top of page

Bisnis Haji & Umrah: Geliat Rupiah di Balik Perjalanan Religi

  • 3 hari yang lalu
  • 5 menit membaca

Setiap musim haji tiba, lebih dari 200 ribu warga Indonesia mengenakan ihram putih dan berangkat ke Tanah Suci. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemegang kuota haji terbesar di dunia.


Jutaan jemaah lain bergiliran menunaikan umrah sepanjang tahun, menjadikan Indonesia negara pengirim jemaah umrah terbesar kedua di dunia setelah Pakistan. Tidak ada negara mayoritas Muslim lain yang mengirim umatnya ke Tanah Suci sesering itu tahun demi tahun.


Terdapat perputaran uang dalam jumlah sangat besar di sektor penerbangan, akomodasi hotel, transportasi darat, katering, hingga pengurusan visa dari setiap rangkaian haji dan umrah. Skala ini menegaskan bahwa haji dan umrah bukan sekadar ibadah musiman, melainkan sektor komersial berskala masif yang melibatkan maskapai pelat merah, badan investasi negara, hingga kebijakan lintas pemerintahan Indonesia–Arab Saudi.


Mari kita bedah ekosistem haji dan umrah di Indonesia mulai dari jumlah jemaah dan uang yang mengalir di dalamnya, keterlibatan Garuda Indonesia dan Danantara, hingga langkah Arab Saudi memperbesar peluang ibadah bagi dunia.


Kakbah mekah
Sumber Gambar: islamicity.org

Berapa Besar Ekosistem Haji dan Umrah di Indonesia?


Pada musim haji 1447 H/2026 M, Arab Saudi menetapkan kuota haji Indonesia sebanyak 221.000 jemaah yang terdiri atas 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah khusus. Indonesia memegang kuota haji terbesar di dunia, jauh di atas Pakistan (sekitar 180.000 visa) dan India (175.025 visa) [1][2].


Jemaah haji reguler 2026 rata-rata mengeluarkan Rp54 juta dari kantong sendiri, sekitar 62% dari total Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang rata-rata mencapai Rp87 juta per orang. Sisanya ditutup oleh nilai manfaat dana kelolaan haji [3].


Berbeda dengan haji yang dibatasi kuota tahunan, umrah bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Setiap tahun, jutaan warga Indonesia terbang untuk umrah dengan biaya sekitar Rp23–35 juta per jemaah. Uang yang berputar dari situ saja diperkirakan menembus puluhan triliun rupiah dalam setahun; belum lagi menghitung belanja oleh-oleh, perlengkapan ibadah, hingga jasa katering manasik yang menghidupi ribuan UMKM di seluruh Indonesia.


Garuda Indonesia, Maskapai Utama Penerbangan Haji


PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) pada 2026 berhasil menerbangkan 102.502 jemaah haji dari 10 embarkasi di seluruh Indonesia yang dibagi menjadi 278 kloter. Maskapai mencatat tingkat ketepatan waktu (on-time performance) kumulatif sebesar 94,3% untuk keberangkatan dan kepulangan [4].


Dengan mengerahkan 15 pesawat berbadan lebar (wide-body), Garuda menjadi salah satu tulang punggung ekosistem haji dan umrah di Indonesia. Musim haji sendiri secara konsisten telah menopang pendapatan maskapai setiap tahunnya.



Langkah Danantara Ubah Biaya Sewa Jadi Aset Bangsa


Hal yang lebih menarik terjadi di darat, tepatnya di Makkah. Selama puluhan tahun, biaya sewa hotel jemaah Indonesia mengalir ke luar negeri, dibayarkan kepada pihak asing tanpa ada yang kembali. Itulah yang coba diubah pemerintah Indonesia lewat Danantara.


Melalui proyek Kampung Haji, Danantara mengakuisisi Hotel Novotel Thakher Makkah berkapasitas 4.641 kamar serta lahan di area yang sama seluas 4,4 hektare. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Nilai investasi awal mencakup US$ 500 juta untuk akuisisi hotel, US$ 750 juta untuk pembelian lahan secara keseluruhan, serta US$ 700–800 juta untuk membangun 13–15 menara hunian dan pusat perbelanjaan di atas lahan tersebut. Selain itu, Danantara juga berencana membeli tanah yang berjarak 400–600 meter dari Masjidil Haram untuk meningkatkan nilai strategis [5][6][7].


Melansir dari berbagai sumber, Kampung Haji ditargetkan bisa menampung 10–25% atau 200–500 ribu jemaah haji pada 2028. BUMN konstruksi dan pariwisata turut dikerahkan. Dengan begitu, pengeluaran haji yang selama ini menjadi biaya sewa ke luar negeri perlahan diubah menjadi aset investasi milik Indonesia sendiri.


Saudi Vision 2030 Buka Pintu Lebih Lebar


Di sisi lain, Arab Saudi juga tidak diam. Lewat Saudi Vision 2030, Kerajaan menargetkan kapasitas layanan haji naik hingga 5 juta jemaah dan layanan umrah hingga 30 juta jemaah per tahun [8]. Langkah yang diambil termasuk perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, operasi kereta cepat Harmain sebagai penghubung Makkah–Madinah, rencana pembangunan Makkah Metro, serta proses digitalisasi visa lewat platform Nusuk dan Maqam.


Namun, ekspansi ini juga dibarengi pengetatan aturan, termasuk pengawasan lebih ketat terhadap visa non-resmi, yang sempat membuat jumlah jemaah haji global justru sedikit menurun pada 2025 dibanding tahun sebelumnya. Artinya, memperlebar pintu tidak selalu berarti mempermudah jemaah yang masuk.


Emiten BEI yang Berhubungan dengan Perjalanan Haji dan Umroh


Di Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor perjalanan dan pariwisata—termasuk yang berfokus pada layanan religi—termasuk dalam klasifikasi industri Pariwisata & Rekreasi. Berikut adalah sejumlah emiten yang kerap disebut dalam konteks bisnis travel haji dan umrah.

Kode Saham

Nama Emiten

Fokus Bisnis

HAJJ

PT Arsy Buana Travelindo Tbk.

Fokus eksplisit pada jasa perjalanan umrah; bekerja sama dengan PPIU, penyedia hotel Makkah–Madinah, dan maskapai penerbangan. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen hotel.

PANR

PT Panorama Sentrawisata Tbk.

Dikenal lewat brand Panorama Tour & Travel yang berdiri sejak 1972, dengan lini bisnis yang mencakup perjalanan religi.

BAYU

PT Bayu Buana Tbk.

Agen perjalanan senior di Indonesia; cakupan layanannya turut menyentuh segmen ibadah haji dan umrah.

PDES

PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk.

Mengintegrasikan pariwisata, transportasi, dan perhotelan, dengan jejak operasi tur di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Kinerja emiten-emiten ini sangat bergantung pada faktor yang berada di luar kendali mereka. Kebijakan Arab Saudi—kuota haji, aturan visa, hingga pembatasan perjalanan—bisa langsung menekan kinerja seperti yang terjadi saat penangguhan sementara ibadah umrah akibat pandemi. Harga saham emiten-emiten pariwisata pun sempat tertekan, terlebih bagi perusahaan berskala kecil (small-cap) yang cenderung fluktuatif dengan likuiditas terbatas.


Naik-turun harga tiket pesawat dan sewa hotel juga langsung memengaruhi margin di tengah persaingan antara ratusan penyelenggara perjalanan umrah berizin yang membuat pasar ini tetap ketat.


Sebelum mempertimbangkan industri ini, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami oleh investor.


  1. Pahami model bisnis masing-masing emiten. Lihat apakah pendapatan didominasi oleh penjualan tiket, komisi hotel, atau jasa lainnya karena itu memengaruhi struktur margin dan risiko usaha.


  2. Cermati laporan keuangan secara berkala. Perhatikan tren pendapatan, laba bersih, arus kas, dan rasio-rasio keuangan penting lainnya.


  3. Perhatikan faktor musiman. Kinerja emiten travel religi berfluktuasi mengikuti musim haji dan periode liburan panjang.


  4. Waspadai risiko likuiditas saham, terutama small-cap yang biasanya bervolume tipis, sehingga harganya bisa sangat fluktuatif.


  5. Ikuti kebijakan luar negeri, terutama arah kebijakan Arab Saudi soal kuota, visa, dan aksesibilitas bagi jemaah asing.


Garis Bawah


Haji dan umrah merupakan salah satu sektor industri di pasar modal Indonesia yang berakar dari kebutuhan spiritual jutaan umat Islam. Dari sisi bisnis, komersialisasi yang besar melibatkan penerbangan, perhotelan, logistik, hingga investasi lintas negara.


Akan tetapi, jika ingin mengombinasikan pertimbangan nilai dengan prinsip syariah, eksposur tidak harus berhenti pada emiten travel haji dan umrah saja. Pasar modal syariah Indonesia jauh lebih luas: ada ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) yang mencakup seluruh saham syariah tercatat di BEI serta JII (Jakarta Islamic Index) yang berisi saham syariah pilihan dengan likuiditas tinggi.


Referensi




[3] Keppres Biaya Haji 2026 Terbit, BPKH Tegaskan Kesiapan Mendukung Keuangan Haji, https://www.bpkh.go.id/publikasi/siaran-pers/keppres-biaya-haji-2026-terbit-bpkh-tegaskan-kesiapan-mendukung-keuangan-haji






[8] Antisipasi Haji 5 Juta Jemaah, Pemerintah Harus Siap Hadapi Digitalisasi Saudi, https://www.dpr.go.id/kegiatan-dpr/berita/Antisipasi-Haji-5-Juta-Jemaah-Pemerintah-Harus-Siap-Hadapi-Digitalisasi-Saudi-56793


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page