Cara Membaca Orderbook Saham untuk Pemula: Panduan Bid, Offer, Spread & Antrean

Daftar Isi Cara membaca orderbook saham
Apa Itu Orderbook Saham?
Ketika pertama kali membuka aplikasi trading saham, salah satu tampilan yang sering membuat pemula bingung adalah deretan angka pada sisi Bid dan Offer. Angka tersebut terus berubah mengikuti order beli dan jual yang masuk ke pasar.
Secara sederhana, orderbook saham adalah daftar antrean pesanan beli dan jual yang sedang menunggu untuk dipertemukan. Sisi Bid menunjukkan antrean pembeli, sedangkan sisi Offer atau Ask menunjukkan antrean penjual.
Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa investor memasukkan harga dan jumlah saham yang ingin ditransaksikan. Pesanan kemudian masuk ke sistem perdagangan dan menunggu order lawan yang sesuai. Ketika harga dan jumlah dapat dicocokkan, transaksi atau match terjadi.
Karena itu, memahami cara membaca orderbook saham untuk pemula bukan berarti mencari angka yang bisa memastikan harga akan naik atau turun. Tujuan utamanya adalah memahami kondisi antrean, mengetahui harga beli dan jual yang tersedia, serta melihat apakah aktivitas pada antrean tersebut benar-benar menghasilkan transaksi.
Draft materi ini juga menekankan bahwa jumlah lot yang terlihat hanyalah kondisi antrean pada saat tertentu. Antrean dapat bertambah, berkurang, berpindah, atau tidak seluruhnya menjadi transaksi.
Memahami Bid dan Offer Terlebih Dahulu
Sebelum masuk ke teknik analisis, pemula harus memahami dua istilah paling dasar: Bid dan Offer.
Bid adalah harga beli
Bid merupakan harga tertinggi yang sedang bersedia dibayar oleh pembeli.
Misalnya:
Bid | Lot |
Rp1.000 | 500 |
Rp990 | 700 |
Rp980 | 1.000 |
Artinya terdapat antrean pembeli pada beberapa level harga tersebut.
Pembeli yang memasang bid Rp1.000 bersedia membeli pada harga tersebut. Pembeli pada Rp990 berada satu tingkat di bawahnya.
Offer adalah harga jual
Offer atau Ask merupakan harga terendah yang sedang ditawarkan oleh penjual.
Contohnya:
Offer | Lot |
Rp1.010 | 300 |
Rp1.020 | 450 |
Rp1.030 | 800 |
Penjual pada Rp1.010 menawarkan sahamnya pada harga tersebut.
Secara umum, best bid adalah harga beli tertinggi yang sedang antre, sedangkan best offer adalah harga jual terendah yang sedang antre. Konsep ini juga dijelaskan dalam materi edukasi pasar modal dan berbagai materi edukasi perdagangan saham.
Cara Membaca Bid dan Offer Saham
Setelah memahami definisinya, langkah berikutnya adalah melihat hubungan antara harga dan jumlah lot pada setiap level.
Misalnya sebuah saham menunjukkan:
Level | Bid | Lot Bid | Offer | Lot Offer |
1 | Rp1.000 | 700 | Rp1.010 | 300 |
2 | Rp990 | 900 | Rp1.020 | 500 |
3 | Rp980 | 1.200 | Rp1.030 | 800 |
Pada contoh tersebut:
Best Bid = Rp1.000
Best Offer = Rp1.010
Spread = Rp10
Bid Rp980 memiliki antrean terbesar di sisi pembelian
Offer Rp1.030 memiliki antrean terbesar di sisi penjualan
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa bid yang lebih besar berarti harga pasti naik.
Begitu pula offer yang lebih besar tidak otomatis berarti harga pasti turun.
Inilah kesalahan yang cukup sering dilakukan pemula.
Data antrean merupakan snapshot dari order yang sedang menunggu. Order dapat masuk, berkurang, dipindahkan, atau dibatalkan. Karena itu, cara membaca bid offer saham yang lebih disiplin harus melihat perubahan antrean dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan angka terbesar.
Apa Itu Spread Saham?
Spread adalah selisih antara best offer dan best bid.
Misalnya:
Best Bid = Rp1.000
Best Offer = Rp1.010
Maka:
Spread = Rp1.010 − Rp1.000 = Rp10
Semakin besar jarak antara bid dan offer, semakin besar pula selisih harga yang harus diperhatikan ketika melakukan transaksi.
Namun, spread tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan likuiditas. Kedalaman antrean dan aktivitas transaksi juga perlu diperhatikan.
Contohnya, saham dengan spread relatif sempit belum tentu selalu mudah untuk transaksi dalam ukuran besar apabila jumlah antreannya tipis.
Dengan kata lain, ketika mempelajari cara membaca bid offer saham, jangan hanya bertanya:
“Berapa spread-nya?”
Tetapi juga:
“Seberapa banyak antrean pada level harga tersebut dan seberapa aktif transaksi yang benar-benar terjadi?”
Cara Membaca Antrean Saham
Salah satu kemampuan penting dalam membaca orderbook adalah memahami antrean.
Antrean menunjukkan order yang sedang menunggu untuk dieksekusi.
Contohnya:
Bid:
Rp1.000 — 500 lot
Rp990 — 700 lot
Rp980 — 1.500 lot
Offer:
Rp1.010 — 300 lot
Rp1.020 — 600 lot
Rp1.030 — 1.000 lot
Dari tampilan tersebut, Anda dapat melihat bahwa antrean bid terbesar berada di Rp980.
Tetapi angka tersebut belum membuktikan bahwa Rp980 pasti menjadi support.
Mengapa?
Karena antrean tersebut bisa:
dieksekusi,
dikurangi,
dibatalkan,
dipindahkan ke harga lain,
atau tetap berada di sana sementara transaksi terjadi di level berbeda.
Karena itu, cara membaca antrean saham sebaiknya dilakukan secara dinamis.
Yang lebih penting bukan sekadar:
“Ada berapa lot?”
tetapi:
“Apa yang terjadi dengan lot tersebut setelah beberapa waktu?”
Bid Tebal Tidak Selalu Berarti Harga Akan Naik
Istilah bid tebal biasanya digunakan untuk menggambarkan antrean pembelian yang relatif besar pada satu atau beberapa level harga.
Misalnya:
Bid Rp1.000 = 10.000 lot
Sedangkan level lainnya hanya mempunyai 500–1.000 lot.
Secara visual, antrean Rp1.000 terlihat jauh lebih besar.
Tetapi jangan langsung menganggapnya sebagai support yang pasti.
Jika antrean tersebut kemudian berkurang karena transaksi, situasinya berbeda dengan antrean yang tiba-tiba menghilang tanpa aktivitas transaksi yang sebanding.
Draft Anda juga menekankan bahwa antrean besar perlu dibaca bersama data transaksi karena ukuran antrean dapat berubah akibat eksekusi, pembatalan, maupun perubahan order.
Offer Tebal Tidak Selalu Berarti Harga Akan Turun
Prinsip yang sama berlaku pada sisi penjualan.
Misalnya:
Offer Rp1.050 = 8.000 lot
Sementara level offer lainnya hanya memiliki 500–1.500 lot.
Antrean tersebut terlihat seperti “tembok jual”.
Namun, apakah harga pasti gagal melewati Rp1.050?
Belum tentu.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah antrean tersebut benar-benar dimakan oleh transaksi?
Jika transaksi terus terjadi pada harga offer dan jumlah antrean berkurang, interpretasinya berbeda dengan kondisi ketika offer tiba-tiba menghilang karena order dibatalkan.
Karena itu, jangan menjadikan ukuran antrean sebagai satu-satunya dasar analisis.
Orderbook vs Transaksi: Bagian yang Paling Penting
Ini merupakan konsep yang sangat penting bagi pemula.
Orderbook menunjukkan antrean.
Transaksi menunjukkan order yang sudah benar-benar match.
Contohnya:
Ada offer:
Rp1.010 — 5.000 lot
Angka 5.000 lot tersebut belum berarti 5.000 lot sudah terjual.
Itu hanya menunjukkan jumlah saham yang sedang menunggu pada harga tersebut.
Jika kemudian terjadi transaksi sebanyak 500 lot di Rp1.010, barulah sebagian antrean tersebut benar-benar dieksekusi.
Draft Anda secara eksplisit membedakan antara antrean order dan transaksi yang sudah terjadi.
Karena itu, ketika membaca orderbook, selalu ajukan pertanyaan:
Apakah antrean bertambah?
Apakah antrean berkurang?
Apakah antrean berpindah?
Apakah pengurangan antrean disertai transaksi?
Di sisi mana transaksi lebih banyak terjadi?
Bagaimana harga bergerak setelah transaksi?
Gabungkan Orderbook dengan Running Trade
Orderbook akan menjadi lebih informatif ketika dibaca bersama running trade.
Running trade memberikan catatan transaksi yang benar-benar terjadi, sedangkan orderbook memperlihatkan antrean yang sedang menunggu.
Contohnya:
Kondisi A
Offer:
Rp1.010 — 5.000 lot
Kemudian terjadi transaksi:
Rp1.010 — 100 lot
Setelah itu offer menjadi:
Rp1.010 — 4.900 lot
Ini menunjukkan sebagian antrean telah benar-benar dieksekusi.
Kondisi B
Offer:
Rp1.010 — 5.000 lot
Beberapa detik kemudian:
Offer menghilang
Tetapi tidak terlihat transaksi yang sebanding.
Interpretasinya tidak sama dengan kondisi pertama.
Orderbook dapat berubah karena order dibatalkan atau diubah. Karena itu, pembacaan antrean harus dikaitkan dengan transaksi yang terjadi.
Materi edukasi pasar saham terbaru juga menekankan bahwa orderbook sebaiknya dipadukan dengan running trade, volume, dan konteks harga, bukan digunakan sebagai alat prediksi tunggal.
Cara Membaca Orderbook dengan Kerangka 5 Langkah
Untuk pemula, gunakan proses sederhana berikut.
Langkah 1 - Lihat Last Price
Mulailah dari harga transaksi terakhir.
Tujuannya adalah mengetahui posisi harga saat ini sebelum melihat antrean.
Langkah 2 - Cari Best Bid dan Best Offer
Identifikasi:
Bid tertinggi
Offer terendah
Kedua level tersebut merupakan antrean harga yang paling dekat dengan pasar.
Langkah 3 - Hitung Spread
Hitung selisih antara best offer dan best bid.
Contoh:
Rp1.010 − Rp1.000 = Rp10
Langkah 4 - Lihat Ketebalan Antrean
Jangan hanya melihat level pertama.
Bandingkan beberapa level:
Bid 1
Bid 2
Bid 3
Offer 1
Offer 2
Offer 3
Tujuannya untuk mengetahui struktur antrean secara keseluruhan.
Langkah 5 - Konfirmasi dengan Transaksi
Ini bagian yang paling penting.
Perhatikan apakah perubahan antrean benar-benar disertai transaksi.
Kerangka ini sejalan dengan draft Anda yang menyarankan investor melihat best bid/offer, spread, ketebalan antrean, perubahan antrean, kemudian melakukan konfirmasi melalui transaksi.
Contoh Praktis Membaca Orderbook
Misalkan sebuah saham memiliki tampilan:
Sisi | Harga | Antrean |
Offer 1 | Rp1.010 | 300 lot |
Offer 2 | Rp1.020 | 500 lot |
Offer 3 | Rp1.030 | 800 lot |
Bid 1 | Rp1.000 | 700 lot |
Bid 2 | Rp990 | 900 lot |
Bid 3 | Rp980 | 1.200 lot |
Apa yang bisa kita baca?
Pertama: spread
Best Offer = Rp1.010
Best Bid = Rp1.000
Spread:
Rp10
Kedua: antrean
Bid terbesar pada tiga level tersebut berada di Rp980 dengan 1.200 lot.
Offer terbesar berada di Rp1.030 dengan 800 lot.
Ketiga: jangan langsung mengambil kesimpulan
Apakah bid Rp980 pasti menjadi support?
Belum tentu.
Apakah offer Rp1.030 pasti menjadi resistance?
Belum tentu.
Kita perlu melihat apa yang terjadi ketika transaksi berlangsung.
Jika transaksi terus menyerap offer Rp1.010, kemudian Rp1.020, lalu Rp1.030, kondisi tersebut memberikan informasi yang berbeda dibandingkan jika offer hanya berubah karena order dibatalkan.
Orderbook Harus Dibaca Bersama Volume
Volume membantu menjawab pertanyaan:
Apakah pergerakan harga didukung transaksi yang cukup aktif?
Misalnya harga saham naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.020.
Pada saat yang sama, volume transaksi meningkat.
Informasi tersebut berbeda dengan kondisi ketika harga bergerak naik tetapi aktivitas transaksi relatif kecil.
Karena itu, jangan hanya melihat:
Bid > Offer
Tetapi perhatikan kombinasi:
Orderbook + Last Price + Volume + Running Trade
Draft Anda juga menggunakan kerangka tersebut dengan menempatkan orderbook, spread, last price, volume, time & sales, dan harga historis sebagai komponen yang perlu dibaca bersama.
Bagaimana Menilai Likuiditas dari Orderbook?
Likuiditas saham berkaitan dengan seberapa mudah saham diperdagangkan tanpa menyebabkan perubahan harga yang terlalu besar.
Beberapa informasi yang dapat diperhatikan antara lain:
spread,
kedalaman antrean,
jumlah lot pada beberapa level,
volume transaksi,
frekuensi transaksi,
dan aktivitas perdagangan.
Spread yang relatif sempit dapat menjadi salah satu indikator kondisi perdagangan yang lebih likuid, tetapi spread saja tidak cukup.
OJK bersama Self-Regulatory Organizations juga menyediakan materi edukasi pasar modal yang ditujukan untuk memberikan pemahaman dasar mengenai pasar modal kepada masyarakat, termasuk investor pemula.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
1. Menganggap bid tebal pasti support
Antrean dapat berubah sebelum seluruhnya dieksekusi.
2. Menganggap offer tebal pasti membuat harga turun
Offer dapat terserap oleh transaksi.
3. Menganggap semua order akan dieksekusi
Order yang terlihat belum tentu menjadi transaksi.
4. Hanya melihat satu level
Satu level tidak selalu menggambarkan keseluruhan struktur antrean.
5. Mengabaikan running trade
Orderbook menunjukkan antrean, sedangkan transaksi menunjukkan eksekusi.
6. Mengabaikan volume
Perubahan harga perlu dilihat bersama aktivitas transaksi.
7. Menganggap orderbook sebagai alat prediksi pasti
Orderbook memberikan informasi kondisi pasar saat itu, bukan kepastian tentang harga berikutnya.
Draft Anda secara khusus mencatat bahwa menggunakan orderbook sebagai satu-satunya dasar keputusan merupakan salah satu kesalahan pemula.
Checklist Cara Membaca Orderbook
Sebelum mengambil keputusan transaksi, pemula dapat menggunakan checklist berikut:
Harga
Berapa last price?
Berapa best bid?
Berapa best offer?
Spread
Berapa selisih bid dan offer?
Antrean
Apakah bid relatif tebal atau tipis?
Apakah offer relatif tebal atau tipis?
Apakah terdapat perubahan besar pada antrean?
Transaksi
Apakah antrean yang berkurang benar-benar disertai transaksi?
Di harga berapa transaksi paling aktif?
Volume
Apakah volume mendukung pergerakan harga?
Konteks
Bagaimana tren harga?
Apakah saham cukup likuid?
Apakah kondisi orderbook konsisten dengan pergerakan harga yang lebih besar?
Checklist tersebut pada dasarnya merupakan pengembangan dari kerangka praktis pada draft Anda.
FAQ: Pertanyaan Seputar Orderbook Saham
Apakah bid tebal berarti harga saham akan naik?
Tidak selalu. Bid tebal hanya menunjukkan adanya antrean beli yang relatif besar pada level tertentu. Antrean tersebut masih dapat berubah, berkurang, atau dibatalkan.
Apakah offer tebal berarti harga saham akan turun?
Tidak selalu. Offer tebal dapat terserap oleh transaksi. Karena itu, perlu melihat transaksi yang benar-benar terjadi.
Apa perbedaan bid dan offer?
Bid adalah antrean harga beli, sedangkan offer atau ask adalah antrean harga jual. Transaksi terjadi ketika order pembeli dan penjual dapat dicocokkan.
Apa itu spread?
Spread adalah selisih antara best offer dan best bid.
Apakah orderbook bisa digunakan untuk menentukan waktu beli saham?
Orderbook dapat menjadi salah satu informasi dalam proses analisis, tetapi sebaiknya tidak digunakan sendirian. Perhatikan pula transaksi, volume, harga, likuiditas, dan konteks pasar.
Apa perbedaan orderbook dan running trade?
Orderbook menunjukkan antrean order yang sedang menunggu, sedangkan running trade menunjukkan transaksi yang sudah terjadi. Perbedaan ini merupakan salah satu konsep dasar yang penting dipahami investor pemula.
Kesimpulan
Memahami cara membaca orderbook saham untuk pemula sebenarnya tidak harus dimulai dari strategi yang rumit.
Mulailah dengan memahami empat hal:
Bid → Offer → Spread → Antrean
Kemudian naikkan level analisis dengan memperhatikan:
Last Price → Perubahan Antrean → Running Trade → Volume → Konteks Harga
Hal terpenting adalah jangan terpaku pada pertanyaan:
“Bid lebih besar atau offer lebih besar?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Apa yang berubah pada antrean, apakah perubahan tersebut menghasilkan transaksi, dan apakah harga serta volume mengonfirmasinya?”
Dengan pendekatan tersebut, orderbook dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi untuk memahami dinamika permintaan dan penawaran secara lebih disiplin.
Pada akhirnya, cara membaca bid offer saham bukan tentang menemukan “kode pasti” bahwa harga akan naik atau turun. Fokusnya adalah memahami apa yang sedang terjadi di pasar dan membedakan antara order yang masih menunggu dengan transaksi yang benar-benar sudah terjadi.
Disclaimer
Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi
Bursa Efek Indonesia (RDIS) - Bagaimana Mekanisme Jual Beli Saham? RDIS — Mekanisme Jual Beli Saham
OJK - Buku Saku Pasar Modal 2025 OJK — Buku Saku Pasar Modal 2025
Ajaib - Cara Membaca Bid dan Ask Saham Ajaib — Cara Membaca Bid dan Ask Saham
Ajaib - Cara Membaca Running Trade dan Bid-Offer Ajaib — Running Trade dan Bid-Offer
Invezgo - Cara Membaca Bid dan Offer Saham untuk Entry Intraday Invezgo — Bid dan Offer untuk Entry Intraday
Investor.gov / SEC — Ask Price Investor.gov — Ask Price




Komentar