Roadmap Danantara Buka Peluang IPO BUMN, Siapa yang Layak Masuk Bursa?
- 18 Agu
- 4 menit membaca
Diperbarui: 20 Agu

IPO BUMN Masuk dalam Roadmap Transformasi Danantara
Sudah lebih dari tiga tahun sejak PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melakukan penawaran umum perdana alias IPO pada Februari 2023. Kini peluang hadirnya perusahaan baru dari ekosistem BUMN di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terbuka seiring masuknya IPO ke dalam roadmap transformasi lima tahun Danantara. Namun, sebelum perusahaan dibawa ke pasar modal, transformasi diarahkan terlebih dahulu pada pembenahan struktur, organisasi, dan operasional perusahaan. Dengan pendekatan tersebut, IPO menjadi salah satu pilihan untuk menciptakan nilai setelah fondasi bisnis dinilai lebih siap.
Roadmap tersebut dimulai dengan konsolidasi serta restrukturisasi pada tahun pertama, kemudian pengembangan SDM dan budaya perusahaan pada tahun kedua. Tahun ketiga berfokus pada inovasi dan implementasi kecerdasan buatan, sedangkan tahun keempat memasuki fase value creation, termasuk penentuan perusahaan yang akan mencari mitra strategis, melakukan IPO, atau tetap tertutup. Pada tahap berikutnya, fokus diarahkan pada peningkatan kinerja dan daya saing perusahaan secara global.
Pegadaian hingga InJourney Airports Mulai Masuk Radar
Empat nama telah disebut sebagai perusahaan yang dinilai memiliki potensi untuk dibawa ke pasar modal, yaitu PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), serta PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports). Belum terdapat keputusan maupun jadwal IPO untuk masing-masing perusahaan tersebut, lantas menyebutkan empat nama ini bukan berarti perusahaan telah resmi dipersiapkan untuk melantai di BEI. Meski demikian, karakter bisnisnya memberikan gambaran mengenai aset dalam ekosistem BUMN yang berpotensi dibuka kepada investor publik.
Perusahaan | Bisnis Utama |
Pegadaian | Pembiayaan gadai & ekosistem emas |
Pupuk Indonesia | Pupuk & petrokimia |
Pelindo | Pelabuhan & logistik |
InJourney Airports | Pengelolaan bandara |
Skala IPO juga dapat menjadi relevan bagi investor institusional, termasuk investor asing. IPO dengan kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas yang memadai berpotensi memperluas investable universe Indonesia bagi dana institusional global walaupun arus dana tetap akan bergantung pada fundamental, valuasi, tata kelola, dan struktur penawaran. Di sisi lain, kehadiran IPO BUMN juga dapat mendukung target BEI untuk memiliki lebih dari 1.100 perusahaan tercatat pada 2030.
Masih Banyak Aset Menarik
Di luar empat nama tersebut, PT Geo Dipa Energi menjadi salah satu perusahaan yang menarik untuk diperhatikan. Geo Dipa mengelola proyek panas bumi Dieng dan Patuha dengan total kapasitas terpasang sekitar 120 MW, sementara pengembangan jangka panjangnya diarahkan menuju kapasitas yang lebih besar. Dengan bisnis yang fokus pada geotermal, Geo Dipa secara teori memiliki karakter yang cukup jelas apabila suatu saat dipertimbangkan untuk mengakses pasar modal.
Akan tetapi, IPO mandiri bukan satu-satunya pilihan untuk menciptakan nilai dari Geo Dipa. Danantara juga dapat mempertimbangkan apakah pengembangan panas bumi BUMN akan lebih efektif jika asetnya dikonsolidasikan dengan platform yang sudah ada seperti PGEO. Gagasan konsolidasi aset geotermal BUMN bukan hal baru. Pemerintah pernah membahas pembentukan holding yang melibatkan PGE, Geo Dipa, dan aset geotermal PLN pada 2021. Karena itu, pertanyaan strategisnya bukan sekadar apakah Geo Dipa layak IPO, tetapi apakah nilainya akan lebih besar sebagai perusahaan yang berdiri sendiri atau sebagai bagian dari platform geotermal BUMN yang lebih terintegrasi.
Pilihan potensial lainnya mencakup Pertamina International Shipping (PIS), PTPN IV PalmCo, ASDP Indonesia Ferry, hingga Bio Farma.
Perusahaan | Bisnis Utama |
Pertamina International Shipping (PIS) | Pelayaran energi & logistik minyak dan gas |
PTPN IV PalmCo | Perkebunan kelapa sawit & agribisnis |
ASDP Indonesia Ferry | Transportasi penyeberangan & operator kapal feri |
Bio Farma | Farmasi & produksi vaksin |
Apa yang Belum Bisa Dibeli Investor Melaui BEI?
Hal yang membuat potensi IPO tersebut menarik adalah masih adanya beberapa model bisnis strategis yang belum memiliki representasi sebanding di BEI. Investor memiliki banyak pilihan pada perbankan, pertambangan, consumer, properti, dan telekomunikasi, tetapi belum memiliki akses langsung terhadap operator pelabuhan nasional sekelas Pelindo atau jaringan bandara seperti InJourney Airports. Pilihan untuk memperoleh eksposur terhadap produsen pupuk berskala nasional maupun bisnis pelayaran energi terintegrasi juga masih terbatas.
Masuknya perusahaan-perusahaan tersebut dapat memperluas pilihan investasi tanpa hanya menambah jumlah emiten. Pelindo dapat menjadi referensi bagi valuasi bisnis pelabuhan, InJourney Airports untuk kebandarudaraan, PIS untuk pelayaran energi, sementara Geo Dipa dapat menambah pilihan pada geotermal. Dengan demikian, investor dapat memperoleh eksposur yang lebih spesifik terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya sulit diakses melalui saham yang tercatat di BEI.
IPO Sebagai Langkah Berikutnya untuk Ekspansi
Selain membuka bisnis kepada investor publik, IPO dapat menjadi alternatif pendanaan bagi perusahaan yang membutuhkan investasi besar untuk tumbuh. Kebutuhannya berbeda di setiap sektor: geotermal membutuhkan pembangunan pembangkit dan pengeboran sumur, pelayaran membutuhkan pembelian serta pembaruan armada, sedangkan pelabuhan dan bandara memerlukan investasi untuk menambah kapasitas serta meningkatkan kualitas fasilitas.
IPO juga tidak selalu berarti pemerintah atau pemegang saham lama hanya menjual sebagian kepemilikannya. Penawaran dapat dilakukan melalui penerbitan saham baru, penjualan saham yang sudah dimiliki pemegang saham lama, atau kombinasi keduanya. Jika perusahaan menerbitkan saham baru, dana yang diperoleh dapat masuk langsung ke perusahaan dan digunakan untuk ekspansi sesuai rencana penggunaan dana dalam prospektus. Dalam struktur seperti ini, pasar modal dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk mendukung tahap pertumbuhan berikutnya.
Dari Restrukturisasi Menuju Pasar Modal
Roadmap Danantara membuka kemungkinan bahwa wajah emiten BUMN di BEI beberapa tahun mendatang dapat berbeda dari saat ini. Bukan hanya perusahaan besar yang sudah dikenal publik, tetapi juga bisnis pelabuhan, bandara, pupuk, geotermal, hingga pelayaran energi yang selama ini belum banyak tersedia melalui pasar saham. Jika sebagian aset tersebut akhirnya masuk bursa, daya tariknya bukan semata-mata karena status BUMN, tetapi karena investor mendapatkan akses terhadap bisnis yang sebelumnya sulit dimiliki secara langsung.
Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan InJourney Airports telah disebut sebagai perusahaan yang memiliki potensi untuk masuk pasar modal, sementara Geo Dipa, PIS, PalmCo, ASDP, hingga Bio Farma menunjukkan bahwa pilihan bisnis menarik dalam ekosistem BUMN masih jauh lebih luas. Menurut Sobat KAF, perusahaan mana yang paling menarik jika suatu saat sahamnya dapat dimiliki melalui BEI?
Yuk, diskusi di kolom komentar!
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. Data dilansir dari berbagai sumber. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar