IHSG & Piala Dunia: Akankah Boikot 2026 Membuat Pasar Tetap Terjaga?
- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Demam Sepak Bola versus Fokus Pasar
Ada sebuah mitos klasik yang sangat terkenal di bursa Wall Street maupun pasar saham Asia: ketika peluit Piala Dunia FIFA ditiup, likuiditas pasar saham seketika mengering.
Menurut para pelaku pasar senior, bulan-bulan selama Piala Dunia secara historis selalu mencatatkan volume perdagangan yang jauh lebih rendah. Ditambah lagi, turnamen tahun 2026 datang pada momen yang kurang ideal. IHSG baru saja mengalami koreksi tajam pada Mei 2026 dan saat ini berada di fase pemulihan yang masih rapuh.
Namun, dengan meningkatnya seruan global untuk memboikot Piala Dunia 2026, apakah para trader dan investor ritel benar-benar akan mematikan televisi mereka dan tetap fokus pada pergerakan pasar?

Anatomi āEfek Piala Duniaā dalam Konteks Historis
Nyatanya fenomena ini bukan sekadar mitos, melainkan pola yang terbukti dari data historis BEI. Periode Piala Dunia telah menekan Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) IHSG sekitar 10ā12% yang terutama berasal dari segmen ritel muda. Sebagai perbandingan, pada edisi Qatar 2022, RNTH anjlok hingga 11,2%.
Dari segi distraksi, perbedaan zona waktu juga mengakibatkan penggemar Piala Dunia kelelahan akibat menonton pertandingan pada dini hari sehingga berpotensi menekan aktivitas investor pada sesi perdagangan pagi hari berikutnya. Piala Dunia 2026 sendiri kali ini diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan perbedaan waktu 11ā12 jam, menyebabkan mayoritas pertandingan ditayangkan pukul 23.00 hingga 11.00 WIB.
Selain itu, modal spekulatif dari investor ritel sering kali berpindah ke sektor konsumsi. Sektor hiburan konvensional seperti bioskop justru menghadapi tantangan persaingan langsung dari 104 pertandingan yang disiarkan di layar kaca.
Dampak Gerakan Boikot: Anomali 2026
Tahun ini, kebiasaan pasar tradisional tersebut mungkin akan mengalami disrupsi besar. Terdapat sentimen global yang kuat serta kampanye aktif yang mendesak masyarakat untuk memboikot turnamen 2026 akibat ketegangan geopolitik.
Mengingat ini adalah edisi Piala Dunia terbesar dengan total 104 pertandingan, durasi distraksi pasar seharusnya lebih panjang dibanding tahun 2022. Artinya bagi IHSG, jika sebagian besar masyarakat Indonesia benar-benar memboikot pertandingan tersebut, maka āfase sepiā Piala Dunia mungkin tidak akan terwujud.
Tesis utamanya, boikot yang masif ditambah dengan jam tayang tengah malam yang tidak bersahabat mungkin akan berarti lebih sedikit orang yang begadang. Hal ini berpotensi menormalkan volume perdagangan di bulan Juni dan Juli 2026, mematahkan ekspektasi historis. Net stance IHSG cenderung netral dengan tetap berhati-hati serta peluang selektif di emiten beneficiary seperti media, telekomunikasi, dan streaming.
Jadi, bagaimana menurut Sobat KAF? Siapa yang kalian prediksi akan menjuarai Piala Dunia, dan apa yang menurut kalian akan terjadi pada pasar saham Indonesia selama turnamen? Atau justru Sobat KAF ikut memboikot Piala Dunia 2026? Tulis komentar di bawah!
Will you still be cheering on the 2026 World Cup, or will you boycott it?
Will be cheering
Boycott!
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar