Membaca Peluang Investasi di Balik Tren Kebugaran Gen Z
- 2 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Tanpa disadari, akhir pekan generasi muda kini lebih sering berakhir di lapangan padel, kelas Hyrox, atau sekadar jalur lari pagiābukan lagi cuma di kafe atau klub malam. Di balik pergeseran gaya hidup ini, ada perputaran uang dalam skala besar mulai dari biaya membership bulanan, sewa lapangan, hingga emiten gaya hidup dan rekreasi yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Peta Tren Kebugaran Gen Z
Pergeseran gaya hidup Gen Z menuju olahraga sebagai aktivitas sosial sekaligus konten tercermin dari tiga tren utama yang tumbuh pesat sepanjang 2024ā2026.
Padel, Ledakan Tercepat Sepanjang 2025
Olahraga asal Meksiko ini meledak di Indonesia, terutama di kalangan Gen Z. Berdasarkan Indonesia Padel Report 2025, jumlah klub padel domestik melonjak hingga 295% dalam setahun, dengan lebih dari 1.500 lapangan baru dibangun di berbagai kota, setara hampir empat lapangan baru setiap hari.
Data Garmin Connect bahkan mencatat aktivitas padel pengguna di Indonesia naik lebih dari 1.600% dibanding tahun sebelumnya, menjadikannya olahraga dengan pertumbuhan tercepat tahun ini, melampaui lari maupun tenis.
Google Year in Search 2025 juga untuk pertama kalinya memberi ālariā dan āpadelā kategori pencarian khusus tersendiri, sinyal bahwa keduanya dianggap bukan lagi tren musiman, melainkan gaya hidup baru.
Hyrox dan Demam Functional Fitness

Selain padel, demam functional fitness merambah lewat Hyrox, kompetisi yang memadukan lari dengan rangkaian latihan fungsional. Komunitasnya sudah aktif di sejumlah gym premium Jakarta dan telah menggelar ajang resminya sendiri lewat AirAsia HYROX Jakarta 2026.
Jadwal kelas-kelas gym dan studio kebugaran di kota besar pun kini sering penuh booking jauh-jauh hari, dari kelas HIIT hingga reformer pilates.
Golf, dari Generasi Eksekutif ke Gen Z
Golf, yang dulu identik dengan generasi eksekutif paruh baya, kini mulai dilirik anak muda yang melihatnya sebagai ruang sosial baru sekaligus simbol pencapaian. Pergeseran kebiasaan ini bukan cuma soal gaya hidup, melainkan juga soal uang yang berpindah tangan dalam skala besar. Menurut Global Wellness Institute, nilai pasar wellness secara global sudah menembus lebih dari US$ 5 triliun dan terus tumbuh setiap tahun.
Menariknya bagi Investor
Pertumbuhan komunitas yang sedemikian cepat mengundang pertanyaan: ke mana sebenarnya perputaran uang ini bisa diakses lewat pasar modal? Ada tiga hal yang perlu dipahami investor sebelum menjawabnya.
Klasifikasi Resmi di BEI
BEI tidak memiliki sektor khusus āOlahragaā atau āKebugaranā. Dalam klasifikasi resmi IDX Industrial Classification (IDX-IC), perusahaan yang bergerak di bidang kebugaran, klub olahraga, hingga fasilitas rekreasi masuk ke dalam sektor besar Barang Konsumen Non-Primer (Consumer Cyclicals)āsektor yang permintaannya cenderung naik turun seiring siklus ekonomi.
Lebih spesifik lagi, ada subsektor Peralatan Olahraga & Barang Hobi serta industri Fasilitas Rekreasi & Olahraga yang mencakup usaha jual beli perlengkapan olahraga, pengelolaan pusat kebugaran, hingga klub olahraga.
Model Bisnis Komunitas dan Recurring Income
Ketiadaan sektor khusus bukan halangan untuk membaca peluang. Kuncinya ada pada dua hal: komunitas dan infrastruktur. Perusahaan yang berhasil membangun basis komunitas loyal sekaligus menyediakan infrastruktur fisik punya potensi mencetak pendapatan berulang (recurring income) dari beberapa lapisan sekaligus:
Biaya keanggotaan (membership) bulanan atau tahunan.
Sewa lapangan atau fasilitas per jam maupun per sesi.
Penjualan F&B sehat dan merchandise di lokasi.
Kelas-kelas privat atau program pelatihan berbayar.
Ekosistem Digital: Peluang Bisnis Minim Aset (Asset-Light)
Selain infrastruktur fisik, tren ini melahirkan ekosistem digital yang sangat masif sebagai perantara konsumen dan pengelola fasilitas. Model bisnis asset-light ini sangat efisien karena tidak membutuhkan belanja modal (capex) besar untuk membangun lapangan, melainkan bertumpu pada margin transaksi dan biaya langganan.
Aplikasi Agregator & Langganan: Menjawab karakter audiens yang dinamis dan tidak ingin terikat pada satu gym, aplikasi ini menawarkan satu akses untuk berbagai studio fitness dan kelas olahraga berbeda.
Marketplace Booking: Aplikasi ini mengubah cara lama pemesanan fasilitas menjadi real-time. Kehadiran platform ini krusial dalam mengamankan rutinitas reservasi lapangan di GOR lokal setiap pekannya, memfasilitasi pencarian lawan latih tanding (sparring), hingga mengelola antrean klub secara profesional.
Sudah Ada di Bursa: Jejak Nyata
Tren ini bukan cuma wacana di atas kertas. Salah satu contohnya adalah PT Intra Golflink Resorts Tbk. (GOLF), perusahaan pengelola sejumlah lapangan dan fasilitas golf yang resmi mencatatkan sahamnya pada pertengahan 2024.
Selain itu, ada juga PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk. (BIKE) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) walaupun MAPA tidak secara spesifik masuk ke subsektor atau industri olahraga, melainkan perdagangan ritel khusus.
Tren Sesaat (Fad Risk), Padat Modal, dan Risiko Likuiditas Saham
Selera anak muda bisa berubah secepat algoritma media sosial. Olahraga yang ramai hari ini bisa saja sepi tahun depan begitu ada tren baru yang lebih hype.

Contoh nyata di Swedia, negara pionir padel di Eropa itu mulai mengalami fase koreksi industri olahraga setelah lonjakan pesat pada masa awal kemunculannya. Pemicunya yakni kelebihan pasokan lapangan dan tekanan finansial dari para operatornya.
Implikasinya, apa yang sedang booming di Indonesia hari ini bukan jaminan akan terus booming lima tahun ke depan.
Selain risiko tren, ada dua tantangan struktural yang melekat pada model bisnis sektor ini.
Capital Intensive (Padat Modal): Membangun fasilitas gym premium, lapangan padel, atau country club lengkap dengan klub golf membutuhkan belanja modal (capex) yang sangat besar mulai dari lahan, konstruksi, hingga perawatan rutin. Jika tren mereda, beban perawatan aset fisik ini bisa langsung menggerus margin keuntungan.
Risiko Likuiditas: Perusahaan di niche ini umumnya berkapitalisasi pasar kecil hingga menengah dibanding raksasa di sektor perbankan atau energi, sehingga harga sahamnya cenderung lebih rentan bergerak tajam hanya dengan transaksi dalam volume yang relatif kecil.
Tren Nyata, tapi Tetap Perlu Kepala Dingin
Tren kebugaran (wellness) Gen Z adalah fenomena nyata yang membawa angin segar bagi industri gaya hidup fisik di Indonesia, dari lapangan padel yang makin padat, kelas Hyrox yang makin ramai, sampai golf yang mulai dilirik generasi baru. Namun seperti tren konsumen lain yang pernah booming dan kemudian meredup, investor tetap harus rasional dalam menilai keberlangsungan bisnis di baliknya, bukan sekadar ikut arus karena sedang viral.
Melihat antusiasme luar biasa pada berbagai lapangan olahraga, pusat kebugaran, dan tren wellness saat ini, muncul sebuah pertanyaan menarik: akankah kinerja industri konvensional seperti rokok dan minuman beralkohol mulai tergeser? Lebih jauh lagi, akankah kita segera menyaksikan gelombang penawaran umum perdana (IPO) baru atau revaluasi di pasar privat (private market) untuk perusahaan mega-gym, operator lapangan olahraga, merek perlengkapan olahraga lokal, hingga pengembang ekosistem digital kebugaran?
Memahami pergeseran gaya hidup ini memang menjadi titik awal yang krusial. Akan tetapi, analisis fundamental dan pendekatan berbasis data harus selalu menjadi pegangan utama, karena jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan keputusan investasi yang sekadar didorong oleh sentimen atau tren sesaat.
Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).




Komentar