Strategi Investasi Saham Bank: Blue Chip vs Second Liner
- Nesya Rahman
- 21 Jan
- 2 menit membaca
Diperbarui: 22 Jan
Sektor perbankan kerap menjadi sorotan karena peran vitalnya dalam perekonomian. Bukan sekadar tempat menyimpan uang, bank menghimpun dana masyarakat untuk disalurkan kembali dalam bentuk kredit yang kemudian mendorong pertumbuhan bisnis sektor lain.
Di pasar saham, sektor ini terkenal stabil, likuid, dan sering dijadikan barometer kondisi ekonomi secara keseluruhan. Tak heran jika saham perbankan selalu masuk radar investor, baik yang pemula maupun berpengalaman.

Perbankan Blue Chip vs Second Liner, Lebih Untung Mana?
Pernah bertanya-tanya kenapa saham BBCA, BBRI, atau BBNI selalu jadi favorit investor? Atau kenapa beberapa orang justru memilih saham perusahaan menengah dengan harga yang lebih terjangkau? Jawabannya ada pada perbedaan antara blue chip (first liner) dan second linerādua kategori saham yang punya karakter, risiko, dan potensi keuntungan berbeda. Penting memahami perbedaannya sebelum menentukan strategi investasi di sektor perbankan.
Saham blue chip berasal dari perusahaan besar dan mapan dengan kinerja keuangan yang stabil. Ciri-cirinya antara lain likuiditas tinggi, risiko fluktuasi harga relatif rendah, dan membagikan dividen rutin. Karena kestabilannya, blue chip sering dijadikan fondasi portofolio jangka panjang. Contoh saham blue chip yang populer adalah BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI. Blue chip cocok untuk investor yang ingin aman dan tumbuh secara stabil.
Sementara itu, saham second liner berasal dari perusahaan menengah yang sedang berkembang. Potensi kenaikan harga sahamnya bisa lebih tinggi dibanding blue chip, tetapi risiko dan volatilitasnya juga lebih besar. Harga saham yang relatif terjangkau membuat second liner menarik bagi investor yang ingin mengejar capital gain. Contoh saham second liner yang sering diperhatikan adalah BBYB, ARTO, BRIS, AMAR , dan DNAR. Saham jenis ini lebih cocok untuk profil risiko moderat atau agresif yang siap mengambil risiko demi pertumbuhan cepat.
Jawaban dari pertanyaan di awal tergantung tujuan dan profil risiko investor. Jika ingin investasi aman dan stabil, blue chip adalah pilihan tepat. Namun jika siap menghadapi fluktuasi harga untuk potensi pertumbuhan lebih cepat, second liner bisa memberi peluang lebih besar. Banyak investor memilih kombinasi keduanya sebagai strategi diversifikasi, sehingga portofolio tetap seimbang antara keamanan dan pertumbuhan.
Indikator Perbankan yang Perlu Diperhatikan
Dalam memilih saham, terutama saham perbankan, terdapat beberapa indikator penting yang perlu diperhatikan.
NPL (Non-Performing Loan) menunjukkan seberapa banyak pinjaman yang gagal bayar. Semakin rendah, semakin sehat suatu bank.
CAR (Capital Adequacy Ratio) menilai kecukupan modal bank untuk menutupi risiko kerugian.
ROE dan ROA mengukur seberapa efisien bank menghasilkan laba dari modal dan asetnya.
Pertumbuhan kredit dan laba serta kualitas manajemen dan strategi bisnis jangka panjang menjadi faktor kunci dalam menentukan prospek bank.
Dengan memahami indikator-indikator ini, investor bisa menyesuaikan pilihan saham dengan tujuan dan tingkat risiko masing-masing.
Kesimpulan
Sektor perbankan menawarkan peluang menarik melalui saham bank besar ataupun menengah. Melalui kekuatan analisis fundamental dan teknikal, investor harus bisa menentukan momen entry dan exit yang tepat serta menyesuaikan pilihan saham dengan tujuan investasi dan profil risiko. Strategi lainnya mencakup mengombinasikan blue chip untuk stabilitas dan second liner untuk pertumbuhan sehingga kinerja portofolio tetap optimal.
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar