Pariwisata Indonesia: Mesin Ekonomi Baru Menuju 2045
- 3 Agu
- 4 menit membaca
Meski Indonesia terbilang masih tertinggal dari Malaysia dan Thailand, sektor pariwisata mulai dianggap serius sebagai salah satu pilar ekonomi menuju 2045. Pariwisata Indonesia nyaris lumpuh selama era pandemi, tetapi kini kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terus naik dalam dua tahun terakhir. Devisa dan lapangan kerja pun ikut meningkat. Pelemahan rupiahāyang sejatinya merupakan kabar burukājustru membuat liburan ke Indonesia relatif lebih terjangkau di mata turis asing, ikut mendorong momentum ini.
Pertengahan Juli 2026, rupiah melemah di kisaran Rp17.900āRp18.100 per dolar AS akibat sejumlah tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga, hingga kenaikan harga minyak dunia. Bagi turis asing, pelemahan tersebut justru berarti daya beli yang lebih besar: akomodasi, makanan, transportasi lokal, dan belanja oleh-oleh menjadi relatif lebih murah dibanding mata uang yang lebih kuat. Ini salah satu faktor pendukung mengapa kunjungan wisman terus tumbuh meski ekonomi global penuh ketidakpastian sekaligus alasan mengapa sektor pariwisata sering disebut sebagai āpenyeimbangā saat sektor ekspor manufaktur melemah.

Sekilas Angka Pariwisata Indonesia 2025
Indikator | Nilai |
Kunjungan wisman | 15,39 juta (+10,8% yoy) |
Perjalanan wisatawan domestik (wisnus) | 1,2 miliar perjalanan (+17,55% yoy) ā rekor 7 tahun |
Devisa pariwisata | US$Ā 18,28ā18,91 miliar (+13,17% yoy) |
Tenaga kerja terserap | 25,91 juta orang (+3,64% dari 2024) |
Investasi sektor pariwisata | ±Rp73,6 triliun (+56,05% yoy) |
Kontribusi ke PDBĀ 2025 | 3,97% (Target 2026: 4,5ā5%) |
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, dan Bank Indonesia (BI)
Pariwisata punya salah satu multiplier effect terbesar di antara sektor ekonomi. Satu turis yang datang menggerakkan rantai pendapatan mulai dari penerbangan, hotel, restoran, transportasi lokal, kerajinan, hingga UMKM di destinasi wisata. Bukan cuma satu pelaku usaha yang menikmati hasilnya.
Di Bursa Efek Indonesia, multiplier ini tercermin lewat kinerja 30+ emiten lintas sektor: dari maskapai seperti Garuda Indonesia (GIAA), operator hotel seperti Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) dan Jakarta Setiabudi Internasional (JSPT), hingga penyedia jasa transportasi wisata seperti Blue Bird (BIRD).
Profil Wisatawan Mancanegara
Selain ledakan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang 2025āyang menopang okupansi jaringan hotel domestik seperti Hotel Sahid Jaya (SHID), Red Planet / Monoloog Hotel (PSKT), serta operator hiburan urban Cinema XXI (CNMA)ākunjungan wisman juga tidak kalah signifikan. Sejumlah waralaba F&B asing yang dikelola oleh MAP Boga Adiperkasa (MAPB) juga sering kali menjadi tujuan para wisman.
Pada 2025, berdasarkan data BPS dan Kemenpar RI, wisatawan ASEAN mendominasi dengan porsi 41,3%, dipimpin oleh Malaysia (~2,65 juta kunjungan) dan disusul oleh Singapura (~1,52 juta kunjungan). Sementara di luar ASEAN, ada Australia (~1,75 juta kunjungan) dan China (~1,34 juta kunjungan).
Rata-rata pengeluaran wisman sepanjang tahun (Average Spending Per Arrival / ASPA) tercatat sekitar US$ 1.267 per kunjungan, di atas target US$ 1.220, dengan pola pengeluaran yang cukup konsisten:
Akomodasi dan hotel: porsi terbesar, sekitar 37ā42% dari total pengeluaran
Makan dan minum: sekitar 19ā20%
Belanja dan cinderamata: ~11%
Hiburan dan aktivitas: ~9%
Sisanya tersebar ke transportasi lokal, penerbangan domestik, hingga sewa kendaraan
Porsi belanja dan cendera mata ini ikut menopang pertumbuhan ritel dan produk konsumen buatan lokalātermasuk kosmetik dan wewangianādi mana emiten seperti Mandom Indonesia (TCID), Mustika Ratu (MRAT), Martina Berto (MBTO), dan Kino Indonesia (KINO) berpotensi mendapat limpahan belanja wisatawan sebagai bagian dari oleh-oleh dan produk personal care.
Wonderful Indonesia dan Target Besar Kementerian Pariwisata
Kampanye promosi pariwisata Indonesia yang berjalan di bawah payung Wonderful Indonesia membagi daya tarik negeri ini ke lima kategori: Nature, Culinary & Wellness, Arts & Heritage, Recreation & Leisure, serta Adventure. Target besar Kementerian Pariwisata dalam beberapa tahun ke depan mencakup:
Sebanyak 16ā17,6 juta kunjungan wisman pada 2026, dengan ambisi jangka menengah menembus 20 juta+ per tahun.
Mempertahankan kontribusi PDB di kisaran 4,5ā5% pada 2026.
Sport tourism sebagai fokus baru, mencontoh model seperti tur Stadion Anfield di Liverpool yang menarik hampir 400 ribu wisatawan per tahun. Emiten seperti MNC Tourism (KPIG)āyang berfokus pada pariwisata dan rekreasi dengan portofolio lapangan golf premium di Bogor, Jawa Barat dan Tabanan, Baliāmungkin berpotensi mendapat eksposur.
Indonesia Quality Tourism Fund (IQTF), skema pembiayaan baru untuk keberlanjutan fiskal sektor ini.
Insentif pajak PPh DTP bagi tenaga kerja pariwisata periode 2025ā2026.
Upskilling 400.000 tenaga kerja pariwisata per tahun.
Percepatan konektivitas antarbandara, bandara-bandara baru, relaksasi fasilitas visa (19 negara kini masuk skema Bebas Visa Kunjungan), serta proyek-proyek konektivitas darat pendukungnya yang turut melibatkan kontraktor BUMN.
Sektor Pariwisata dalam Visi Indonesia Emas 2045
Pariwisata secara eksplisit dijadikan salah satu sektor produktif kunci dalam Visi Indonesia Emas 2045 untuk mencapai target 5ā10 ekonomi terbesar dunia pada peringatan 100 tahun kemerdekaan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025ā2045, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ditetapkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru bersama manufaktur, ekonomi syariah, pertanian, ekonomi biru, UMKM, serta masuk dalam Indikator Utama Pembangunan nasional.
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto, saat membuka Rakornas Pariwisata 2026, menegaskan target kontribusi pariwisata naik hingga 5% terhadap PDB nasional pada 2029, dengan proyeksi perolehan devisa mencapai US$ 39,4 miliar atau setara nilai ekspor komoditas andalan seperti batu bara dan sawit. Indeks daya saing pariwisata (Travel and Tourism Development Index / TTDI) Indonesia juga ditargetkan masuk 20 besar dunia.
Momentum Nyata, Tantangan Juga Nyata
Pariwisata Indonesia sedang tumbuh dengan momentum yang nyata. Kunjungan naik dua tahun beruntun, devisa membesar, tenaga kerja terserap lebih luas, dan pemerintah menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar produktivitas menuju Indonesia Emas 2045, lengkap dengan target resmi jangka panjang (8% PDB pada 2045) yang tercantum dalam Indikator Utama Pembangunan RPJPN. Rupiah yang melemah, alih-alih jadi berita buruk semata, justru jadi daya tarik tambahan bagi wisman.
Akan tetapi, tantangannya tetap besar: Indonesia masih tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand dalam jumlah kunjungan absolut. Target kontribusi pariwisata ke PDBābaik 5% pada 2029 maupun 8% pada 2045āmasih menuntut kerja ekstra, bukan sekadar tercapai otomatis lewat visi besar semata. Bagi pelaku pasar modal, momentum ini tetap layak dicermati lewat rantai nilai emiten terkait pariwisata dengan tetap memperhitungkan risiko dan fundamental masing-masing perusahaan secara independen.
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar