang tiba-tiba menghilang tanpa aktivitas transaksi yang sebanding.


Draft Anda juga menekankan bahwa antrean besar perlu dibaca bersama data transaksi karena ukuran antrean dapat berubah akibat eksekusi, pembatalan, maupun perubahan order.


Offer Tebal Tidak Selalu Berarti Harga Akan Turun

Prinsip yang sama berlaku pada sisi penjualan.

Misalnya:

Offer Rp1.050 = 8.000 lot

Sementara level offer lainnya hanya memiliki 500–1.500 lot.

Antrean tersebut terlihat seperti “tembok jual”.

Namun, apakah harga pasti gagal melewati Rp1.050?

Belum tentu.


Pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah antrean tersebut benar-benar dimakan oleh transaksi?

Jika transaksi terus terjadi pada harga offer dan jumlah antrean berkurang, interpretasinya berbeda dengan kondisi ketika offer tiba-tiba menghilang karena order dibatalkan.


Karena itu, jangan menjadikan ukuran antrean sebagai satu-satunya dasar analisis.


Orderbook vs Transaksi: Bagian yang Paling Penting

Ini merupakan konsep yang sangat penting bagi pemula.

Orderbook menunjukkan antrean.


Transaksi menunjukkan order yang sudah benar-benar match.

Contohnya:

Ada offer:

Rp1.010 — 5.000 lot

Angka 5.000 lot tersebut belum berarti 5.000 lot sudah terjual.

Itu hanya menunjukkan jumlah saham yang sedang menunggu pada harga tersebut.


Jika kemudian terjadi transaksi sebanyak 500 lot di Rp1.010, barulah sebagian antrean tersebut benar-benar dieksekusi.

Draft Anda secara eksplisit membedakan antara antrean order dan transaksi yang sudah terjadi.


Karena itu, ketika membaca orderbook, selalu ajukan pertanyaan:

  • Apakah antrean bertambah?

  • Apakah antrean berkurang?

  • Apakah antrean berpindah?

  • Apakah pengurangan antrean disertai transaksi?

  • Di sisi mana transaksi lebih banyak terjadi?

  • Bagaimana harga bergerak setelah transaksi?


Gabungkan Orderbook dengan Running Trade

Orderbook akan menjadi lebih informatif ketika dibaca bersama running trade.

Running trade memberikan catatan transaksi yang benar-benar terjadi, sedangkan orderbook memperlihatkan antrean yang sedang menunggu.


Contohnya:

Kondisi A

Offer:

Rp1.010 — 5.000 lot

Kemudian terjadi transaksi:

Rp1.010 — 100 lot

Setelah itu offer menjadi:

Rp1.010 — 4.900 lot

Ini menunjukkan sebagian antrean telah benar-benar dieksekusi.


Kondisi B

Offer:

Rp1.010 — 5.000 lot

Beberapa detik kemudian:

Offer menghilang

Tetapi tidak terlihat transaksi yang sebanding.

Interpretasinya tidak sama dengan kondisi pertama.

Orderbook dapat berubah karena order dibatalkan atau diubah. Karena itu, pembacaan antrean harus dikaitkan dengan transaksi yang terjadi.


Materi edukasi pasar saham terbaru juga menekankan bahwa orderbook sebaiknya dipadukan dengan running trade, volume, dan konteks harga, bukan digunakan sebagai alat prediksi tunggal.


Cara Membaca Orderbook dengan Kerangka 5 Langkah

Untuk pemula, gunakan proses sederhana berikut.


Langkah 1 - Lihat Last Price

Mulailah dari harga transaksi terakhir.

Tujuannya adalah mengetahui posisi harga saat ini sebelum melihat antrean.


Langkah 2 - Cari Best Bid dan Best Offer

Identifikasi:

  • Bid tertinggi

  • Offer terendah

Kedua level tersebut merupakan antrean harga yang paling dekat dengan pasar.


Langkah 3 - Hitung Spread

Hitung selisih antara best offer dan best bid.

Contoh:

Rp1.010 − Rp1.000 = Rp10

Langkah 4 - Lihat Ketebalan Antrean

Jangan hanya melihat level pertama.

Bandingkan beberapa level:

  • Bid 1

  • Bid 2

  • Bid 3

  • Offer 1

  • Offer 2

  • Offer 3

Tujuannya untuk mengetahui struktur antrean secara keseluruhan.


Langkah 5 - Konfirmasi dengan Transaksi

Ini bagian yang paling penting.

Perhatikan apakah perubahan antrean benar-benar disertai transaksi.

Kerangka ini sejalan dengan draft Anda yang menyarankan investor melihat best bid/offer, spread, ketebalan antrean, perubahan antrean, kemudian melakukan konfirmasi melalui transaksi.


Contoh Praktis Membaca Orderbook

Misalkan sebuah saham memiliki tampilan:

Sisi

Harga

Antrean

Offer 1

Rp1.010

300 lot

Offer 2

Rp1.020

500 lot

Offer 3

Rp1.030

800 lot

Bid 1

Rp1.000

700 lot

Bid 2

Rp990

900 lot

Bid 3

Rp980

1.200 lot

Apa yang bisa kita baca?


Pertama: spread

Best Offer = Rp1.010

Best Bid = Rp1.000

Spread:

Rp10

Kedua: antrean

Bid terbesar pada tiga level tersebut berada di Rp980 dengan 1.200 lot.

Offer terbesar berada di Rp1.030 dengan 800 lot.


Ketiga: jangan langsung mengambil kesimpulan

Apakah bid Rp980 pasti menjadi support?

Belum tentu.

Apakah offer Rp1.030 pasti menjadi resistance?

Belum tentu.


Kita perlu melihat apa yang terjadi ketika transaksi berlangsung.

Jika transaksi terus menyerap offer Rp1.010, kemudian Rp1.020, lalu Rp1.030, kondisi tersebut memberikan informasi yang berbeda dibandingkan jika offer hanya berubah karena order dibatalkan.


Orderbook Harus Dibaca Bersama Volume

Volume membantu menjawab pertanyaan:

Apakah pergerakan harga didukung transaksi yang cukup aktif?

Misalnya harga saham naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.020.

Pada saat yang sama, volume transaksi meningkat.


Informasi tersebut berbeda dengan kondisi ketika harga bergerak naik tetapi aktivitas transaksi relatif kecil.


Karena itu, jangan hanya melihat:

Bid > Offer

Tetapi perhatikan kombinasi:

Orderbook + Last Price + Volume + Running Trade

Draft Anda juga menggunakan kerangka tersebut dengan menempatkan orderbook, spread, last price, volume, time & sales, dan harga historis sebagai komponen yang perlu dibaca bersama.


Bagaimana Menilai Likuiditas dari Orderbook?

Likuiditas saham berkaitan dengan seberapa mudah saham diperdagangkan tanpa menyebabkan perubahan harga yang terlalu besar.

Beberapa informasi yang dapat diperhatikan antara lain:

  • spread,

  • kedalaman antrean,

  • jumlah lot pada beberapa level,

  • volume transaksi,

  • frekuensi transaksi,

  • dan aktivitas perdagangan.


Spread yang relatif sempit dapat menjadi salah satu indikator kondisi perdagangan yang lebih likuid, tetapi spread saja tidak cukup.


OJK bersama Self-Regulatory Organizations juga menyediakan materi edukasi pasar modal yang ditujukan untuk memberikan pemahaman dasar mengenai pasar modal kepada masyarakat, termasuk investor pemula.


Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.


1. Menganggap bid tebal pasti support

Antrean dapat berubah sebelum seluruhnya dieksekusi.


2. Menganggap offer tebal pasti membuat harga turun

Offer dapat terserap oleh transaksi.


3. Menganggap semua order akan dieksekusi

Order yang terlihat belum tentu menjadi transaksi.


4. Hanya melihat satu level

Satu level tidak selalu menggambarkan keseluruhan struktur antrean.


5. Mengabaikan running trade

Orderbook menunjukkan antrean, sedangkan transaksi menunjukkan eksekusi.


6. Mengabaikan volume

Perubahan harga perlu dilihat bersama aktivitas transaksi.


7. Menganggap orderbook sebagai alat prediksi pasti

Orderbook memberikan informasi kondisi pasar saat itu, bukan kepastian tentang harga berikutnya.


Draft Anda secara khusus mencatat bahwa menggunakan orderbook sebagai satu-satunya dasar keputusan merupakan salah satu kesalahan pemula.


Checklist Cara Membaca Orderbook

Sebelum mengambil keputusan transaksi, pemula dapat menggunakan checklist berikut:

Harga

  • Berapa last price?

  • Berapa best bid?

  • Berapa best offer?

Spread

  • Berapa selisih bid dan offer?

Antrean

  • Apakah bid relatif tebal atau tipis?

  • Apakah offer relatif tebal atau tipis?

  • Apakah terdapat perubahan besar pada antrean?

Transaksi

  • Apakah antrean yang berkurang benar-benar disertai transaksi?

  • Di harga berapa transaksi paling aktif?

Volume

  • Apakah volume mendukung pergerakan harga?

Konteks

  • Bagaimana tren harga?

  • Apakah saham cukup likuid?

  • Apakah kondisi orderbook konsisten dengan pergerakan harga yang lebih besar?


Checklist tersebut pada dasarnya merupakan pengembangan dari kerangka praktis pada draft Anda.


FAQ: Pertanyaan Seputar Orderbook Saham

Apakah bid tebal berarti harga saham akan naik?

Tidak selalu. Bid tebal hanya menunjukkan adanya antrean beli yang relatif besar pada level tertentu. Antrean tersebut masih dapat berubah, berkurang, atau dibatalkan.


Apakah offer tebal berarti harga saham akan turun?

Tidak selalu. Offer tebal dapat terserap oleh transaksi. Karena itu, perlu melihat transaksi yang benar-benar terjadi.


Apa perbedaan bid dan offer?

Bid adalah antrean harga beli, sedangkan offer atau ask adalah antrean harga jual. Transaksi terjadi ketika order pembeli dan penjual dapat dicocokkan.


Apa itu spread?

Spread adalah selisih antara best offer dan best bid.


Apakah orderbook bisa digunakan untuk menentukan waktu beli saham?

Orderbook dapat menjadi salah satu informasi dalam proses analisis, tetapi sebaiknya tidak digunakan sendirian. Perhatikan pula transaksi, volume, harga, likuiditas, dan konteks pasar.


Apa perbedaan orderbook dan running trade?

Orderbook menunjukkan antrean order yang sedang menunggu, sedangkan running trade menunjukkan transaksi yang sudah terjadi. Perbedaan ini merupakan salah satu konsep dasar yang penting dipahami investor pemula.


Kesimpulan

Memahami cara membaca orderbook saham untuk pemula sebenarnya tidak harus dimulai dari strategi yang rumit.


Mulailah dengan memahami empat hal:

Bid → Offer → Spread → Antrean

Kemudian naikkan level analisis dengan memperhatikan:

Last Price → Perubahan Antrean → Running Trade → Volume → Konteks Harga

Hal terpenting adalah jangan terpaku pada pertanyaan:

“Bid lebih besar atau offer lebih besar?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apa yang berubah pada antrean, apakah perubahan tersebut menghasilkan transaksi, dan apakah harga serta volume mengonfirmasinya?”

Dengan pendekatan tersebut, orderbook dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi untuk memahami dinamika permintaan dan penawaran secara lebih disiplin.

Pada akhirnya, cara membaca bid offer saham bukan tentang menemukan “kode pasti” bahwa harga akan naik atau turun. Fokusnya adalah memahami apa yang sedang terjadi di pasar dan membedakan antara order yang masih menunggu dengan transaksi yang benar-benar sudah terjadi.

Disclaimer

Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Referensi

  1. Bursa Efek Indonesia (RDIS) - Bagaimana Mekanisme Jual Beli Saham? RDIS — Mekanisme Jual Beli Saham

  2. OJK - Buku Saku Pasar Modal 2025 OJK — Buku Saku Pasar Modal 2025

  3. Ajaib - Cara Membaca Bid dan Ask Saham Ajaib — Cara Membaca Bid dan Ask Saham

  4. Ajaib - Cara Membaca Running Trade dan Bid-Offer Ajaib — Running Trade dan Bid-Offer

  5. Invezgo - Cara Membaca Bid dan Offer Saham untuk Entry Intraday Invezgo — Bid dan Offer untuk Entry Intraday

  6. Investor.gov / SEC — Ask Price Investor.gov — Ask Price

 
 
 

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page