top of page

P/E Ratio IHSG Dibanding Pasar Saham Lain, Sudah Murahkah?

  • 1 hari yang lalu
  • 3 menit membaca

Pada perhitungan akhir Mei 2026, bursa saham global menunjukkan pergerakan valuasi yang sangat bervariasi.


Bagi para investor, fluktuasi ini sering kali memunculkan satu pertanyaan krusial: di tengah laju indeks sekarang, apakah pasar saham Indonesia sedang mahal, atau justru sedang memberikan diskon besar? Untuk menjawabnya, kita tidak bisa hanya menebak-nebak dari pergerakan harga harian maupun dari sentimen sesaat. Kita perlu membedah sebuah indikator utama yang selalu menjadi kompas para investor dan analis pasar modal: Price-to-Earnings (P/E) Ratio.


Apa Itu P/E Ratio Pasar?


P/E Ratio atau PER pasar pada dasarnya adalah cerminan harga yang rela dibayar oleh investor untuk setiap Rp1 laba bersih yang dihasilkan oleh seluruh perusahaan dalam suatu indeks saham.


Jika P/E Ratio sebuah perusahaan mengukur valuasi satu bisnis spesifik, maka P/E Ratio pasar mengukur seberapa mahal atau murah valuasi sebuah bursa saham secara keseluruhan. Metrik ini menjadi barikade utama untuk melihat tingkat optimisme atau pesimisme pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan kemampuan emiten mencetak laba ke depan.


Cara Menghitung P/E Ratio


Secara konsep dasar, P/E Ratio pasar dihitung dengan membagi total kapitalisasi pasar (Market Cap) dari seluruh emiten yang ada di dalam indeks dengan total laba bersih (Net Income) gabungan emiten.


Dalam praktiknya, terdapat dua pendekatan yang paling sering digunakan: Trailing PER (menggunakan laba bersih 12 bulan ke belakang yang sudah terbukti tercatat) dan Forward PER (menggunakan proyeksi atau estimasi laba bersih di masa depan). Hasil perhitungannya akan menghasilkan satu angka rata-rata tertimbang yang mencerminkan valuasi agregat bursa tersebut.


Valuasi IHSG dalam Lensa Historis: Benarkah Sedang Diskon?


Grafik P/E Ratio IHSG bulanan versus rata-rata

Angka P/E Ratio yang berdiri sendiri belum bisa bercerita banyak. Sebuah indeks baru bisa dikatakan “murah” apabila angkanya saat ini berada jauh di bawah rata-rata historis. Jika kita membedah rekam jejak IHSG selama beberapa tahun terakhir, rata-rata P/E Ratio IHSG berada di level 13,35×.


Dengan P/E Ratio yang saat ini bersandar di level 13,12× per akhir Mei 2026, angkanya terkonfirmasi berada di bawah rata-rata historisnya. Secara matematis, posisi valuasi yang berada di bawah garis rata-rata ini memvalidasi bahwa IHSG memang sedang menawarkan diskon valuasi yang nyata.


Di Balik Label “Murah”: Mengapa IHSG Dihargai Diskon?


  1. Derasnya Foreign Outflow: Terjadi aksi jual dan perpindahan arus modal asing yang keluar dari bursa domestik secara masif.


  2. Melemahnya Nilai Rupiah: Tekanan depresiasi mata uang Rupiah terhadap Dolar AS yang terus berlanjut secara langsung menggerus imbal hasil investor asing dan membebani fundamental emiten.


  3. Ketidakpastian Politik dan Kebijakan Ekonomi: Adanya dinamika politik domestik serta keraguan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan membuat para pelaku pasar memilih untuk menahan diri dan mengambil langkah defensif.


IHSG versus Wall Street & ASEAN: Mana yang Lebih Menggoda?


Selain melihat ke belakang, murah atau mahalnya indeks juga dievaluasi melalui perbandingan cross-border (lintas bursa). Indeks S&P 500 di Amerika Serikat saat ini bertengger di valuasi 31,67×. Tingginya valuasi tersebut sangat terkatrol oleh dominasi perusahaan teknologi raksasa di mana investor rela membayar premi tinggi demi ekspektasi pertumbuhan yang fantastis.


Sementara itu, mari kita adu valuasi IHSG dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN (data per akhir Mei 2026 dilansir dari ceicdata.com):


• Malaysia (FTSE Bursa Malaysia KLCI): 17,17×

• Thailand (SET Index): 16,95×

• Indonesia (IHSG): 13,12×

• Filipina (PSEi): 10,22×


Dari deretan data di atas, posisi IHSG terlihat sangat memikat. Valuasinya terbukti jauh lebih murah dibandingkan bursa saham Malaysia dan Thailand yang sudah menyentuh kisaran 16–17×. Walaupun bursa Filipina mencatatkan angka yang paling murah, IHSG menempati posisi “sweet spot”. IHSG mendapatkan valuasi diskon namun didukung oleh fundamental makroekonomi dan tingkat likuiditas transaksi harian yang sangat kompetitif di Asia Tenggara.


Namun saat membandingkan, harus selalu diingat bahwa karakteristik IHSG sangat dipengaruhi oleh bobot emiten perbankan besar dan sektor komoditas yang secara alamiah memiliki standar valuasi yang lebih konservatif dibandingkan bursa yang sarat dengan sektor teknologi.


Kesimpulan


Berdasarkan peta sebaran valuasi per akhir Mei 2026, angka 13,12× membuktikan bahwa IHSG sedang menawarkan diskon valuasi yang sulit untuk diabaikan, baik saat disandingkan dengan bursa negara maju maupun bursa sesama negara ASEAN.


Situasi pelemahan sementara selama semester pertama 2026 menghadirkan momentum emas untuk mengumpulkan aset berkualitas di bawah harga wajar. Alih-alih sekadar wait and see, manfaatkan momentum ini untuk membeli saham-saham berfundamental solid sebagai fondasi investasi jangka panjang, sembari tetap menjaga diversifikasi portofolio.


Disclaimer: Konten dibuat untuk edukasi atau promosi layanan, bukan rekomendasi jual beli Efek tertentu. Setiap risiko dari keputusan investasi yang diambil dari informasi pada publikasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing audiens. PT KAF Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Komentar


KAF Sekuritas Indonesia

Kontak

Treasury Tower Lantai 28, Unit D, District 8, SCBD Lot 28,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-54, Jakarta - 12190, Indonesia

Pelayanan Nasabah:

(+62) 21 5012 3175 ext. 002
(+62) 811 8853 175
cs@kafsekuritas.co.id

  • Instagram
  • TikTok
  • LinkedIn
  • YouTube

Pelaporan:

(+62) 81 1853 185
wbs@kafsekuritas.co.id

Tautan Langsung

Saluran Utama:

(+62) 21 50123 175

(+62) 21 50123 185

toko bermain
toko aplikasi
OJK_Logo.png
Logo IDX BEI
Logo KSEI
Logo IDClear KPEI
Logo SIPF
Logo LAPS SJK
Logo Inklusi Keuangan

Copyright 2023 oleh KAF Group

bottom of page